Pages

19 December 2011

mulai berpikir untuk menutup blog ini

belakangan, gak nyaman lagi buka multiply.
dulu, ini tempat saya menulis, tempat saya belajar membuat tulisan, apapun itu!
sekarang, membuka multiply seperti berjalan di trotoar Malioboro Jogja. Memukau, dengan aneka tawaran dagangan.
sepertinya saya tak lagi cocok di sini!
:(  

18 December 2011

Today is mine

Yup, hari ini adalah milik saya!
Karena masa lalu milik kenangan dan masa depan milik ketidakpastian. 
Karena itu saya akan berusaha maksimal untuk hari ini.
Tak mudah, tapi tak ada yang tak mungkin!


Just catch the day!

10 November 2011

Selamat pagi, Hati!


Selamat pagi, hati!
Ini pagi yang tak sama dengan pagi kemaren atau lusa
Bahwa ada rasa yang alpa kita terjemahkan pagi ini
Mari, duduk sejenak denganku di beranda
Menyeruput kopi beraroma melankoli
Mulai mengurai detik lalu, mengeja makna
Pagi dan melankoli, sebenarnya mereka tak pernah padu
Tapi kali ini, aku butuh membiru!  

Selamat pagi, hati!
Aku butuh kau lagi kali ini!

24 October 2011

Lipsync

Postingan ini saya tulis ketika saya sedang menonton konser GIGI di sebuah televisi swasta. Sederet karya-karya terbaik mereka dimainkan bergantian, formasi lengkap band yang telah eksis dari saya SMP bergantian dengan musisi kenamaan. Dalam hati, sembari ikut bersenandung, saya berkata, ini baru musisi. Bernyanyi. Mengeluarkan kata dengan nada dari mulut, terkadang dengan improvisasi. Merdu dan harmonis. Ini mengobati kerinduan saya akan music show yang berkualitas di pertelevisian kita. Belakangan, acara tesebut menjamur. Dengan berbagai corak dan ragam. Ini juga yang menyebabkan industri musik Indonesia menjadi produktif dari segi jumlah. Penyanyi, baik solo, duet, band, hingga boy/girlband bak jamur sehabis musim hujan. Subur, rame, tapi juga tidak tahan lama.

Karena itu, tak heran, aneka nama datang dan pergi silih berganti. Juga aneka irama. Music show yang tayangnya belakangan saingan dengan program gosip, jumlahnya juga bejibun. Dengan ciri khas yang sama, host seleb yang rame dari segi jumlah dan kemampuan, ABG-ABG dengan ciri-kebanyakan, dan penyanyi-penyanyi yang lipsync.
Saya mencoba mencari padanan kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tapi ternyata tidak saya temuksn. Begitu juga ketika saya mencarinya dalam kamus bahasa Inggris John M. Echols. Arti kata ini juga tidak saya temukan. Maka saya mencoba mendefenisikannya secara bebas dengan pura-pura bernyanyi. Mulut seolah-olah bersenandung, dengan gaya dan aksi semeyakinkan mungkin, tetapi yang kita dengarkan adalah hasil putaran rekaman yang sudah dibuat sebelumnya. Ini sebenarnya adalah penipuan dalam seni. Tapi yang mengherankan adalah, semuanya tahu sedang ditipu, tetapi tetap menikmati.

Saya masih ingat kasus Ashley Simpson beberapa tahun lalu. Begitu ia ketahuan menyanyi lipsync oleh audiens, ia dikecam keras. Fansnya pun mengecam. Publik protes dan berbuntut mundurnya ia dari dunia menyanyi. Begitu hinanya lipsync di luar sana. Belum lagi di daerah Asia Timur (Beijing kalau saya tidak salah). Dalam sebuah acara olahraga internasional, seorang bocah perempuan lucu menyanyi dalam bahasa setempat dengan gaya yang begitu menggemaskan. Ternyata ia cuma lipsync. Sejak saat itu, dikeluarkanlah aturan yang melarang bernyanyi lipsync di depan umum. Betapa hinanya penyanyi yang tampil bernyanyi tetapi tidak bernyanyi, bukan?

