Pages

29 June 2015

Rindu Ini Saya Simpan Dulu


Saya merasa rutinitas buka puasa dan sahur sendirian ini, lama-lama menggerus pertahanan diri saya, pertahanan untuk tidak ‘cengeng dan manja’ dalam hidup. Ada kalanya saya tertegun ketika menyusuri jalan pulang dari kantor, ketika kiri dan kanan jalan terlihat banyak keluarga dengan aktivitas ngabuburit. Ada kalanya saya kesal pada acara sahur di televisi yang gegap gempita menemani sahur saya dengan hidangan yang tak perlu dihidangkan karena sahur seorang diri. 

Ah, jarak ini membunuh saya perlahan, saya sering menghiperbolakan keadaan. Tapi tak pernah saya bangun di pagi hari dengan kondisi yang lebih buruk. Lalu, benarkah saya terbunuh? Ternyata tidak, setiap hati saya terkikis ketika buka puasa dan sahur sendirian, seketika ia sembuh, saat sebait pesan singkat masuk ; “Selamat berbuka puasa, Istri” atau “Selamat sahur, Ade”

Sesederhana itu. Dan saya tahu saya akan baik-baik saja. Dan keyakinan itu masih ada, bahwa jarak tak berarti banyak. Ia hanyalah sekumpulan jeda tempat kami menghimpun rindu untuk kemudian bertemu dengan syahdu, menghitung mimpi-mimpi kami untuk dikalkulasikan perwujudannya.

Dan rindu inipun saya simpan dulu...

16 May 2015

Kebaikan

Berbuat baik pada orang yang ketinggian hatinya ada di ujung langit itu adalah sebuah kesia-siaan. Setinggi dan sebesar gunung pun kebaikan yang anda berikan, tetap tidak akan terlihat olehnya.
Lalu, dimana tempat untuk keikhlasan? Keikhlasan hanya untuk mereka yang hatinya ada di bumi. Rendah dan bisa diraih.

pic wallpaperswide.com

24 April 2015

Buku

Buku itu adalah sahabat pertama saya.
Dari zaman mata mulai bisa mengeja aksara, saya jatuh cinta pd setiap lembarannya. 
Saya mengidolainya, mulai sejak ia adalah barang mewah yg hanya bisa dipinjam dari teman, perpustakaan bahkan dari taman bacaan, hingga sekarang dimana membelinya sudah jd kebutuhan. 

Untuk sahabat saya yg satu ini, saya sangat posessif. Saya ingin memilikinya selalu, lagi dan lagi. Tak peduli walau hanya dlm bentuk jilidan foto kopi. Tapi saya tak pelit berbagi. Saya selalu menyarankan orang lain membaca jika ada buku yg saya rasa sangat bagus, bahkan jika org tsb tak mampu/mau membelinya, saya dengan senang hati meminjamkannya. Walaupun setelah itu tidak dikembalikan lg, saya tdk pernah kapok meminjami buku pd org lain. 

Selayaknya sahabat, hubungan kami pun punya grafik naik turun. Ada kalanya ia mengiringi saya kemana saja, bahkan ke kamar kecil. Tapi ada pula masanya ia teronggok di ujung meja tanpa tersentuh bahkan masih dgn segel plastiknya. Ada saat saya tak pernah lepas darinya, selalu ada di dalam tas, menemani kesendirian dlm angkutan umum, teman tidur bahkan partner keluyuran, tp juga ada masanya ia hanya dijenguk pada akhir pekan. Tapi sebagaimana sahabat, saya dan buku akan selalu bersama, semoga. 

Selamat Hari Buku Sedunia, Semesta!


