Pages

25 February 2015

Tentang Harapan dan Kekecewaan

Akhirnya kutipan Tere Liye lah yang membantu saya mengurai keresahan yang saya alami hari-hari belakangan.

"Sebenarnya siapa yang membuat kita kecewa?
Kita sendiri. Bukan orang lain.
Kita tidak akan pernah kecewa jika kita selalu mengendalikan harapan. Mau secanggih apapun orang lain memupuk pesonanya, menimbun perhatiannya, kalau kita sempurna mengendalikan hati, no problem at all. Mau se-PHP apapun orang2 ke kita, kalau kendali harapan itu di kita sendiri, tidak akan mempan."
  
Keresahan saya bukan lagi soal pesona dan timbunan perhatian atau PHP sekalipun, tapi soal rasa kecewa dan mengendalikan harapan. Dulu saya sering bertanya, kenapa seseorang kecewa. Dan segala jawaban yang saya temukan, akan bermuara pada satu titik konklusi : karena seseorang itu berharap. Karena berharaplah, maka seseorang akan kecewa. Lalu apakah dosa jika kita mempunyai harapan? Saya pikir, tidak. Justru sebaliknya, apa jadinya hidup kalau dijalani tanpa berharap. Lalu harus bagaimana? Mungkin dengan mulai menyadari, bahwa harapan dan kecewa adalah dua sisi mata uang yang tidak mungkin dipisahkan.

Maka, di sore ini, saya ‘disentil’ oleh status Tere Liye di laman sosial media. Tentang mengendalikan hati, tentang mengendalikan harapan. Harapan, muncul dari sebuah kewajaran kehidupan. Karena ketika ia dibentuk begitu muluk, maka bolehlah ia disebut angan-angan. Seseorang bekerja, berharap akan dapat penghasilan. Seseorang berbuat baik, berharap akan diperlakukan baik pula oleh orang lain. Dan seterusnya. Kewajaran. Kewajaran ini yang kemudian harus distandarkan, apalagi jika harapan itu melibatkan orang lain di luar diri sendiri. Tapi bagaimana mungkin, harapan, sesuatu yang abstract, bisa dibuat pakem bakunya? Nah, di sana lah mungkin terjadi apa yang disebut pengendalian tadi.

Ah, ini begitu rumit. Begini saja, ketika anda berharap, maka sewajarnya lah. Kalau anda berharap pada diri sendiri, yang perlu anda lakukan adalah berusaha sekuat tenaga memenuhi harapan itu. Kalau harapan tadi memerlukan keterlibatan orang lain, maka kendalikanlah hati anda. Dan setelahnya, siap-siap kecewa dan terluka, jika harapan anda menguap begitu saja.

Dan kemudian, berbagai fragmen terlintas dalam benak saya. Ditutup oleh adegan di King Cross Station di Peron 9 ¾ pada adegan penutup dari novel dan film Harry Potter seri terakhir, The Deathly Hallows dimana Harry, Ron dan Hermione, mengantar anak-anak mereka dalam perjalanan menuju Hogwarts. Lalu bergantian dengan adegan paling akhir dari novel dan buku 5 CM, dimana lima sahabat, Genta-Arial-Zafran-Riani-Ian berkumpul kembali dengan anak-anak mereka mentransfer ideologi yang dulu mereka yakini selagi muda. Bercerita tentang apa yg mereka lalui, apa yang mereka yakini benar, dan apa yang membuat mereka menghargai sebuah persahabatan.

Ah, ternyata sekarang itu harapan yang muluk. Yang secara kekerabatan dekat dengan angan-angan. Maka, harusnya saya mulai kekecewaan ini sejak masa entah, dimana kata istimewa harusnya tak pernah ada. 

13 February 2015

Without ME, It's just AWESO!