Saya tak paham dunia music show live di televisi. Mungkin ada sedikit kerepotan ketika seorang penyanyi harus benar-benar bernyanyi ketika perform. Mungkin peralatan musik perlu di set telebih dahulu, apalagi mereka yang tegabung dalam band. Tetapi rasanya kok tetap gak etis ya, seorang yang menghibur dengan nyanyian, sebenanrnya hanyalah berkomat-kamit di atas pentas, lalu mendapat sambutan. Entahlah, mungkin saya yang aneh ya. Merasa ditipu ketika menonton acara seperti itu. Saya bangga musik Indonesia jsdi tuan rumah di negeri sendiri. Tapi saya sedih, ketika budaya lipsync terus berlanjut. Mending saya buka koleksi MP3 saya, memainkan lagu- Lagu kesukaan saya, dan menikmati hari. Itu saja cukup. Tak perlu performance dari orang-orang yang mengaku penyanyi tetapi bertingkah seperti pantomimers di layar kaca.

31 August 2011

Catatan Akhir Ramadhan 1432 H

Hey Pals...

I Just wanna take a breath for a moment. Then Say Alhamdulillah. Berjibaku dengan pekerjaan hingga detik-detik terakhir hari kerja, nyaris tidak bisa pulang ke rumah lebaran kali ini, tapi alhamdulillah, Im home, now!

Selalu ada aktivitas rutin yang melelahkan tapi bikin kangen. Masih aja sibuk-sibuk di dapur, padahal kiri kanan sudah takbiran. Tak apalah, yang penting setiap keputusan dan tindakan yang kita buat, karena kita tau persis apa yang kita kerjakan, bukan karena mayoritas dan minoritas.

Well, selamat Idul Fitri, Pals... Dari kutipan sms send to many : semua orang boleh berlebaran, tapi tidak semua orang yang benar-benar ber-idul fitri.

Karena itu, saya ingin kita benar-benar kembali fitrah, maaf lahir batin ya! Segala khilaf dan salah, yang disengaja maupun gak sadar melakukannya, segala keakuan yang menggerus penghargaan kepada orang lain, segala silaturahmi yang terputus karena alasan-alasan tak penting, segala hal yang menyebabkan kita jauh dari jarak maupun kedekatan hati, saya benar-benar minta maaf, Pals.

Saya paling ingin minta maaf, sama ibu-ibu yang kemaren menghardik saya di Pasar Raya Padang, yang katanya saya pelan banget jalannya sehingga dia yang buru-buru jadi ikutan lamban ngantri di belakang saya, padahal saya pelan memang karena di depan saya gak kalah crowded-nya (semua orang berlebaran, toh?) lalu dengan gaya sengak saya tetapi disetel semanis mungkin saya bilang: "Buru-buru buk? Kenapa gak terbang aja?" Saya mendengar hingga beberapa menit sesudah itu, beliau masih kesal dengan celetukan tak penting itu. Maaf ya buk... Andai saja kita friend di fesbuk :)

Once again, selamat Idul Fitri!
Luv U all, Pals!

09 August 2011

27

*(semacam kado memperingati hari lahir untuk diri sendiri) 


Alhamdulillah, di antara kerumitan hari, padatnya rutinitas, titik ke 27 ini saya lewati dengan penuh syukur. Segala puji bagi MU wahai Sang Pemilik Hidup, atas hidup ribuan hari, atas rotasi matahari yang ke 27 kali, atas segala!

27... Ah, saya mencintai angka ini. Karena itu, dulu, angka ini saya jadikan patokan untuk beberapa pencapaian diri, yang ketika saya evaluasi lagi, telah saya dapatkan beberapa di antaranya dengan hasi gemilang, namun ada juga yang perlu direvisi pada beberapa bagian, dan ada juga yang bahkan ketika saya menulis postingan ini sebagai ritual hari jadi, beberapa keinginan yang dulunya saya yakin akan saya penuhi di usia 27, ternyata masih dalam impian dan masuk lagi dalam list pencapaian saya berikutnya.

Fitrah manusia, mau segala! Saya juga! Namun di antara riak hari, saya pun semakin sadar, bahwa hidup bukanlah tentang hasil akhir, bukanlah tentang angka dan jumlah. Maka, sejak itu saya percaya pada proses, meyakini bahwa segala yang saya hadapi, yang saya dapatkan, yang saya lewati, pasti ada makna dan hikmah, karena hidup dan kehidupan takkan mengenal kata percuma. Takkan pernah ada yang sia-sia.