17 April 2015

Manakala Hidupmu Tampak Susah untuk Dijalani

Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan mejanya. Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah toples mayones kosong yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf. Kemudian dia berkata pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya. Kemudian professor mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia mengguncang dengan ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf.
Kemudian dia bertanya pada para muridnya, Apakah toples itu sudah penuh? Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh. Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan kedalam toples. Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatunya. Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh?
Para murid dengan suara bulat berkata, "Yaa!"
Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.
Para murid tertawa...
"Sekarang," kata profesor ketika suara tawa mereda, "Saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu."
"Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting - Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan para sahabat. Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."
"Batu-batu koral adalah segala hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."
"Pasir adalah hal-hal yang lainnya - hal-hal yang sepele."
"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples," lanjut profesor, "Maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."
"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, kalian tidakakan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian"
"Jadi..."
"Berilah perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu. Luangkan waktu untuk check up kesehatan.

Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah, dan memperbaiki mobil atau perabotan."

"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf - Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya."
Salah satu murid mengangkat tangandan bertanya, "Kalau kopi yang dituangkan tadi mewakili apa? "Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat"

23 March 2015

Kepompong


Seseorang sedang piknik di taman ketika ia melihat banyak kepompong di dedahanan semak belukar. Ia mendekat lalu memperhatikan bagaimana seekor ulat yang telah berubah menjadi calon kupu-kupu berusaha keras keluar dari kepompong, menyempurnakan metamorfosisnya menjadi makhluk dengan sayap indah yang akan terbang riang kesana kemari. Tak mudah memang perjuangan itu; keluar dari kepompong yang sempit. Tubuh rentannya menggeliat untuk meretakkan kepompong yang selama ini melindunginya. Ia menggeliat, terlihat kesusahan, namun langit luas menjadi motivasinya. Ia terus menggeliat keluar, dengan susah payah dan akhirnya, berhasil!!! Ia terbebas, sayapnya mengembang, ia melayang. Si ulat melata telah berada di udara, mengepakkan sayapnya dengan ragu di detik pertama, namun kemudian meliuk-liuk dengan gembiranya, memamerkan kemampuan seketikanya kepada temannya yang lain yang masih berjuang keluar dari kepompong. Seseorang tadi terus memperhatikan semakin banyak kupu-kupu yang berhasil keluar. Namun ada satu kupu-kupu yang terlihat paling kesusahan. Entah apa sebabnya, ia masih menggeliat dalam belitan kepompong ketika teman-temannya menikmati udara kebebasan mereka. Ia terus berusaha, menggeliat tak henti namun usaha belum menghasilkan apa-apa. Seseorang tadi merasa kasihan, lalu ia mengambil gunting dari peralatan pikniknya, membantu sang calon kupu-kupu terakhir agar bisa segera menyusul teman-temannya dengan cara menggunting kepompongnya tersebut. Si calon kupu-kupu tersebut akhirnya terbebas, badannya sedikit panjang dan tambun, sayapnya layu. Kedua sayap itu berusaha mengepak, namun tidak cukup kuat untuk membawanya terbang. Ia terjatuh ke tanah dalam keputusasaan. Selamanya ia tidak akan pernah bisa terbang. Seandainya ia bisa bicara, ia akan mengutuk manusia yang menolongnya. Karena dengan proses perjuangannya keluar dari kepomponglah sayapnya akan kuat dan berfungsi pada saatnya, menyempurnakan metamorfosa, dan proses kesusahan itulah yang akan membuatnya menjadi kupu-kupu seutuhnya.

Kisah ini diceritakan suami kepada saya di suatu malam. Ia mendapat kisah ini dari tempat lain, dan menceritakannya karena saat itu saya sedang benar-benar dalam keadaan buruk ketika menerima ‘bantuan’ dari orang lain yang tidak pernah saya minta pertolongannya. Cerita ini menyadarkan saya kebijaksanaan baru. Siapa sangka, menolong ternyata tidak selalu membantu. Pertolongan yang kita berikan justru menghancurkan orang yang kita tolong.

