Pages

03 January 2013

Tentang aku, kamu dan hal tak terdefenisi yang kita punya


*postingan ini ditulis pada Desember 2011. Entah kenapa baru 'berani' mempostingnya hari ini


weheartit

Menatap laut dari pantai dengan semilir angin selalu mampu membuat imaji terbang jauh, bahkan sejauh ribuan mil menuju tempatmu berada. 

Kamu apa kabar? Mudah-mudahan baik-baik saja ya, tidak terpasung dalam kemonotonan rutinitas seperti yang dulu sering kamu keluhkan padaku. 

Ah... Rutinitas, bahkan dalam posisi bebas tanpa bebanpun kita akan terikat dengan yang namanya rutinitas. 

Bisakah kita bosan?
Bisa, itulah kata sifat yang paling mudah kita katakan ketika kita tak punya kalimat lain untuk menggambarkan perasaan muak akan waktu yang seperti melaju lamban.

Tapi bolehkah kita bosan? Ini yang selalu kita diskusikan, tak pernah menemui kata sepakat. Menurutku, hidup dan bosan, seperti dua sisi mata uang yang tak akan pernah berpisah. Jika kita ingin mengakhiri salah satunya, maka akhirilah keduanya. Tapi kamu selalu punya bantahan untuk itu.

Bagiku, hidup dan rutinitas, mereka begitu membosankan, sebosan menunggu pelayan yang mengulang-ulang pesanan kita di saat rasa lapar sanggup membuat kita melahap apa saja! Hidup dan bosan, begitu rutin, serutin jantung memompa darah, serutin paru-paru berdenyut menghasilkan nafas, serutin kedip mata bahkan tanpa diminta. Karena itu, kendati membosankan kita tidak boleh merasa bosan. Tidak diizinkan bosan, kalau perlu tidak berhak untuk merasa bosan. 

Tahu tidak, kita saling iri dengan kehidupan masing-masing. Kamu, pekerjaanmu, pencapaianmu dan bahkan tempat kamu melabuhkan masa depan pun sering kucemburui. Kamu begitu beruntung! Kehidupan sosialmu bisa kamu capai dengan nongkrong di kafe-kafe, bertemu teman-teman yang punya topik membicaraan yang sama, menonton pertunjukan musik, teater atau apapun, menghadiri konser band favorit, menonton film saat rilisnya masih segar, menikmati aneka kemudahan kehidupan kota besar. Aku iri dengan itu. Tetapi tidak pernah dengki, karena aku tahu kamu harus berangkat kerja pagi-pagi buta agar tidak terkena macet, lalu pulang larut agar umur tak hanya habis di jalan. Untuk bagian itu, aku tidak pernah mencemburuimu.

Tapi kamu pernah bilang iri dengan hidupku. Aku yang kesehariannya akrab dengan semilir angin, riang ombak dan tentu pasir putih. Yang menjelejahi daerah-daerah sulit, tak jarang mendatangi tempat-tempat baru karena tuntutan pekerjaan, walaupun masih berskala lokal,the fact is I’m an adventurer J dan kamu iri dengan itu.

Lalu, cara kita menjalani hidup masing-masing tak jarang bertemu di titik-titik tertentu. Di saat kita lelah dengan pencapaian yang harus terus diburu, di saat kita butuh teman bicara yang bahkan tanpa perlu menyelesaikan kalimat sudah tahu arah pembicaraan kemana, di saat kita memerlukan hal-hal yang kita tidak temukan di keseharian kita. Maka, saat itulah takdir kita bersinggungan. Ringan dan menyenangkan. Mungkin lebih lanjut kamu membahasakannya sebagai sesuatu yang menyamankan.
Kita mulai terbiasa dengan eksistensi satu sama lain. Semacam kebutuhan jika tak ingin disebut kecanduan. Kita mulai berbagi mimpi, rumah idaman, bagpacker keliling Indonesia, liburan ke eropa, sekolah lagi di luar negeri dan mimpi-mimpi lain yang anehnya, dalam waktu bersamaan terlihat mungkin dan tak mungkin diwujudkan. Ada yang kurang dalam rutinitas hari jika kita tidak membahas musik, film, politik, harga cabe keriting, apa warna dasi terbaik hingga anjloknya pasar saham. Random dan masih menyenangkan.

Lalu, masing-masing kita tersadar –entah siapa yang duluan- bahwa ini tak lagi sama. Ada yang berbeda dan jelas mengarah kemana. Entahlah, sampai sekarang akupun bingung mendefenisikannya sebagai apa. Aku tak punya jawaban apa-apa jika ditanya, seperti apa aku memaknainya. Maka sejak detik itu, sejak percakapan dunia maya malam itu, kita menjadi berbeda, asing dan mulai membuat pagar. 

Hari berganti. Ketidakjelasan semakin menguasai prasangka. Lalu aku sampai pada kesimpulan, bahwa kebosanan kita akan hidup dan rutinitaslah yang membuat kita –aku dan kamu- larut. Dunia kita yang berbeda memiliki kemiripan, dunia yang terdiri dari orang-orang dengan seragam. Seragam pakaian dan seragam pemikiran. Dunia yang berlari kencang agar tak tergilas. Dunia yang dalam berlarinya tak sempat melihat pemandangan di kiri kanan. Karena itu kita membutuhkan sesuatu yang tak sama, sesuatu yang di luar kotak, membutuhkan pribadi unik atau orang-orang yang kamu sebut uncommon people. Di sinilah kita saling mencari dan saling menemukan sekaligus. 

Tapi hidup harus terus berlanjut. Kebuntuan tak harus tumbuh dan berbunga lagi. Aku bukanlah perempuan penyandera. And I know U are not a man who can’t be moved. Kita tak perlu mengakhiri apapun, karena kita tak pernah memulai apapun. Aku, Kamu adalah orang-orang yang dipilih takdir, dipertemukan semesta untuk saling menyadarkan banyak hal dalam hidup dan kehidupan. Kita tak perlu lagi buntu dan tergugu dalam mendefenisikan arti hadir masing-masing. Aku dan kamu, selamanya akan begitu. Dan kuharap begitu. 

Kelak, kita akan bercerita pada pasangan dan anak cucu kita masing-masing, bahwa kita pernah mempunyai -dan akan selalu memiliki- orang-orang di luar kotak yang tak tergilas gilanya kebosanan hidup dan rutinitas. Aku bersyukur pernah mengenalmu, berterima kasih banyak pada kebersamaan kita dan pada hal tak terdefenisi yang kita  punya.