Maka, di antara banyaknya ucapan selamat dari para kenalan, rekan sejawat, teman karib, para sahabat, keluarga tercinta, saya tersungkur dalam bahagia dan haru tiada tara. Alhamdulillah, saya mencintai orang-orang yang ternyata juga mencintai saya. Maka, takkan pernah ada yang sia-sia bukan? Semoga segala doa diijabah, semoga doa yang sama, segala kebaikan juga tercurah untuk kita semua, jadi penerang dalam kelamnya hidup, jadi teropong dalam ketidakjelasan esok, jadi alunan nada dalam cerianya hari, jadi warna-warni dalam indahnya nikmat. Alhamdulillah...

05 August 2011

Menjadi Penonton

(Sebuah catatan ketika membaca komentar orang-orang di pagegroup facebook!)


Menjadi penonton memang lebih mudah. Tinggal melihat, menyaksikan, menonton lalu jika ada yg akan dikomentari maka berkomentar lah.
Mudah sekali, tanpa perlu berjibaku seperti pemain, tanpa perlu berkeringat, seperti pelaku, tanpa perlu menghadang resiko apapun seperti si subjek.


Menjadi penonton memang lebih mudah, hanya tinggal memaki dari sebuah warung, hanya tinggal 'mengatai' si pemain goblok, hanya tinggal mengeluarkan statement kalau pelaku 'bermain-main', hanya tinggal sinis di facebook, hanya tinggal mengomentari, bubuhi dengan sedikit pengetahuan kalau perlu kutip pasal dan ayat undang-undang, maka terlihatlah betapa profesionalnya kita, terlihat betapa kita sangat 'menguasai' padahal, kita adalah penonton, hanyalah penonton!


Setelah ini, saya akan belajar menjadi penonoton yang bijak, tidak akan 'memaki' seandainya wilson Jr golnya tidak masuk, tidak akan mengatai Okto Maniani jika larinya kurang kencang, tidak akan berkomentar lagi jika tim Indonesia belum punya the next yayuk Basuki dan Susi Susanti. Karena menjadi penonton, memang lebih mudah! 


*Ini bukan soal bola! karena Indonesia lolos prakualifikasi world cup. ini juga bukan soal olah raga, saya masihlah penonton yang baik! ini cuma curahan hati! It's sooo personal!

20 July 2011

Menulis Lagi





Postingan ini saya buat dalam kamar hotel, dalam sebuah urusan kantor ke ibu kota, di antara rasa capek dan keharusan membuat laporan, keinginan untuk menulis tiba-tiba muncul.

Saya tiba-tiba ingin segera menulis, sebelum wajah lelah saya berubah menjadi wajah jenuh, seperti wajah-wajah yang saya temui di gedung-gedung tinggi kota ini. Saya tiba-tiba ingin menulis sebelum waktu benar-benar mahal. Saya separuh yakin, para pekerja yang hidup di sini, punya waktu berdialog dengan diri sendiri, yang bahkan berdialog dengan keluarganya saja adalah hal yang butuh masa khusus. Sedemikian rupakah hidup hari ini?

Dulu, saya selalu menulis. Dari kelas 6 SD saya punya diari, yang saya tulis tiap hari, yang jumlahnya sudah puluhan sampai sekarang tetapi frekuensi ditulisnya semakin berkurang. Dulu saya menulis tak hanya ketika bahagia atau sedih, apapun saya tulis yang bahkan tanpa topik yang jelas. Dulu, bahkan sebelum ada internet, sebelum saya punya blog, sebelum punya akun friendster, facebook, dan twitter saya sudah terbiasa memposting sesuatu di buku kecil saya, kadang dilengkapi foto, potongan kertas, tiket bus, uang kertas, daun, tissu, apapun. begitu pertama kali bikin blog di tahun 2006, saya yakin, blog saya akan terposting setiap hari, sama seperti ritual saya mengisi diari dan buku kecil. Ternyata semangat itu hanya di awal. Semakin ke sini, saya semakin tidak punya motivasi, keinginan, waktu, kesempatan bahkan topik yang akan ditulis, walaupun sesekali saya masih suka menulis di buku kecil. 