Banyak dari kita, yang entah karena niat baik yang berlimpah, atau mungkin karena semangat ikut campur yang berlebih, menawarkan bantuan pada permasalahan orang lain, bahkan tanpa diminta. Entah sahabat, teman, rekan sejawat, atau hanya kenalan biasa, merasa tergerak ketika melihat ada persoalan pada hidup orang lain. Mungkin ia punya permasalahan yang sama yang telah ia atasi, atau mungkin ia merasa lebih paham mengenai hal tersebut, atau mungkin seperti seseorang di taman tadi, ia hanya berniat baik. Si empunya masalah mungkin tidak akan keberatan dengan sebuah bantuan, malah justru akan berterima kasih, tapi bagaimana kalau ternyata bantuan itu justru malah memangkas proses sebuah perjuangan? Atau bagaimana kalau bantuan yang ditawarkan malah memperburuk keadaan? Mungkin malah bantuan tersebut mengkerdilkan maksimalnya ikhtiar si empunya masalah? Apakah kita masih akan merasa bahwa uluran tangan yang kita berikan selalu akan membuat keadaan orang lain lebih baik? Ternyata tidak bukan? Ternyata tidak selalu pertolongan itu akan membantu.

Semoga setelah ini kita akan lebih bijak lagi dalam menawarkan bantuan. Bantuan saja bisa sangat merugikan, apalagi hanya sekedar komentar dan nasehat yang tidak diminta. Terkadang membiarkan orang lain dengan kepompong dan ikhtiarnya menjalani hidup, memaknai perjuangan, dan kemudian bertahan dalam kesulitan atau berakhir sebagai pemenang bahkan sebagai pecundang sekalipun ternyata bisa jadi adalah sebuah pertolongan yang sangat berharga.


*pic weheartit

20 March 2015

A eulogy

This is a eulogy. I know this post shouldn't entitled as a eulogy, because eulogy is just for someone who passed away. So, forgive me, just hold to this, this eulogy is not for you, my friend. But it’s for our friendship. I think it’s time to say goodbye to it and time to memorize some beautiful things before we bury it or burn it (I think, the last one has a style)

This is a eulogy and like a proper other eulogy, it must be read in some kind of funeral. I should write this a month ago, or several months before? I don't know, when did our friendship pass away? You can tell me, my friend! Oh, sorry, how could u, when it died, you have no single reason to contact me anymore, right? Okay, I just need to write some interesting experiences that have been shared when our friendship was still alive. But I think, it isn't possible to put into words the importance of friendship and how much our friendship meant to me. It positively influenced my life in so many ways and I will miss it. I will miss the time when our friendship full of discussion, random talk, and affection. I don’t miss the awkward moment when we talked about our feeling nor the moment you silenced after that. I just miss our silly thought about past time. I will miss the moment I shared my idea about everything, my future plans and my dreams about future. I will miss the way it made my life get better. I will miss our friendship and anything about it, but you. I will never understand why it ended. I just realize that every mortal thing will die. And our friendship is one of it. However, it isn't an eternal thing.

So, this is my proper goodbye. Did I cry? Yes, I did. But there's nothing else I can do. It died for good reason for you that I will never understand. I just follow the rule; if something left you behind, all you can do is just let it go. I’ll do. I will let it go. Good bye, then!


25 February 2015

Tentang Harapan dan Kekecewaan

Akhirnya kutipan Tere Liye lah yang membantu saya mengurai keresahan yang saya alami hari-hari belakangan.

"Sebenarnya siapa yang membuat kita kecewa?
Kita sendiri. Bukan orang lain.
Kita tidak akan pernah kecewa jika kita selalu mengendalikan harapan. Mau secanggih apapun orang lain memupuk pesonanya, menimbun perhatiannya, kalau kita sempurna mengendalikan hati, no problem at all. Mau se-PHP apapun orang2 ke kita, kalau kendali harapan itu di kita sendiri, tidak akan mempan."
  
Keresahan saya bukan lagi soal pesona dan timbunan perhatian atau PHP sekalipun, tapi soal rasa kecewa dan mengendalikan harapan. Dulu saya sering bertanya, kenapa seseorang kecewa. Dan segala jawaban yang saya temukan, akan bermuara pada satu titik konklusi : karena seseorang itu berharap. Karena berharaplah, maka seseorang akan kecewa. Lalu apakah dosa jika kita mempunyai harapan? Saya pikir, tidak. Justru sebaliknya, apa jadinya hidup kalau dijalani tanpa berharap. Lalu harus bagaimana? Mungkin dengan mulai menyadari, bahwa harapan dan kecewa adalah dua sisi mata uang yang tidak mungkin dipisahkan.

