Pages

06 December 2014

Rumputmu Jauh Lebih Hijau


"Bang, coba lihat deh suami si A, suka posting kata-kata mesra di facebook istrinya" 
"Hm... Biar aja"
"Tapi mau kayak gitu juga, sekali-sekali juga gak apa-apa"
"Mau disayang-sayang di facebook apa di dunia nyata? Hm..."
"Mau dua-duanya lah"
"It's not my style, Istri. U know me lah"
"Ya deh ya deh" 
*cemberut dan masih iri*


Seminggu kemudian si A menelepon,
"Say, gimana sih cara bikin mi instan rebus yang telurnya itu pas matang kuningnya"
"Ya ampun, Say. Kamu udah bikin segala cuisine tapi masih nanya cara bikin mi instan?"
"Iya, hiks... Laki gw minta sarapan mi rebus, tapi kuning telurnya musti matang pas, gak boleh lumer, tapi juga gak boleh keras. Ini sudah mangkok ketiga, dia masih gak mau makan, nyuruh bikinin lagi. Ini gw udah mau nangis di dapur dia ngomel di meja makan, bilang gw gak becus jadi bini"

Ah, rumputmu jauh lebih hijau, tapi kamu melihatnya pakai sunglasses.



PS: anggap aja ini cerita fiksi, si A dan suaminya hanyalah cara Tuhan mengingatkan saya secara pribadi.

05 September 2014

Dear Ricki Setiawan...


Selamat hari lahir, Boss!

Apa rasanya bangun pagi ini sendirian di kost-an, menghirup udara hari pertama usia 31 tahun? 
Hm… Pasti jawabannya : “biasa aja”. Hehe… That’s you, just the way you are, the simplest person that I ever known. And this morning, I’m writing this post to substitute a good morning kiss to celebrate your birthday. Making this day become a special day without a special gift or special celebration. The risk of long distance marriage, I couldn’t be around you today to congratulate you directly *sigh*
Selamat merayakan kehidupan, Abang!


Tetaplah menjadi sosok yang Ade kagumi sejak dulu. Tetaplah menjadi seperti itu, seperti yang pernah Ade tulis beberapa tahun yang lalu, dalam postingan yang seolah tertuju entah pada siapa, tulisan tanpa tujuan, karena pada waktu itu rasa hanya bisa dihadirkan lewat doa, yang kemudian, Alhamdulillah, bisa menjadi bagian postingan hari ini:

Tentang dia adalah sosok yang menyamankan
hadirnya memberi warna
ketidak-adaannya menyisa rindu
ia tak pernah kehabisan cara membuat dunia tersenyum.
Dia yang tertawa, bicara, hingga bekerja dengan mata yang berbinar
Ia yang begitu antusias membicarakan ide, rencana, mimpi 
bahkan pendapatnya akan segala
mampu membuat saya betah berlama-lama menyimaknya
Bersamanya, saya tak kenal kata bosan
Dia bisa menjawab segala tanya, memberi pertimbangan bijak, membantu memutuskan tanpa mendikte.
Ia tak pernah keberatan mendengarkan kembali cerita yang sama yang bahkan telah saya kisahkan belasan kali. 
Dia mampu menepis keinginan saya untuk menang sendiri, membendung ambisi saya yang kadang terlalu. Motivator yang tak nyinyir, pelit pujian tetapi selalu tulus dalam berkata, tak romantis tapi selalu ada...
 
Semesta, saya jatuh cinta padanya!
Doakan saya ya!  

Dan hari ini, kekaguman yang sama mengiringi harapan-harapan, Abang. Tetaplah bersinar dan berbinar, tetaplah menjadi pribadi penyayang yang sederhana tapi tegas dan bijaksana. Tetaplah menjadi suami yang tulus dan selalu mengerti. Tetaplah menjadi diri sendiri, Suami.


