Pages

29 June 2015

Rindu Ini Saya Simpan Dulu


Saya merasa rutinitas buka puasa dan sahur sendirian ini, lama-lama menggerus pertahanan diri saya, pertahanan untuk tidak ‘cengeng dan manja’ dalam hidup. Ada kalanya saya tertegun ketika menyusuri jalan pulang dari kantor, ketika kiri dan kanan jalan terlihat banyak keluarga dengan aktivitas ngabuburit. Ada kalanya saya kesal pada acara sahur di televisi yang gegap gempita menemani sahur saya dengan hidangan yang tak perlu dihidangkan karena sahur seorang diri. 

Ah, jarak ini membunuh saya perlahan, saya sering menghiperbolakan keadaan. Tapi tak pernah saya bangun di pagi hari dengan kondisi yang lebih buruk. Lalu, benarkah saya terbunuh? Ternyata tidak, setiap hati saya terkikis ketika buka puasa dan sahur sendirian, seketika ia sembuh, saat sebait pesan singkat masuk ; “Selamat berbuka puasa, Istri” atau “Selamat sahur, Ade”

Sesederhana itu. Dan saya tahu saya akan baik-baik saja. Dan keyakinan itu masih ada, bahwa jarak tak berarti banyak. Ia hanyalah sekumpulan jeda tempat kami menghimpun rindu untuk kemudian bertemu dengan syahdu, menghitung mimpi-mimpi kami untuk dikalkulasikan perwujudannya.

Dan rindu inipun saya simpan dulu...