Maka, di sore ini, saya ‘disentil’ oleh status Tere Liye di laman sosial media. Tentang mengendalikan hati, tentang mengendalikan harapan. Harapan, muncul dari sebuah kewajaran kehidupan. Karena ketika ia dibentuk begitu muluk, maka bolehlah ia disebut angan-angan. Seseorang bekerja, berharap akan dapat penghasilan. Seseorang berbuat baik, berharap akan diperlakukan baik pula oleh orang lain. Dan seterusnya. Kewajaran. Kewajaran ini yang kemudian harus distandarkan, apalagi jika harapan itu melibatkan orang lain di luar diri sendiri. Tapi bagaimana mungkin, harapan, sesuatu yang abstract, bisa dibuat pakem bakunya? Nah, di sana lah mungkin terjadi apa yang disebut pengendalian tadi.

Ah, ini begitu rumit. Begini saja, ketika anda berharap, maka sewajarnya lah. Kalau anda berharap pada diri sendiri, yang perlu anda lakukan adalah berusaha sekuat tenaga memenuhi harapan itu. Kalau harapan tadi memerlukan keterlibatan orang lain, maka kendalikanlah hati anda. Dan setelahnya, siap-siap kecewa dan terluka, jika harapan anda menguap begitu saja.

Dan kemudian, berbagai fragmen terlintas dalam benak saya. Ditutup oleh adegan di King Cross Station di Peron 9 ¾ pada adegan penutup dari novel dan film Harry Potter seri terakhir, The Deathly Hallows dimana Harry, Ron dan Hermione, mengantar anak-anak mereka dalam perjalanan menuju Hogwarts. Lalu bergantian dengan adegan paling akhir dari novel dan buku 5 CM, dimana lima sahabat, Genta-Arial-Zafran-Riani-Ian berkumpul kembali dengan anak-anak mereka mentransfer ideologi yang dulu mereka yakini selagi muda. Bercerita tentang apa yg mereka lalui, apa yang mereka yakini benar, dan apa yang membuat mereka menghargai sebuah persahabatan.

Ah, ternyata sekarang itu harapan yang muluk. Yang secara kekerabatan dekat dengan angan-angan. Maka, harusnya saya mulai kekecewaan ini sejak masa entah, dimana kata istimewa harusnya tak pernah ada. 

13 February 2015

Without ME, It's just AWESO!

Memberi judul di atas untuk postingan ini adalah efek dari membaca deskripsi di blog barunya ZainalArifin, seorang adik, teman, mantan rekan kerja, yang punya blog baru, yang sepertinya akan membuat saya betah membacanya. “They said Im cool. Period.” Demikian ia menjabarkan dirinya. Saya terbahak pada detik pertama. Detik berikutnya, membenarkan dalam hati. Iyah banget. He’s cool, as always. Pengetahuannya tentang banyak hal, pemikirannya yang di luar kotak, dan sarkasmenya yang sangat cerdas itu saya kagumi sejak dulu. Sarcasme adalah nama tengahnya. Hahaha... Tapi sejak saya mengenalnya, dan itu sudah 10 tahun yang lalu, saya selalu suka membahas banyak hal dengannya. Kadang opini kami bersebrangan, tetapi diskusi dengannya tak pernah menjadi sia-sia. Selalu ada hal baru yang saya terima. Membaca beberapa postingannya, membawa imaji seolah kami sedang duduk di sebuah kafe, dengan rekan-rekan yang lain, membahas ini itu, random, tapi tak pernah tanpa mutu. Kemudian saya sadar satu hal, bahwa ketika seseorang bernas secara pemikiran, maka menjadi penulis yang ulung (walaupun hanya sekedar blog), hanyalah soal waktu.