Berada pada awal penambahan angka usia terkadang mengajarkan kita banyak hal. Rasa syukur, refleksi dan rencana-rencana. Selamat merefleksi diri, Suami. Yakinlah, untuk setiap niat baik akan mendapat keberkahan walau terkadang berat untuk dipikul. Ingatlah, ada orang-orang tersayang yang mendukung Abang dengan doa dan keyakinan penuh. Untuk setiap rencana, untuk setiap impian dan visi ke depan, Ade doakan Abang diberi kemudahan dan kelapangan oleh Sang Maha. Agar jalan yang berliku menjadi lebih seru, agar setiap tanjakan menjadi lahan pengabdian dan setiap onak dan duri meningkatkan kualitas diri.


Selamat menyiapkan diri untuk menemani matahari mengelilingi orbitnya sekali lagi dan lagi dan lagi, Suami. Dan hingga entah kelak semua itu berakhir, akan ada Ade yang selalu mengiringi langkah Abang dalam lapang atau sempit, saat senang atau sulit, ketika grafik puncak atau titik terendah, dalam segala, dalam semua, InsyaAllah, bergandengan tangan, dengan senyum. Karena kita sadar bahwa jarak tak berarti banyak. Ia hanyalah kumpulan jeda tempat kita menghimpun rindu untuk kemudian bertemu dengan syahdu menghitung mimpi-mimpi untuk kita kalkulasikan perwujudannya.


I don’t have any gift for you today. Instead of sending a fancy surprising box (like you did last month :) ), I write this to congratulate you, My Hubby.


Selamat ulang tahun, Abang.

Selamat hari lahir, Lelaki Bermata Palungku.

Dirgahayu, Om Dek.

Berbahagialah. Teruslah menjadi alasan bagi kebahagian keluarga, Ricki Setiawan.

Semoga ALLAH SWT menyayangimu, Suamiku, dan mengizinkanmu menyayangi orang-orang tersayang lebih banyak dan lebih lama lagi. Panjang umur, Abang Sayang. Aamiin...



                                                                                    Your ex officemate, your ex neighbor, 
                                                                                              your biggest fan, your wife, 
                                                                                                 The one your other half.


                                                                                                      
                                                                                                              Ade Alifya




Eh, Did I tell you I love you? I will tell it directly. So come home soon, My Boss :)

 
*pic from weheartit

10 August 2014

Dear 10-Years-Ago-Ade Alifya, If U know life is begin at thirty, U won’t that worry!



Dear Ade Alifya di masa lalu, saat ini aku ingin menyapamu. Sebagaimana yang aku –Ade Alifya masa sekarang– lakukan, aku yakin, saat ini, di detik-detik menuju penambahan usia ini, kamu sedang menulis, berbeda dengan caraku sekarang, kamu menulisnya dalam buku kecilmu, yang waktu itu selalu kamu bawa untuk menulis apapun, menempelnya dengan daun dan potongan kertas, bahkan pasir yang dilaminating. Buku itu masih kusimpan sampai saat ini, tak pernah lagi menulisinya, karena kehidupanku yang sekarang –Ade Alifya yang berusia 30 tahun hari ini – membuatku tak lagi menulis di buku harian. Ada sosial media tempat menampung opini iseng dan dangkal, ada rumah digital tempat meluapkan hal-hal yang terpikir (walaupun ini semakin jarang dilakukan), ada aplikasi dalam gadget yang kutenteng kemanapun tempat menulis menggantikan buku harian yang dulu selalu penuh warna. Ade Alifya di tahun 2004, kukatakan padamu, teruslah menulis!! Karena tulisanmu itu yang kelak akan terus kubaca, memberi inspirasi dan mengingatkanku lagi akan naik turunnya grafik hidup.


Dear Ade Alifya yang berusia 20 tahun, saat ini aku menjengukmu kembali. Di hari ini, hari kita selalu punya cara istimewa menjadikannya spesial, aku mencoba mengingat masa satu dasawarsa belakang, hal-hal yang kamu, aku, kita alami, hingga di tahun ini, tahun 2014, masa dimana seorang Ade Alifya menginjak umur 30 Tahun. Kamu akan mengalami banyak hal dalam satu dekade ini, Ade sayang. Teruslah bergiat, untuk apapun yang menurutmu baik dan membantumu menjalani rutinitas matahari terbit dan tenggelam. Ada masa perkuliahan yang membuatmu bangga dengan indeks prestasi semester yang nyaris sempurna, tapi ada pula masanya kamu mengosongkan lembar jawaban ujian semester karena sama sekali tak punya ide apapun untuk ditulis yang berujung pada nilai D di kartu hasil studi. Nikmati saja. Kamu lulus kuliah, bekerja dan setiap harinya kamu akan bersyukur dengan apa yang telah kamu capai. Nikmatilah prosesmu, Ade Alifya yang berusia 20 tahun. Senikmat kamu bercuap-cuap di radio, memutarkan lagu dan kemudian menyusun program dengan para manusia keren yang kelak akan kamu rindukan keberadaannya. Senikmat kamu latihan teater dan menonton pertunjukan-pertunjukannya dengan para sejawat yang membuat hari-harimu tak lagi pernah sama. Senikmat kamu menelusuri daerah-daerah baru, dalam misi penelitian, survey, petualangan, reportase, pekerjaan dan bahkan hanya keluyuran. Dekade ini adalah dekade emasmu untuk berpergian dengan tas punggung dan sepatu kets. Nikmatilah, karena ini akan sangat kamu rindukan ketika usiamu menginjak 30 tahun. Yess, I miss those moments so badly as well!


Juga soal hati, jalani dan nikmati sajalah. Saat ini, sepuluh tahun yang lalu, kamu mungkin merasa berada dalam grafik bawah hidup. Pertama kali kamu serius membagi kedalaman hati dengan seseorang ribuan hari lamanya, kandas dalam beberapa minggu setelah kamu merayakan ulang tahun ke 20. Masa saat ini, 9 Agustus 2004, adalah masa dimana kamu merasakan kebimbangan luar biasa, tapi kalah oleh sebuah pertanyaan besar, kenapa hubungan manusia berusia muda sebegitu mengkhawatirkan bagi orang tua yang takut akan masa depan. Masa-masa itu adalah masa dimana kamu memilih bahwa mencintai diri sendiri dan keluarga adalah jauh lebih penting dari pada perasaan yang baru kamu jalani dalam ribuan hari. Kemudian, satu dekade ini kamu akan diajak bermain roaller coaster oleh hati dan perasaan. Beberapa tahun sesudah itu, lukamu sembuh untuk kemudian digores lagi oleh belati yang sama di bagian hati yang berbeda. Dan percayalah,  itu semua akan kamu senyumi ketika kamu berusia 30 tahun. Yah, andai kamu tahu, saat ini, aku sedang tersenyum, mendapat hikmah dari grafik hati yang naik turun dalam sepuluh tahun terakhir. Dan jangan khawatir, di ujung usia 20-an mu, kamu menemukan tambatan hati yang sebenarnya. Buah dari Firman Sang Maha Cinta yang kamu yakini dari dulu, bahwa perempuan baik untuk lelaki baik dan begitu pula sebaliknya. Kamu akan ‘berdamai’ dengan standar baku yang kamu ciptakan, karena sosok yang kelak kamu imami ini tak terdefenisikan oleh standar-standar dangkalmu itu. Kamu tidak akan berjodoh dengan pria romantis impianmu, tapi dengan lelaki yang akan mengingatkanmu untuk sholat, makan, dan istirahat tepat waktu. Kamu tidak akan mendapatkan sobekan puisi di balik bantal setiap pagi sebagaimana khayalan picismu saat itu, yang ada ialah pria yang membuatkanmu telur dadar ketika kamu sakit dan tidak berselera makan, atau yang membantumu mencuci piring ketika kamu harus pulang kerja kelewat larut. Bukan pria yang akan menyanyikanmu lagu romantis dengan gitar di bawah sinar bulan purnama, tapi lelaki yang mendengar keluh kesahmu kemudian mengusap dahimu, menggenggam jemarimu dan berkata bahwa kamu adalah sosok luar biasa yang ia percayai mampu atasi tantangan yang bahkan kamu tak yakin mampu menghadapinya. Lelaki itu, yang kelak menjadi inspirasimu menulis seribu puisi, yang akan kamu panggil lelaki bermata palung, akan mengucapkan kabul dengan tegas dalam genggaman tangan ayahmu, mengikrarkan di depan keluarga dan para sahabat bahwa ia akan menjagamu dunia akhirat. Percayalah, bahkan seribu puisimu pun belumlah tuntas, ia telah membuatmu bahagia sejak detik pertama kalian berjanji akan terus bersama hingga ke surgaNya.


Syukurilah setiap hari yang kau lalui, Ade Alifya yang berusia 20 tahun. Syukurilah apapun. Jangan cemaskan hari esok, karena Sang Maha telah menyiapkan skenario terbaik untuk kamu perankan secara realis. Dekade ini penuh warna, pernah dengan isak tangis, banyak senyum dan tawa, tak jarang dengan kebanggaan, pun ada keterpurukan dan kekalahan, maka jalani saja. Kelak, di usia 30 tahun mu, kamu akan menjadi pribadi yang melihat segalanya dengan cara yang berbeda dengan caramu hari ini. Dasawarsa ini, kamu memberi dan menerima cinta dari keluarga melebihi apa yang bisa kamu bayangkan. Para sahabat datang dan pergi tapi kepedulian mereka selalu menguatkan diri. Bertemu teman-teman baru dengan petualangan seru. Menjejaki negeri asing untuk kemudian menandainya sebagai tempat yang menghangatkan hati. Kompleksitas interaksi. Aneka rupa, bahkan hal tersebut belum pernah kamu bayangkan saat itu. Karena itu, Ade Alifya yang berusia 20 tahun, selamat merayakan kehidupan. Tak ada yang perlu kamu risaukan. Kegamanganmu pada saat itu adalah hal wajar yang mengawali visimu ke depan. Usia mudamu memberimu pada keragu-raguan yang nantinya justru akan membawamu pada ketetapan hati atas keputusan pilihan-pilihan. Silahkan, ambil keputusan terbaikmu, dengan pertimbangan segala sisi. Kelak, ada hal yang akan kamu sesali, tapi tak jarang, aku, Ade Alifya hari ini, bersyukur atas keputusan yang dulu kamu ambil dengan sepenuh hati.

Capaianmu sepuluh tahun lagi, capaian ku hari ini, adalah capaian hidup terbaik yang bisa kita raih. Terbaik menurut standar kita, The Ade Alifya. Karena hanya kitalah yang tau apa yang paling pantas untuk diri sendiri dalam menjalani kehidupan dengan cara terbaik yang kita bisa. Jadi, terima kasih, telah mewarnai satu dekade ini. Aku berjanji, akan menjadi pribadi yang lebih baik, sehingga satu dekade lagi, jika Sang Maha memberi kita umur panjang, Ade Alifya yang berumur 40 tahun, berterima kasih pada kita, padamu dan padaku, karena kita menuntun arahnya menuju hidup yang berguna dan berwarna.


Jadi, Ade Alifya yang berusia 20 tahun waktu itu, diriku di masa lalu, andai saja kamu tahu dan mengerti apa yang pernah dikatakan orang bijak, bahwa “kehidupan” justru baru dimulai pada usia 30 tahun, maka pasti kamu tak akan pernah merisaukan apapun pada waktu itu. 


                                                                                                             I love U, Ade Alifya!