Pages

31 August 2011

Catatan Akhir Ramadhan 1432 H

Hey Pals...

I Just wanna take a breath for a moment. Then Say Alhamdulillah. Berjibaku dengan pekerjaan hingga detik-detik terakhir hari kerja, nyaris tidak bisa pulang ke rumah lebaran kali ini, tapi alhamdulillah, Im home, now!

Selalu ada aktivitas rutin yang melelahkan tapi bikin kangen. Masih aja sibuk-sibuk di dapur, padahal kiri kanan sudah takbiran. Tak apalah, yang penting setiap keputusan dan tindakan yang kita buat, karena kita tau persis apa yang kita kerjakan, bukan karena mayoritas dan minoritas.

Well, selamat Idul Fitri, Pals... Dari kutipan sms send to many : semua orang boleh berlebaran, tapi tidak semua orang yang benar-benar ber-idul fitri.

Karena itu, saya ingin kita benar-benar kembali fitrah, maaf lahir batin ya! Segala khilaf dan salah, yang disengaja maupun gak sadar melakukannya, segala keakuan yang menggerus penghargaan kepada orang lain, segala silaturahmi yang terputus karena alasan-alasan tak penting, segala hal yang menyebabkan kita jauh dari jarak maupun kedekatan hati, saya benar-benar minta maaf, Pals.

Saya paling ingin minta maaf, sama ibu-ibu yang kemaren menghardik saya di Pasar Raya Padang, yang katanya saya pelan banget jalannya sehingga dia yang buru-buru jadi ikutan lamban ngantri di belakang saya, padahal saya pelan memang karena di depan saya gak kalah crowded-nya (semua orang berlebaran, toh?) lalu dengan gaya sengak saya tetapi disetel semanis mungkin saya bilang: "Buru-buru buk? Kenapa gak terbang aja?" Saya mendengar hingga beberapa menit sesudah itu, beliau masih kesal dengan celetukan tak penting itu. Maaf ya buk... Andai saja kita friend di fesbuk :)

Once again, selamat Idul Fitri!
Luv U all, Pals!

09 August 2011

27

*(semacam kado memperingati hari lahir untuk diri sendiri) 


Alhamdulillah, di antara kerumitan hari, padatnya rutinitas, titik ke 27 ini saya lewati dengan penuh syukur. Segala puji bagi MU wahai Sang Pemilik Hidup, atas hidup ribuan hari, atas rotasi matahari yang ke 27 kali, atas segala!

27... Ah, saya mencintai angka ini. Karena itu, dulu, angka ini saya jadikan patokan untuk beberapa pencapaian diri, yang ketika saya evaluasi lagi, telah saya dapatkan beberapa di antaranya dengan hasi gemilang, namun ada juga yang perlu direvisi pada beberapa bagian, dan ada juga yang bahkan ketika saya menulis postingan ini sebagai ritual hari jadi, beberapa keinginan yang dulunya saya yakin akan saya penuhi di usia 27, ternyata masih dalam impian dan masuk lagi dalam list pencapaian saya berikutnya.

Fitrah manusia, mau segala! Saya juga! Namun di antara riak hari, saya pun semakin sadar, bahwa hidup bukanlah tentang hasil akhir, bukanlah tentang angka dan jumlah. Maka, sejak itu saya percaya pada proses, meyakini bahwa segala yang saya hadapi, yang saya dapatkan, yang saya lewati, pasti ada makna dan hikmah, karena hidup dan kehidupan takkan mengenal kata percuma. Takkan pernah ada yang sia-sia.

Maka, di antara banyaknya ucapan selamat dari para kenalan, rekan sejawat, teman karib, para sahabat, keluarga tercinta, saya tersungkur dalam bahagia dan haru tiada tara. Alhamdulillah, saya mencintai orang-orang yang ternyata juga mencintai saya. Maka, takkan pernah ada yang sia-sia bukan? Semoga segala doa diijabah, semoga doa yang sama, segala kebaikan juga tercurah untuk kita semua, jadi penerang dalam kelamnya hidup, jadi teropong dalam ketidakjelasan esok, jadi alunan nada dalam cerianya hari, jadi warna-warni dalam indahnya nikmat. Alhamdulillah...

05 August 2011

Menjadi Penonton

(Sebuah catatan ketika membaca komentar orang-orang di pagegroup facebook!)


Menjadi penonton memang lebih mudah. Tinggal melihat, menyaksikan, menonton lalu jika ada yg akan dikomentari maka berkomentar lah.
Mudah sekali, tanpa perlu berjibaku seperti pemain, tanpa perlu berkeringat, seperti pelaku, tanpa perlu menghadang resiko apapun seperti si subjek.


Menjadi penonton memang lebih mudah, hanya tinggal memaki dari sebuah warung, hanya tinggal 'mengatai' si pemain goblok, hanya tinggal mengeluarkan statement kalau pelaku 'bermain-main', hanya tinggal sinis di facebook, hanya tinggal mengomentari, bubuhi dengan sedikit pengetahuan kalau perlu kutip pasal dan ayat undang-undang, maka terlihatlah betapa profesionalnya kita, terlihat betapa kita sangat 'menguasai' padahal, kita adalah penonton, hanyalah penonton!


Setelah ini, saya akan belajar menjadi penonoton yang bijak, tidak akan 'memaki' seandainya wilson Jr golnya tidak masuk, tidak akan mengatai Okto Maniani jika larinya kurang kencang, tidak akan berkomentar lagi jika tim Indonesia belum punya the next yayuk Basuki dan Susi Susanti. Karena menjadi penonton, memang lebih mudah! 


*Ini bukan soal bola! karena Indonesia lolos prakualifikasi world cup. ini juga bukan soal olah raga, saya masihlah penonton yang baik! ini cuma curahan hati! It's sooo personal!