Saya punya rekan-rekan keren yang blognya sering saya kunjungi. Rata-rata mereka adalah orang-orang yang enak diajak ngobrol tentang apa saja, buah pikir mereka menarik untuk dikulik, baik secara tatap muka, maupun sekedar sekelebat status di media sosial. Tentu hal ini akan semakin menarik ketika itu tertuang dalam sebuah tulisan, entah itu akan dimuat dalam media cetak, atau hanya sekedar notes di laman facebook

Menulis, jelas adalah sebuah keberanian. Bukan hanya sekedar menuangkan pemikiran. Tak sekedar merangkai aksara. Menulis adalah menegaskan diri dalam pusaran sejarah, mengabadikan pemikiran. Saya terbiasa menulis buku harian sejak pakai seragam merah putih. Hingga kemudian punya blog sendiri, menulis membuat saya merasa mampu menyatakan eksistensi diri. Menulis membuat saya merasa keren (virus sejenis They-Said-Im-cool.Period Virus itu ternyata sudah mendarah daging ya, Jay?). Banyak yang memuji, tak sedikit yang mencaci. Tapi melakukan apa sih yang tak pernah punya dua sisi seperti itu? Jadi, kendati grafiknya naik turun, saya akan berusaha untuk terus menulis apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan. Dan saya akan selalu mengapresiasi setiap teman yang mau mulai menulis, karena menurut saya, hanya orang-orang keren yang berani menulis :)


Jika kau bukan anak raja, dan bukan anak ulama besar, maka menulislah!
(Imam Al-Ghazali)

Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.
(Pramoedya Ananta Toer)
                                                                                                                           


pic from weheartit.com
                                                                                                                                                                

04 February 2015

Pernikahan

Saya pernah baca cerita tentang filsuf besar Plato yang mengajari muridnya untuk memahami cinta dan pernikahan. 

Plato menyuruh si murid untuk memasuki hutan dan mengambil setangkai bunga paling indah yang dia temui.
“Masuklah ke dalam hutan, bawa setangkai bunga yang paling indah yang kamu temui di sana. Tapi syaratnya, kamu hanya boleh membawa satu saja, dan kamu hanya boleh melangkah maju, tidak boleh mundur ke belakang ke tempat yang sudah kamu lewati sebelumnya. Setelah kamu putuskan pilihanmu, segera bawa bunga tersebut ke sini, kita akan membahas hal itu hari ini”, begitu kira-kira Sang Guru menjelaskannya.

Beberapa lama setelah itu, si murid kembali tanpa membawa apa-apa. Plato bertanya kepada muridnya kenapa ia tak membawa apa yang telah diperintahkan. Si murid menjawab, “Sebenarnya saya tadi telah menemukan sekuntum bunga yang cantik, tapi niat memetik bunga tersebut saya urungkan. Karena saya pikir, di depan sana, saya akan menemukan bunga yang lebih cantik lagi. Karena hanya boleh memetik satu bunga, saya merasa, setiap bunga yang saya temui bukanlah bunga yang paling indah, karena barangkali bunga yang paling indah ada di depan sana. Tanpa sadar saya telah sampai di ujung hutan, saya belum memetik satu pun sedangkan saya tidak boleh kembali, mundur ke jalan yang tadi telah saya lewati. Karena itu, Guru, saya kembali ke hadapanmu dengan tangan kosong”

Sang Guru tersenyum takzim, lalu memberi perintah baru, “sekarang, masuklah lagi ke dalam hutan. Kali ini, bawa satu pohon yang menurutmu terbaik dari dalam hutan”.

Tak lama setelah itu si murid kembali dengan sebatang pohon, yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu indah dengan penjelasan, “Guru, sebenarnya saya tadi menemukan pohon yang besar dan subur, dahannya kokoh dan berdaun lebat. Namun saya sadar, saya pasti akan kesulitan memotongnya dan pasti tidak akan mampu membawanya ke sini. Karena itu pohon tersebut saya tinggalkan. Lalu saya bertemu pohon ini, tidak terlalu besar dan mudah untuk dibawa. Kendati pohon ini bukanlah pohon paling indah di hutan dan saya masih setengah perjalanan, namun saya putuskan pohon inilah yang saya pilih. Saya yakin akan bisa merawatnya dan menjadikannya lebih indah lagi”.

