Pages

24 October 2011

Lipsync

Postingan ini saya tulis ketika saya sedang menonton konser GIGI di sebuah televisi swasta. Sederet karya-karya terbaik mereka dimainkan bergantian, formasi lengkap band yang telah eksis dari saya SMP bergantian dengan musisi kenamaan. Dalam hati, sembari ikut bersenandung, saya berkata, ini baru musisi. Bernyanyi. Mengeluarkan kata dengan nada dari mulut, terkadang dengan improvisasi. Merdu dan harmonis. Ini mengobati kerinduan saya akan music show yang berkualitas di pertelevisian kita. Belakangan, acara tesebut menjamur. Dengan berbagai corak dan ragam. Ini juga yang menyebabkan industri musik Indonesia menjadi produktif dari segi jumlah. Penyanyi, baik solo, duet, band, hingga boy/girlband bak jamur sehabis musim hujan. Subur, rame, tapi juga tidak tahan lama.

Karena itu, tak heran, aneka nama datang dan pergi silih berganti. Juga aneka irama. Music show yang tayangnya belakangan saingan dengan program gosip, jumlahnya juga bejibun. Dengan ciri khas yang sama, host seleb yang rame dari segi jumlah dan kemampuan, ABG-ABG dengan ciri-kebanyakan, dan penyanyi-penyanyi yang lipsync.
Saya mencoba mencari padanan kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tapi ternyata tidak saya temuksn. Begitu juga ketika saya mencarinya dalam kamus bahasa Inggris John M. Echols. Arti kata ini juga tidak saya temukan. Maka saya mencoba mendefenisikannya secara bebas dengan pura-pura bernyanyi. Mulut seolah-olah bersenandung, dengan gaya dan aksi semeyakinkan mungkin, tetapi yang kita dengarkan adalah hasil putaran rekaman yang sudah dibuat sebelumnya. Ini sebenarnya adalah penipuan dalam seni. Tapi yang mengherankan adalah, semuanya tahu sedang ditipu, tetapi tetap menikmati.

Saya masih ingat kasus Ashley Simpson beberapa tahun lalu. Begitu ia ketahuan menyanyi lipsync oleh audiens, ia dikecam keras. Fansnya pun mengecam. Publik protes dan berbuntut mundurnya ia dari dunia menyanyi. Begitu hinanya lipsync di luar sana. Belum lagi di daerah Asia Timur (Beijing kalau saya tidak salah). Dalam sebuah acara olahraga internasional, seorang bocah perempuan lucu menyanyi dalam bahasa setempat dengan gaya yang begitu menggemaskan. Ternyata ia cuma lipsync. Sejak saat itu, dikeluarkanlah aturan yang melarang bernyanyi lipsync di depan umum. Betapa hinanya penyanyi yang tampil bernyanyi tetapi tidak bernyanyi, bukan?

Saya tak paham dunia music show live di televisi. Mungkin ada sedikit kerepotan ketika seorang penyanyi harus benar-benar bernyanyi ketika perform. Mungkin peralatan musik perlu di set telebih dahulu, apalagi mereka yang tegabung dalam band. Tetapi rasanya kok tetap gak etis ya, seorang yang menghibur dengan nyanyian, sebenanrnya hanyalah berkomat-kamit di atas pentas, lalu mendapat sambutan. Entahlah, mungkin saya yang aneh ya. Merasa ditipu ketika menonton acara seperti itu. Saya bangga musik Indonesia jsdi tuan rumah di negeri sendiri. Tapi saya sedih, ketika budaya lipsync terus berlanjut. Mending saya buka koleksi MP3 saya, memainkan lagu- Lagu kesukaan saya, dan menikmati hari. Itu saja cukup. Tak perlu performance dari orang-orang yang mengaku penyanyi tetapi bertingkah seperti pantomimers di layar kaca.