Pages

19 January 2013

Ada Apa Dengan Empati?


Postingan ini saya tulis saat suhu tubuh cukup tinggi dan nyeri di sebagian kaki kiri. Saya pikir, saya harus tuliskan ini. Telah lama hal ini merisaukan saya, sering saya utarakan dalam status di media sosial, tapi kali ini saya ingin menyampaikannya dengan lebih detail. Saya mengalami musibah dan yang lebih menyakitkan saya ternyata bukanlah luka fisik, tetapi perasaan nelangsa ketika orang-orang sekitar tak lagi punya empati


Sore yang mendung, ketika saya dan mama melakukan perjalanan menuju kawinan saudara sepupu. Motor melaju pelan, hanya 40 km/jam. Mama saya takut kalau naik motor kencang-kencang. Tapi malang tak dapat ditolak. Kendati sudah hati-hati, lobang di jalanan yang tertutup air hujan jadi penyebab motor tidak stabil, dan saya tidak ingat persis prosesnya, yang saya tahu, kami tergolek di pinggir kiri jalan, dengan motor rebah menghimpit kami berdua. Saya diam sejenak, segera melihat kondisi mama saya. Kakinya berdarah, lecet dan tersungkur. Saya bantu beliau berdiri, saya dudukkan di pinggir jalan yang lebih aman. Saya lihat sekeliling, orang-orang tetap lalu lalang. Ada motor yang berhenti, tapi pergi lagi ketika melihat saya bisa bangkit sendiri. Mungkin si pengendara sedang buru-buru. Saya bereskan tas dan helm yang bertebaran. Saya berdirikan motor yang rebahnya agak ke tengah jalan. Saya cari tissu dari dalam tas, saya lap luka-luka kami, pasir-pasir basah yang menempel dan mengotori pakaian kami, dan saat itu saya takjub. Belum ada yang menghampiri kami. Jangankan untuk membantu, untuk bertanya apakah kami berdua baik-baik saja, tidak ada yang datang. 


Saya lihat sekeliling. Posisi kami terjatuh berada di depan sebuah bengkel dengan sekitar 5 pekerja yang sedang sibuk, di sebelahnya ada toko aksesoris kendaraan, beberapa meter sebelumnya ada mini market dengan beberapa orang sedang berada di dekat pintu masuk. Saya nelangsa. Mencoba berpikir positif mungkin pekerjaan mereka deadline, mungkin mereka tidak boleh meninggalkan posisi atau ada bom yang akan meledak jika mereka bergerak menuju kami. Entahlah... Saya pun tak tahu apa yang saya harapkan dari reaksi mereka atas peristiwa yang saya alami. Tapi mungkin rasanya akan sedikit melegakan jika ada yang datang, kalaulah tidak menawarkan segelas air, bertanya apa kami berdua baik-baik saja pun rasanya sudah cukup. 


Ada apa dengan empati? Keinginan untuk menolong, meleburkan emosi menjadi sama dengan emosi orang lain yang sedang mengalami kejadian yang tidak menyenangan, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan  pikirkan, mengaburkan garis antara diri sendiri dan orang lain, ada apa dengan itu semua? 


Saya masih ingat, bocah malang siswa SMP di kota ini yang mengalami kecelakaan saat sedang berada di atas kereta api. Ia terjatuh dari kereta, tersangkut di rel, terlindas dengan kepala terputus dari badan. Entah dalam hitungan keberapa orangg-orang datang mengerumuni, memfoto kondisi korban yang mengenaskan tersebut. Dan foto itu beredar luas. Jangan salahkan teknologi. Justru teknologi yang menampar kita, kemana hati nurani. Bahkan dalam foto-foto yang beredar itu tertangkap bahwa orang-orang di sekitar lokasi melakukan hal yang sama, memegang handphone, mengarahkannya  pada tubuh korban yang mengenaskan, dan mengabadikannya. Tak ada yang punya niat untuk mencari kain, koran atau bahkan daun pisang untuk menutup tubuh bocah malang itu sampai polisi datang.


Ada apa dengan empati? Sebebal itukah kita hari ini? Setiap peristiwa tragis, kita mengabadikannya dan dengan bangga mengupload dan membagikannya. Jika itu membantu merunut tragedi atau membantu identifikasi tak masalah, itupun tidak untuk dikonsumsi umum tanpa filter bukan?  Ini hanya menonjolkan keadaan yang mengenaskan, tanpa etika, tanpa hati. Lalu untuk apa? Tidakkah hati kecil kita mengingatkan, bagaimana kalau keluarga kita yang mengalami kecelakaan tersebut? Apakah hidup kita akan baik-baik saja, tidak akan mengalami tragedi, kecelakaan atau hal buruk lainnya? Bagaimana kalau kita yang berada di posisi itu, adakah yang ber-empati, membantu, dan ikut turun tangan seperti juga merasakan penderitaan yang sama?


Entahlah... Saya pun tak ingin mengklaim bahwa tak ada lagi manusia ber-empati hari ini. Saya tak ingin men-generalisir bahwa semua orang tak peduli dan tak punya nurani. Mungkin masih banyak yang akan melakukan hal sebaliknya dari kejadian-kejadin tadi. Hanya saja mereka tak ada di lokasi itu pada waktu itu. Bisa jadi, mungkin saja. Entahlah...


Dan pertanyaan itu masih tersisa. Ada apa dengan empati?


*pic from jongjava.com