Pages

18 January 2016

Hiu



Jepang -yang terkenal dengan makanan khasnya, sushi-, sempat kewalahan memenuhi kebutuhan ikan segar untuk pasar dalam negeri. Nelayan Jepang menangkap ikan salmon lalu membawanya hidup-hidup ke daratan untuk kemudian diolah menjadi hidangan yang lezat. Kesegaran ikan menjadi kunci utama hidangan tersebut dan menjadi tantangan tersendiri bagi para nelayan, karena umumnya ikan akan mati setelah ditangkap. Banyak cara dilakukan, hingga salah satunya adalah membuat kolam buatan di atas kapal yang kondisinya disesuaikan dengan laut habitat si salmon. Namun usaha tersebut masih belum cukup. Masih banyak ikan yang mati begitu kapal penangkap ikan berlabuh. Tak kehabisan akal, para nelayan melakukan hal yang brilian. Ketika menangkap salmon di laut, para nelayan akan memasukkan hiu kecil ke kolam buatan di atas kapal tersebut. Melihat ada predator berenang di sekitarnya, para ikan salmon yang terkenal akan gizinya tersebut menjadi ‘terjaga’. Meski berada di kolam yang notabene berukuran kecil dibanding habitat aslinya, ikan-ikan ini tetap tak ingin menjadi santapan si hiu kecil. Maka mereka berenang, bergerak kesana kemari, menghindar dari si hiu dan menjauhi takdir: wafat sebagai santapan sesama. Alhasil, lebih sedikit ikan yang mati begitu kapal nelayan berlabuh, bahkan nyaris tidak ada.

Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada masalah-masalah yang memaksa kita keluar dari zona nyaman bahkan zona aman. Ketika kita telah melakukan upaya terbaik namun ada saja masalah yang mampir. Ternyata “hiu-hiu kecil” nyaris selalu ada. Ia bisa berbentuk beraneka rupa : karir yang mandeg, pekerjaan yang mulai membosankan, penghasilan yang tidak pernah cukup, orang tua sakit parah, teman yang berkhianat, pasangan hidup selingkuh, anak yang selalu rewel, atau bisa apa saja. Hidup siapa sih yang tidak pernah mendapat masalah, cobaan dan tantangan?

Seperti para salmon -ternyata adanya hiu lah yang membuat mereka tetap hidup-, hadirnya masalah, yang membuat kita ‘hidup’. Tanpa kita sadari, masalah membuat kita kreatif mengakali jalan keluar. Masalah membuat kita tertempa menjadi pejuang. Masalah menjadikan sifat manja, mindset aku-pasti-tidak-bisa, pesimisme dan bahkan mental yang loyo hilang seketika. Bagaimana tidak, biasanya pekerjaan memasak kita gantungkan pada orang tua, lalu beliau sakit keras hingga tidak bisa beraktivitas, apa kita mau makan nasi bungkus tiap hari? Atau misalnya istri yang hanya menerima gaji suami tiap awal bulan, lalu seandainya suaminya berumur singkat, apakah masih akan diam saja seperti semula? Jelas tidak, bukan? Masalah menjadikan kita pemikir, pencari solusi dan pengambil keputusan bijak. Kadang hal tersebut yang tidak kita sadari, kesulitan hiduplah yang membuat kita tak jadi mati, tentu dalam artian konotasi.

Mendapat cobaan hidup yang berat membuat kita bertanya, akankah saya sanggup menjalaninya? Maka pertama ingatlah sabda Sang Pencipta bahwa Ia hanya menguji hambaNya sesuai kapasitasnya. Lalu selanjutnya, tanpa sadar, kita berproses menuju sesuatu yang baik. Kemampuan kita beradaptasi dengan kesulitan ternyata luar biasa, bahkan tanpa kita sangka sebelumnya. Kita tak pernah tahu titik terendah kita karena ketika kita ‘terus berenang’ dalam intaian masalah tersebut, maka kita akan selalu bisa menyudahinya sebagai pemenang.

Lalu, setelah ini jika masalah datang, jangan diratapi. Katakanlah: “Oke, hiunya sudah datang. Mari bergerak wahai diri yang manja dan pesimis. Kita pasti bisa”


pic : googleimage