Pages

04 February 2015

Pernikahan

Saya pernah baca cerita tentang filsuf besar Plato yang mengajari muridnya untuk memahami cinta dan pernikahan. 

Plato menyuruh si murid untuk memasuki hutan dan mengambil setangkai bunga paling indah yang dia temui.
“Masuklah ke dalam hutan, bawa setangkai bunga yang paling indah yang kamu temui di sana. Tapi syaratnya, kamu hanya boleh membawa satu saja, dan kamu hanya boleh melangkah maju, tidak boleh mundur ke belakang ke tempat yang sudah kamu lewati sebelumnya. Setelah kamu putuskan pilihanmu, segera bawa bunga tersebut ke sini, kita akan membahas hal itu hari ini”, begitu kira-kira Sang Guru menjelaskannya.

Beberapa lama setelah itu, si murid kembali tanpa membawa apa-apa. Plato bertanya kepada muridnya kenapa ia tak membawa apa yang telah diperintahkan. Si murid menjawab, “Sebenarnya saya tadi telah menemukan sekuntum bunga yang cantik, tapi niat memetik bunga tersebut saya urungkan. Karena saya pikir, di depan sana, saya akan menemukan bunga yang lebih cantik lagi. Karena hanya boleh memetik satu bunga, saya merasa, setiap bunga yang saya temui bukanlah bunga yang paling indah, karena barangkali bunga yang paling indah ada di depan sana. Tanpa sadar saya telah sampai di ujung hutan, saya belum memetik satu pun sedangkan saya tidak boleh kembali, mundur ke jalan yang tadi telah saya lewati. Karena itu, Guru, saya kembali ke hadapanmu dengan tangan kosong”

Sang Guru tersenyum takzim, lalu memberi perintah baru, “sekarang, masuklah lagi ke dalam hutan. Kali ini, bawa satu pohon yang menurutmu terbaik dari dalam hutan”.

Tak lama setelah itu si murid kembali dengan sebatang pohon, yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu indah dengan penjelasan, “Guru, sebenarnya saya tadi menemukan pohon yang besar dan subur, dahannya kokoh dan berdaun lebat. Namun saya sadar, saya pasti akan kesulitan memotongnya dan pasti tidak akan mampu membawanya ke sini. Karena itu pohon tersebut saya tinggalkan. Lalu saya bertemu pohon ini, tidak terlalu besar dan mudah untuk dibawa. Kendati pohon ini bukanlah pohon paling indah di hutan dan saya masih setengah perjalanan, namun saya putuskan pohon inilah yang saya pilih. Saya yakin akan bisa merawatnya dan menjadikannya lebih indah lagi”.

Sang Guru tersenyum, “Muridku, sesungguhnya engkau telah belajar banyak hari ini. Perjalanan pertamamu mencari sekuntum bunga, itu adalah cinta. Jika pilihanmu akan keindahan hanya kamu titik beratkan pada pilihan mata, di sepanjang usia kamu tidak akan pernah menemukan cinta terindah yang akan menjadi pilihan akhirmu. Perjalanan keduamu dengan sebatang pohon itu adalah pernikahan. Kamu belajar dari pengalaman pertamamu, pilihanmu tidak lagi tentang apa yang terlihat oleh mata, tapi kamu telah mengukur diri, menjadikannya pertimbangan bijak dan itu memunculkan tekad untuk terlibat, agar apa yang kamu cari dari sebatang pohon terbaik tidak hanya tergantung dari kondisi pohon tersebut, tapi juga ada upayamu di sana menjadikannya indah.

Well, kitapun bisa belajar banyak dari pelajaran Plato ini. Pernikahan sebagai pelabuhan akhir tempat semua petualangan mencari tambatan hati terhenti. Tapi pernikahan tak pernah statis. Ia adalah rumah tumbuh, tempat segalanya dipelajari kembali dengan sudut pandang yang berbeda. Pilihan menjelang pernikahan biasanya adalah pilihan yang melibatkan subjektivitas romansa di dalamnya. Tetapi ketika pernikahan telah terjadi, ada konsekuensi dari pilihan tersebut, yang akan mengajak kita untuk mengambil keputusan hal paling realistis dari opsi-opsi logis.
Saya bukan ahli dalam bidang ini. Saya hanya suka mengamati untuk kemudian merenungkannya dan kadang-kadang menuliskannya. Tapi menurut saya, tak ada orang yang benar-benar ahli dengan urusan pernikahan. Mungkin yang ada hanyalah mereka yang punya pengalaman lebih dahulu dan lebih lama, atau mereka yang mampu memetik hikmah dari pernikahan mereka dan orang-orang sekitar, untuk kemudian mereka sarikan menjadi nasehat apalagi jika ditambah dengan ilmu kepribadian manusia, maka jadilah ia konsultan pernikahan.
Satu yang pasti, tidak perlu menjadi ahli untuk membangun pernikahan paling sempurna yang bisa kita ciptakan. Ketika kita mengetahui bahwa bahagia adalah hak semua insan, maka keinginan untuk bahagia itulah yang kita komunikasikan dengan pasangan hidup kita agar menjadi tujuan akhir setiap pernikahan. Saling mendampingi, dalam suka dan duka, dalam tangis dan tawa, selalu bersama hingga ke surga dalam keberkahan Sang Maha Cinta, Allah SWT. Tidakkah hal yang demikian begitu indah, paling indah, bahkan di belantara hutan semesta sekalipun.

So, selamat memasuki rumah tumbuhmu, tempat dimana kamu akan belajar, dikoreksi oleh hidup, berubah dan mengubah, berusaha dan diupayakan, berjuang dan diperjuangkan, mengakar, berbunga dan berduri, ditampar-tampar kehidupan, dan bahkan dibuai bahagia tak terkira. 
Selamat tumbuh, Kawan.





Pic from weheartit.com