Pages

09 August 2016

Grow A Day Older

Sekali lagi 9 Agustus saya lalui. Alhamdulillah, segala puji wahai Sang Maha Hidup, telah memberikan kehidupan hingga menginjak usia baru hari ini. Semoga usia yang telah lalu dan yang akan saya tapaki kelak, adalah usia yang dilimpahi keberkahan dan keredhoan. Semoga angka demi angka usia ini tak hanya sia-sia belaka, tapi bermakna bagi keluarga, teman-teman dan orang banyak. Semoga kelak, kapanpun usia ini akan terhenti, kehidupan yang telah saya jalani, adalah kehidupan yang memberi manfaat dan kelegaan bagi orang lain. Aamiinn Ya Rabbal 'Alamiin..

17 March 2016

Word


Raise your words, not your voice
It is rain that grows flowers, not thunder

(Jalaluddin Rumi)


 

22 February 2016

Hak?



Hak, katamu?

Saya tanya lagi, mau berapa senti?
Saya belikan, tak peduli kau perempuan atau laki
Omong besar, berani protes belakang, itu hanya untuk banci
Pakai hak tujuh senti, mungkin akan bikin kau tambah seksi

Hak katamu?
Hakhakhakhakhak...
kelucuanmu bikin terbahak-bahak


pic from http://www.irishmirror.ie

27 January 2016

Menuju Satu Dekade Menulis di Blog



Juni tahun ini, tepat satu dekade saya menulis secara online. Sepuluh tahun. Bukan waktu yang sebentar ternyata. Kilas balik masa sepuluh tahun ini, ternyata banyak cerita antara saya dan blog. Awalnya blog ini adalah blog gratisan, saya mulai dengan domain birutetaplahdamai.blogsopt.co.id. lalu sekian lama terabaikan karena setelah itu saya keranjingan menulis di multiply dengan akun perempuanbiru.multiply.com. Ketika di akhir tahun 2012 multiply mengumumkan bahwa mereka akan mengganti kebijakan webnya bukan lagi situs blog tetapi lebih kepada jual beli secara online (e-commerce), saya segera memindahkan semua tulisan saya ke blogspot. Kembali ke blog ini. Pada saat itulah saya saya sadar, bahwa saya cukup banyak menulis tapi tak pernah benar-benar serius mengelola blog. Status di media sosial, aneka coretan di buku notes, dan memo-memo di handphone terproteksi itu adalah saksinya. Maka demi mengembalikan lagi semangat itu, saya memberanikan diri membayar domain sendiri untuk blog ini. Maka jadilah ia, perempuanbiru dot com.

Kesukaan menulis ini telah saya lakoni sejak duluuuu sekali. Dari zaman pakai seragam merah putih bahkan. Para sahabat tahu persis dengan kebiasaan saya ini. Jauh sebelum saya mengenal blog, saya selalu punya buku tempat menuliskan segalanya. Tak jarang satu dua orang minta saya buatkan puisi, cerpen atau semacam tulisan motivasi, walaupun jarang terpublikasi (majalah dinding, tabloid sekolah dan re-write di status sosmed teman-teman, saya anggap itu publikasi kecil dan nyata J ). Saya punya banyak draft fiksi berbentuk cerpen, yang sampai sekarang masih saya simpan. Satu-satunya karya fiksi tersebut saya ikutkan lomba, meraih juara pertama, diterbitkan di majalah, dibukukan dalam antologi dua tahun setelah itu, tapi itu masih menjadi satu-satunya karya yang dipublikasikan dengan pengakuan.

Blog ini, menjelang usianya yang kesepuluh tahun, menemani saya dalam perjalanan siklus yang terus berulang : ingin kembali menulis blog, membongkar draft lama, ah bagusan bikin tulisan baru, nanti aja mulai lagi menulisnya, kesibukan banyak sekali, saya tidak sempat menulis apapun, diam, buka blog lagi, ingin kembali menulis blog dan seterusnya. Hahaha... begitu terus sampai entah kapan. Padahal melihat ia tergugu di dunia maya, saya pun kasihan. Mengutak-atik tata letak dan tampilan saya lakukan demi menambah semangat mengunjunginya, bahkan ketika berubah domain, saya re-set statistik pengunjung mulai dari nol lagi sebagai pengingat : itu loh lihat, blog kamu dibaca teman-teman, ayo menulis terus!

Dan sekarang, menjelang usianya ke sepuluh, saya memasang adsense, tapi permohonan adsense saya ditolak. Tak apa, ini mungkin sebagai tambahan pecut agar saya kembali rutin menulis. Gooo Adeee!!!


18 January 2016

Hiu



Jepang -yang terkenal dengan makanan khasnya, sushi-, sempat kewalahan memenuhi kebutuhan ikan segar untuk pasar dalam negeri. Nelayan Jepang menangkap ikan salmon lalu membawanya hidup-hidup ke daratan untuk kemudian diolah menjadi hidangan yang lezat. Kesegaran ikan menjadi kunci utama hidangan tersebut dan menjadi tantangan tersendiri bagi para nelayan, karena umumnya ikan akan mati setelah ditangkap. Banyak cara dilakukan, hingga salah satunya adalah membuat kolam buatan di atas kapal yang kondisinya disesuaikan dengan laut habitat si salmon. Namun usaha tersebut masih belum cukup. Masih banyak ikan yang mati begitu kapal penangkap ikan berlabuh. Tak kehabisan akal, para nelayan melakukan hal yang brilian. Ketika menangkap salmon di laut, para nelayan akan memasukkan hiu kecil ke kolam buatan di atas kapal tersebut. Melihat ada predator berenang di sekitarnya, para ikan salmon yang terkenal akan gizinya tersebut menjadi ‘terjaga’. Meski berada di kolam yang notabene berukuran kecil dibanding habitat aslinya, ikan-ikan ini tetap tak ingin menjadi santapan si hiu kecil. Maka mereka berenang, bergerak kesana kemari, menghindar dari si hiu dan menjauhi takdir: wafat sebagai santapan sesama. Alhasil, lebih sedikit ikan yang mati begitu kapal nelayan berlabuh, bahkan nyaris tidak ada.

Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada masalah-masalah yang memaksa kita keluar dari zona nyaman bahkan zona aman. Ketika kita telah melakukan upaya terbaik namun ada saja masalah yang mampir. Ternyata “hiu-hiu kecil” nyaris selalu ada. Ia bisa berbentuk beraneka rupa : karir yang mandeg, pekerjaan yang mulai membosankan, penghasilan yang tidak pernah cukup, orang tua sakit parah, teman yang berkhianat, pasangan hidup selingkuh, anak yang selalu rewel, atau bisa apa saja. Hidup siapa sih yang tidak pernah mendapat masalah, cobaan dan tantangan?

Seperti para salmon -ternyata adanya hiu lah yang membuat mereka tetap hidup-, hadirnya masalah, yang membuat kita ‘hidup’. Tanpa kita sadari, masalah membuat kita kreatif mengakali jalan keluar. Masalah membuat kita tertempa menjadi pejuang. Masalah menjadikan sifat manja, mindset aku-pasti-tidak-bisa, pesimisme dan bahkan mental yang loyo hilang seketika. Bagaimana tidak, biasanya pekerjaan memasak kita gantungkan pada orang tua, lalu beliau sakit keras hingga tidak bisa beraktivitas, apa kita mau makan nasi bungkus tiap hari? Atau misalnya istri yang hanya menerima gaji suami tiap awal bulan, lalu seandainya suaminya berumur singkat, apakah masih akan diam saja seperti semula? Jelas tidak, bukan? Masalah menjadikan kita pemikir, pencari solusi dan pengambil keputusan bijak. Kadang hal tersebut yang tidak kita sadari, kesulitan hiduplah yang membuat kita tak jadi mati, tentu dalam artian konotasi.

Mendapat cobaan hidup yang berat membuat kita bertanya, akankah saya sanggup menjalaninya? Maka pertama ingatlah sabda Sang Pencipta bahwa Ia hanya menguji hambaNya sesuai kapasitasnya. Lalu selanjutnya, tanpa sadar, kita berproses menuju sesuatu yang baik. Kemampuan kita beradaptasi dengan kesulitan ternyata luar biasa, bahkan tanpa kita sangka sebelumnya. Kita tak pernah tahu titik terendah kita karena ketika kita ‘terus berenang’ dalam intaian masalah tersebut, maka kita akan selalu bisa menyudahinya sebagai pemenang.

Lalu, setelah ini jika masalah datang, jangan diratapi. Katakanlah: “Oke, hiunya sudah datang. Mari bergerak wahai diri yang manja dan pesimis. Kita pasti bisa”


pic : googleimage

07 January 2016

No More Resolution!

Judul itu saya ketik ketika saya sadar kalau sekarang sudah tanggal 6 Januari dan saya baru ngeh kalau saya sama sekali nggak ngeh dengan tradisi abal-abal saya dari dulu soal resolusi. I dunno why! Mungkin saya sibuk, mungkin saya bosan atau mungkin seperti postingan saya pada bulan Januari tahun lalu, bahwa resolusi saya tiap tahun adalah resolusi basi ; resolusi semakin banyak membaca dan semakin sering menulis.

Atau saya yang semakin dewasa, (halah), jadi saya tak butuh lagi momentum untuk memulai sesuatu yang baik yang dulu pernah saya punya. Saya hanya perlu membulatkan tekad untuk kembali belajar mencerna kehidupan dengan menulis. Saya hanya perlu sedikit waktu untuk diluangkan agar bisa merayakan kehidupan dengan sesuatu yang abadi, tulisan. Entahlah!

Blog ini, dengan berbagai perubahan domain telah memasuki usianya kesepuluh. Satu dasawarsa. Bayangkan betapa tuanya ia, tak sebanding dengan produktivitasnya, walaupun sesekali saya menerima pesan di dunia maya dari teman atau seseorang yang kebetulan mampir, bahwa tulisan di sini menginspirasi mereka. Perempuan Biru di usianya yang kesepuluh ini lebih sering saya abaikan. Nantilah soal traffic atau layout, kontennya saja tak pernah lagi saya perhatikan. Saya bahkan tak tahu ada film dokumenter dengan judul yang sama yang heboh dibahas di sosial media. Walaupun ini tak ada hubungannya dengan blog ini. Tapi ya begitulah. Saya mungkin tak lagi peka dengan keresahan-keresahan yang biasanya saya tuliskan. 

Maka kali ini, tak ada lagi resolusi. Basi. Jalani sajalah. Hidup setiap hari pun adalah puisi :)


pic from google image