Memberi judul di atas untuk postingan ini adalah efek dari membaca deskripsi di blog barunya ZainalArifin, seorang adik, teman, mantan rekan kerja, yang punya blog baru, yang sepertinya akan membuat saya betah membacanya. “They said Im cool. Period.” Demikian ia menjabarkan dirinya. Saya terbahak pada detik pertama. Detik berikutnya, membenarkan dalam hati. Iyah banget. He’s cool, as always. Pengetahuannya tentang banyak hal, pemikirannya yang di luar kotak, dan sarkasmenya yang sangat cerdas itu saya kagumi sejak dulu. Sarcasme adalah nama tengahnya. Hahaha... Tapi sejak saya mengenalnya, dan itu sudah 10 tahun yang lalu, saya selalu suka membahas banyak hal dengannya. Kadang opini kami bersebrangan, tetapi diskusi dengannya tak pernah menjadi sia-sia. Selalu ada hal baru yang saya terima. Membaca beberapa postingannya, membawa imaji seolah kami sedang duduk di sebuah kafe, dengan rekan-rekan yang lain, membahas ini itu, random, tapi tak pernah tanpa mutu. Kemudian saya sadar satu hal, bahwa ketika seseorang bernas secara pemikiran, maka menjadi penulis yang ulung (walaupun hanya sekedar blog), hanyalah soal waktu.

Saya punya rekan-rekan keren yang blognya sering saya kunjungi. Rata-rata mereka adalah orang-orang yang enak diajak ngobrol tentang apa saja, buah pikir mereka menarik untuk dikulik, baik secara tatap muka, maupun sekedar sekelebat status di media sosial. Tentu hal ini akan semakin menarik ketika itu tertuang dalam sebuah tulisan, entah itu akan dimuat dalam media cetak, atau hanya sekedar notes di laman facebook

Menulis, jelas adalah sebuah keberanian. Bukan hanya sekedar menuangkan pemikiran. Tak sekedar merangkai aksara. Menulis adalah menegaskan diri dalam pusaran sejarah, mengabadikan pemikiran. Saya terbiasa menulis buku harian sejak pakai seragam merah putih. Hingga kemudian punya blog sendiri, menulis membuat saya merasa mampu menyatakan eksistensi diri. Menulis membuat saya merasa keren (virus sejenis They-Said-Im-cool.Period Virus itu ternyata sudah mendarah daging ya, Jay?). Banyak yang memuji, tak sedikit yang mencaci. Tapi melakukan apa sih yang tak pernah punya dua sisi seperti itu? Jadi, kendati grafiknya naik turun, saya akan berusaha untuk terus menulis apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan. Dan saya akan selalu mengapresiasi setiap teman yang mau mulai menulis, karena menurut saya, hanya orang-orang keren yang berani menulis :)


Jika kau bukan anak raja, dan bukan anak ulama besar, maka menulislah!
(Imam Al-Ghazali)

Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.
(Pramoedya Ananta Toer)
                                                                                                                           


pic from weheartit.com
                                                                                                                                                                

04 February 2015

Pernikahan

Saya pernah baca cerita tentang filsuf besar Plato yang mengajari muridnya untuk memahami cinta dan pernikahan. 

Plato menyuruh si murid untuk memasuki hutan dan mengambil setangkai bunga paling indah yang dia temui.
“Masuklah ke dalam hutan, bawa setangkai bunga yang paling indah yang kamu temui di sana. Tapi syaratnya, kamu hanya boleh membawa satu saja, dan kamu hanya boleh melangkah maju, tidak boleh mundur ke belakang ke tempat yang sudah kamu lewati sebelumnya. Setelah kamu putuskan pilihanmu, segera bawa bunga tersebut ke sini, kita akan membahas hal itu hari ini”, begitu kira-kira Sang Guru menjelaskannya.

Beberapa lama setelah itu, si murid kembali tanpa membawa apa-apa. Plato bertanya kepada muridnya kenapa ia tak membawa apa yang telah diperintahkan. Si murid menjawab, “Sebenarnya saya tadi telah menemukan sekuntum bunga yang cantik, tapi niat memetik bunga tersebut saya urungkan. Karena saya pikir, di depan sana, saya akan menemukan bunga yang lebih cantik lagi. Karena hanya boleh memetik satu bunga, saya merasa, setiap bunga yang saya temui bukanlah bunga yang paling indah, karena barangkali bunga yang paling indah ada di depan sana. Tanpa sadar saya telah sampai di ujung hutan, saya belum memetik satu pun sedangkan saya tidak boleh kembali, mundur ke jalan yang tadi telah saya lewati. Karena itu, Guru, saya kembali ke hadapanmu dengan tangan kosong”

Sang Guru tersenyum takzim, lalu memberi perintah baru, “sekarang, masuklah lagi ke dalam hutan. Kali ini, bawa satu pohon yang menurutmu terbaik dari dalam hutan”.

