Pages

24 April 2015

Buku

Buku itu adalah sahabat pertama saya.
Dari zaman mata mulai bisa mengeja aksara, saya jatuh cinta pd setiap lembarannya. 
Saya mengidolainya, mulai sejak ia adalah barang mewah yg hanya bisa dipinjam dari teman, perpustakaan bahkan dari taman bacaan, hingga sekarang dimana membelinya sudah jd kebutuhan. 

Untuk sahabat saya yg satu ini, saya sangat posessif. Saya ingin memilikinya selalu, lagi dan lagi. Tak peduli walau hanya dlm bentuk jilidan foto kopi. Tapi saya tak pelit berbagi. Saya selalu menyarankan orang lain membaca jika ada buku yg saya rasa sangat bagus, bahkan jika org tsb tak mampu/mau membelinya, saya dengan senang hati meminjamkannya. Walaupun setelah itu tidak dikembalikan lg, saya tdk pernah kapok meminjami buku pd org lain. 

Selayaknya sahabat, hubungan kami pun punya grafik naik turun. Ada kalanya ia mengiringi saya kemana saja, bahkan ke kamar kecil. Tapi ada pula masanya ia teronggok di ujung meja tanpa tersentuh bahkan masih dgn segel plastiknya. Ada saat saya tak pernah lepas darinya, selalu ada di dalam tas, menemani kesendirian dlm angkutan umum, teman tidur bahkan partner keluyuran, tp juga ada masanya ia hanya dijenguk pada akhir pekan. Tapi sebagaimana sahabat, saya dan buku akan selalu bersama, semoga. 

Selamat Hari Buku Sedunia, Semesta!


17 April 2015

Manakala Hidupmu Tampak Susah untuk Dijalani

Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan mejanya. Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah toples mayones kosong yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf. Kemudian dia berkata pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya. Kemudian professor mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia mengguncang dengan ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf.
Kemudian dia bertanya pada para muridnya, Apakah toples itu sudah penuh? Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh. Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan kedalam toples. Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatunya. Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh?
Para murid dengan suara bulat berkata, "Yaa!"
Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.
Para murid tertawa...
"Sekarang," kata profesor ketika suara tawa mereda, "Saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu."
"Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting - Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan para sahabat. Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."
"Batu-batu koral adalah segala hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."
"Pasir adalah hal-hal yang lainnya - hal-hal yang sepele."
"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples," lanjut profesor, "Maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."
"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, kalian tidakakan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian"
"Jadi..."
"Berilah perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu. Luangkan waktu untuk check up kesehatan.

Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah, dan memperbaiki mobil atau perabotan."

"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf - Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya."
Salah satu murid mengangkat tangandan bertanya, "Kalau kopi yang dituangkan tadi mewakili apa? "Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat"