Pages

26 February 2013

First Impression

It won't be easy for me, but I will face it with smile. Dinilai buruk oleh orang lain bahkan sebelum melakukan apa-apa itu tidak adil, sangat tidak adil.
Saya percaya tidak akan ada yang sia-sia dari ini semua. Tuhan tidak tidur, tak pernah tidur!

:(

Published with Blogger-droid v2.0.10

10 February 2013

Friendship or Friendshit?


Im trying hard to sound more friendly instead sarcastic when I say that title. But I think, I'm not get it :)
So, whatever! Let it be... Have U ever ask Ur self about Ur relationship with some friends, is it friendship or friendshit? I did.

Saya belakangan sering bertanya pada diri sendiri tentang itu, mencoba menganalisa dengan kesungguhan niat untuk objektif menelaahnya. Saya buat pakem-pakem yang akan menyatakan satu hubungan masuk dalam kategori friendship dan atau malah sebaliknya. Saya usahakan pakem-pakem ini adalah pakem universal, dan tak hanya opini dan standar yang saya pakai yang menjadi acuan.

So, the result is... *drum roll* I have both of them... Friendship and friendshit around me.

Life is like a coin, have two sides that opposite each other, and friendship as well. Kita tak akan pernah bisa memilih berinteraksi hanya dengan orang-orang baik saja, hanya berteman dengan orang-orang tertentu saja. Bahkan ketika diantisipasi dari awal, tetap banyak yang akan kecewa, mengecewakan dan dikecewakan. Lalu, kita bisa apa?

Saya pernah membaca dan sepakat dengan itu, bahwa ketika tahu jalanannya berbatu, maka kitalah yang harus pakai sepatu. Itu akan jauh lebih menghemat energi dibanding membersihkan semua batu itu. Kita tak akan pernah bisa menjaga agar semua teman dan sahabat tidak menyakiti kita, maka tebalkanlah hati untuk itu. Bagaimana mungkin kita mengatur apa yang akan mereka ucapkan dan tidak ucapkan? Karena itu, daripada menghabiskan energi untuk mengatur ucapan/perbuatan orang yang ditujukan untuk kita, maka lebih baik tebalkan hati.

Then I did it. Saya marah luar biasa ketika seorang teman baik bertahun-tahun menyebut saya picik. Saya kesal dengan teman-teman yang di depan terlihat baik-baik saja, tetapi di belakang menceritakan keburukan saya. Saya muak dengan kondisi kepedulian saya pada teman justru dimanfaatkan. Tapi saya bisa apa? Apa yang mereka pikirkan, ucapkan dan lakukan adalah urusan dan tanggung jawab mereka. Maka, dibanding membersihkan semua batu di jalanan, saya memilih pakai sepatu.

Saya marah, kesal dan muak, dan itu semua merusak diri dan hari2 saya. Itu jelas sebuah kerugian. Maka, saya memaafkan, menebalkan hati dan, yaa... Life's go on. Hidup harus jalan terus dan tetap berlanjut.

Ketika saya memasukkan mereka ke dalam kotak friendshit, ketika itu jugalah saya belajar banyak hal. Pengkotakan itu hanya ada di pikiran saya. Mereka ada dan mungkin masih akan terus berinteraksi dengan saya. Melabeli mereka dengan label tidak serta merta membuat mereka jadi lebih baik, jadi orang yang tulus, mampu menjaga lisan dan perbuatan, atau jadi sahabat sejati.

Lalu buat apa, pengkotakan itu ada? Untuk menyadarkan diri saya sendiri, bahwa sebanyak apapun orang-orang yang saya masukkan dalam kotak friendshit saya, lebih banyak lagi orang yang ada di bagian friendship. And it is coloring my life :D

Happy weekend, Pals!

Published with Blogger-droid v2.0.10