Sang Guru tersenyum, “Muridku, sesungguhnya engkau telah belajar banyak hari ini. Perjalanan pertamamu mencari sekuntum bunga, itu adalah cinta. Jika pilihanmu akan keindahan hanya kamu titik beratkan pada pilihan mata, di sepanjang usia kamu tidak akan pernah menemukan cinta terindah yang akan menjadi pilihan akhirmu. Perjalanan keduamu dengan sebatang pohon itu adalah pernikahan. Kamu belajar dari pengalaman pertamamu, pilihanmu tidak lagi tentang apa yang terlihat oleh mata, tapi kamu telah mengukur diri, menjadikannya pertimbangan bijak dan itu memunculkan tekad untuk terlibat, agar apa yang kamu cari dari sebatang pohon terbaik tidak hanya tergantung dari kondisi pohon tersebut, tapi juga ada upayamu di sana menjadikannya indah.

Well, kitapun bisa belajar banyak dari pelajaran Plato ini. Pernikahan sebagai pelabuhan akhir tempat semua petualangan mencari tambatan hati terhenti. Tapi pernikahan tak pernah statis. Ia adalah rumah tumbuh, tempat segalanya dipelajari kembali dengan sudut pandang yang berbeda. Pilihan menjelang pernikahan biasanya adalah pilihan yang melibatkan subjektivitas romansa di dalamnya. Tetapi ketika pernikahan telah terjadi, ada konsekuensi dari pilihan tersebut, yang akan mengajak kita untuk mengambil keputusan hal paling realistis dari opsi-opsi logis.
Saya bukan ahli dalam bidang ini. Saya hanya suka mengamati untuk kemudian merenungkannya dan kadang-kadang menuliskannya. Tapi menurut saya, tak ada orang yang benar-benar ahli dengan urusan pernikahan. Mungkin yang ada hanyalah mereka yang punya pengalaman lebih dahulu dan lebih lama, atau mereka yang mampu memetik hikmah dari pernikahan mereka dan orang-orang sekitar, untuk kemudian mereka sarikan menjadi nasehat apalagi jika ditambah dengan ilmu kepribadian manusia, maka jadilah ia konsultan pernikahan.
Satu yang pasti, tidak perlu menjadi ahli untuk membangun pernikahan paling sempurna yang bisa kita ciptakan. Ketika kita mengetahui bahwa bahagia adalah hak semua insan, maka keinginan untuk bahagia itulah yang kita komunikasikan dengan pasangan hidup kita agar menjadi tujuan akhir setiap pernikahan. Saling mendampingi, dalam suka dan duka, dalam tangis dan tawa, selalu bersama hingga ke surga dalam keberkahan Sang Maha Cinta, Allah SWT. Tidakkah hal yang demikian begitu indah, paling indah, bahkan di belantara hutan semesta sekalipun.

So, selamat memasuki rumah tumbuhmu, tempat dimana kamu akan belajar, dikoreksi oleh hidup, berubah dan mengubah, berusaha dan diupayakan, berjuang dan diperjuangkan, mengakar, berbunga dan berduri, ditampar-tampar kehidupan, dan bahkan dibuai bahagia tak terkira. 
Selamat tumbuh, Kawan.





Pic from weheartit.com

05 January 2015

Resolusi Basi

Kalender di dinding kantor sudah berganti, tapi keinginan untuk semakin banyak membaca dan lebih sering menulis menjadi resolusi basi, seperti gulai daging orang kenduri. Yang terus dipanaskan hingga berubah bentuk. Menyublim dari angan-angan menjadi kemalasan yang padat. 

Apa-apaan ini? Tahun kemaren hanya menulis postingan yang bisa dihitung dengan jari, bahkan sebelah tangan. Percuma punya domain keren. Percuma punya teman yang akan selalu setia membaca setiap tulisan, kalau menulis itu tidak lagi dibiasakan.

Oh menulis... Resolusi Basi.