Pages

11 December 2010

Silaturahmi


Postingan ini saya tulis dalam suasana hati nelangsa. Sangat nelangsa.
Subuh saya dikejutkan oleh sebuah sms dari nomor hp tanpa identitas, yang mengabarkan sebuah berita duka ; orang tua perempuan teman saya meninggal dunia. Saya terdiam, separoh menahan tangis mulai mengenang betapa saya punya banyak kesalahan pada beliau. Beliau, yang dulu pernah dekat dalam keseharian saya, masih muda dan cantik dengan paras keibuan, pernah ada dan hadir dalam masa-masa penuh gejolak saya sebagai remaja. Ah, saya pernah menyakiti beliau, dan bertahun-tahun tak sempat meminta maaf.

Keinginan mengucapkan belasungkawa tertunda, karena setelah itu saya disibukkan aktivitas menghubungi banyak orang untuk meminta nomor hp teman saya yang berduka. Bayangkan, bertahun-tahun kami dekat, mulai dari sebagai tetangga, lalu berubah menjadi teman dekat, meningkat status menjadi teman sangat dekat, lalu berubah lagi menjadi teman saja, dan saya tidak punya nomor hp nya!!! Betapa tidak terpujinya saya!

Ini yang membuat saya ingin memposting pengalaman pagi ini. Saya menyesali silaturahmi yang terputus, hanya karena kami tidak bersinggungan lagi dalam keseharian (terlepas dari siapa yang memulai) lalu kami tiba-tiba mendadak menjadi orang yang tidak saling kenal dan memutus silaturahmi. Padahal dulu, sebagaimana kami memulai interaksi, kami juga mengakhirinya dengan sangat baik.

Kehilangan, apapun bentuk dan alasannya, adalah fitrah. Its human being! Hanya saja, hubungan antar sesama manusia tentulah tidak bisa kita samakan dengan seperti kita punya dompet kesayangan yang lalu dicuri orang, sudah, hilang begitu saja dan goodbye!