Tak lama setelah itu si murid kembali dengan sebatang pohon, yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu indah dengan penjelasan, “Guru, sebenarnya saya tadi menemukan pohon yang besar dan subur, dahannya kokoh dan berdaun lebat. Namun saya sadar, saya pasti akan kesulitan memotongnya dan pasti tidak akan mampu membawanya ke sini. Karena itu pohon tersebut saya tinggalkan. Lalu saya bertemu pohon ini, tidak terlalu besar dan mudah untuk dibawa. Kendati pohon ini bukanlah pohon paling indah di hutan dan saya masih setengah perjalanan, namun saya putuskan pohon inilah yang saya pilih. Saya yakin akan bisa merawatnya dan menjadikannya lebih indah lagi”.

Sang Guru tersenyum, “Muridku, sesungguhnya engkau telah belajar banyak hari ini. Perjalanan pertamamu mencari sekuntum bunga, itu adalah cinta. Jika pilihanmu akan keindahan hanya kamu titik beratkan pada pilihan mata, di sepanjang usia kamu tidak akan pernah menemukan cinta terindah yang akan menjadi pilihan akhirmu. Perjalanan keduamu dengan sebatang pohon itu adalah pernikahan. Kamu belajar dari pengalaman pertamamu, pilihanmu tidak lagi tentang apa yang terlihat oleh mata, tapi kamu telah mengukur diri, menjadikannya pertimbangan bijak dan itu memunculkan tekad untuk terlibat, agar apa yang kamu cari dari sebatang pohon terbaik tidak hanya tergantung dari kondisi pohon tersebut, tapi juga ada upayamu di sana menjadikannya indah.

Well, kitapun bisa belajar banyak dari pelajaran Plato ini. Pernikahan sebagai pelabuhan akhir tempat semua petualangan mencari tambatan hati terhenti. Tapi pernikahan tak pernah statis. Ia adalah rumah tumbuh, tempat segalanya dipelajari kembali dengan sudut pandang yang berbeda. Pilihan menjelang pernikahan biasanya adalah pilihan yang melibatkan subjektivitas romansa di dalamnya. Tetapi ketika pernikahan telah terjadi, ada konsekuensi dari pilihan tersebut, yang akan mengajak kita untuk mengambil keputusan hal paling realistis dari opsi-opsi logis.
Saya bukan ahli dalam bidang ini. Saya hanya suka mengamati untuk kemudian merenungkannya dan kadang-kadang menuliskannya. Tapi menurut saya, tak ada orang yang benar-benar ahli dengan urusan pernikahan. Mungkin yang ada hanyalah mereka yang punya pengalaman lebih dahulu dan lebih lama, atau mereka yang mampu memetik hikmah dari pernikahan mereka dan orang-orang sekitar, untuk kemudian mereka sarikan menjadi nasehat apalagi jika ditambah dengan ilmu kepribadian manusia, maka jadilah ia konsultan pernikahan.
Satu yang pasti, tidak perlu menjadi ahli untuk membangun pernikahan paling sempurna yang bisa kita ciptakan. Ketika kita mengetahui bahwa bahagia adalah hak semua insan, maka keinginan untuk bahagia itulah yang kita komunikasikan dengan pasangan hidup kita agar menjadi tujuan akhir setiap pernikahan. Saling mendampingi, dalam suka dan duka, dalam tangis dan tawa, selalu bersama hingga ke surga dalam keberkahan Sang Maha Cinta, Allah SWT. Tidakkah hal yang demikian begitu indah, paling indah, bahkan di belantara hutan semesta sekalipun.

So, selamat memasuki rumah tumbuhmu, tempat dimana kamu akan belajar, dikoreksi oleh hidup, berubah dan mengubah, berusaha dan diupayakan, berjuang dan diperjuangkan, mengakar, berbunga dan berduri, ditampar-tampar kehidupan, dan bahkan dibuai bahagia tak terkira. 
Selamat tumbuh, Kawan.





Pic from weheartit.com