Ketika menulis postingan ini, di sebelah saya tergeletak novel terbaru karya penulis best seller. Di sampul depannya, ada tulisan dan tandatangan beliau lengkap dengan nama saya sebagai alamat tujuan tandatangan itu. Buku itu (dan dua buku lainnya) adalah hadiah seorang sahabat, yang selalu memotivasi saya untuk menulis. Karena itu, begitu saya diberi hadiah buku, saya janji akan menulis lagi. Maka tulisan inilah 'pembayar utang', kendati saya yakin belum akan 'lunas'. Sang Sahabat yakin saya berbakat, karena itu dia suka mampir di blog saya yang sudah bersarang laba-laba di dalamnya saking tak terjamah, dan sekarang mempublishnya dalam sebuah media online dimana ia bekerja sebagai editor. saya juga punya beberapa teman yang selalu menanyakan kapan saya mau menulis lagi, teman yang minta selalu ditag jika saya memposting sesuatu, atau orang-orang yang mengaku terinspirasi dari tulisan-tulisan saya.

Dulu, saya membuatkan puisi untuk teman yang jatuh cinta. Dulu, saya menceritakan kisah seorang teman lewat jalinan fiksi saat dia tak mampu berbagi kisah. Dulu, saya mengkonkritkan curahan hati dengan postingan-postingan aneka judul. Dulu, saya mampu berpikir dengan sudut pandang berbeda dan membaginya dengan para sejawat. Dulu, saya seorang penulis meskipun karya saya segitu-gitu saja!
Ah... saya ingin kembali ke masa dulu, dengan dimensi masa sekarang. Semesta, saya ingin menulis lagi!


*pic from google

04 March 2011

Perempuan Merayu

I want to buy you flowers
it's such a shame you are a boy
but when you are not a girl
nobody buys you flowers
...
I'll buy you flowers
like no other girl did before

(Emilie Simon - Flowers)

Seorang sahabat merekomendasikan lagu itu untuk saya dengarkan. Dia tahu persis kenapa lagu itu harus saya dengar. Katanya, saya perempuan gombal. Hahaha...


Dulu, ketika masih jadi penyiar radio, selama 4 tahun siaran, saya menghindari program berbau cinta-cintaan. Yah, kadang pas pergantian jadwal bulanan, kebagian juga. Tapi tetap saya hindari. Alasannya, saya takut larut. Yah, selain alasan 'kisah saya lebih rumit kok ngasih love advice pada banyak orang', saya benar-benar takut larut. Saya suka mengurai kata, dan saya takutkan itu adalah gombalan perempuan. Hal yang tak biasa bagi lingkungan kita saat ini.

Iseng, coba googling kata "perempuan merayu". Yang ada, hampir semuanya, adalah merayu perempuan. Cari lagi "merayu pria", maka yang muncul kebanyakan adalah tips pria dalam merayu wanita. Hahaha... Perempuan memang tidak ditakdirkan untuk merayu. Dari dulu. Sampai sekarang? Entahlah, saya butuh masukan adakah perempuan yang lain yang suka menggombal?

Perempuan merayu? Adakah terdengar sangat tak etis? Terdengar agak bitc*y? Atau justru kita akan sepakat, bahwa bahagia adalah hak semua orang, termasuk perempuan. Karena hati perempuan tidak terbuat dari umbi talas yang dikukus, maka ia juga bisa berkata-kata indah, bisa menyampaikan apa yang dia rasakan, walaupun itu berupa rayuan? Terlepas dari buat siapa rayuan tersebut akan dia keluarkan. Yang jelas, karena saya 'suka' menggombal, saya tak mudah 'digombali'. Hahaha...

Tanpa sadar, saya mengajarkan banyak orang untuk merayu. Para sahabat yang curhat, teman-teman yang minta dibuatkan puisi, atau mereka yang suka baca 'rayuan' saya. Maka, mulai kemaren, saya publikasikan rayuan-rayuan tersebut. Khusus. Tidak berbaur dengan status pahitnya patah hati dan tulisan-tulisan atas banyak kejadian.

Akan mengundang reaksi? Entah. Akan dicemooh banyak orang? Mungkin. Tapi itulah saya! Perempuan Perayu. Toh rayuan tetaplah rayuan, mau dia keluar dari mulut laki-laki atau perempuan.

Kelak, entah siapa yang akan saya hujani dengan semua gombalan saya. Mudah-mudahan ini bisa jadi inspirasi. Ayo, para istri, mulailah merayu, mulailah berpuisi!


27 February 2011

Selamat dini hari!

Tahu tidak, konon katanya, malam yang paling gelap dan paling dingin itu adalah saat-saat menjelang fajar!

Kalau saat ini tersudut di sisi tergelap dan menggigil menahan perih, percayalah, insyaAllah, sebentar lagi fajar datang.
Menerangi dan menghangatkan!

Selamat dini hari!