Pages

23 September 2010

" Petaka Selalu Datang Dari Orangtua"


"Petaka selalu datang dari orang tua"
Kalimat ini saya kutip dari sebuah cerpen karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Judulnya "Yang Terhormat Nama Saya", yang pernah  dibukukan dalam kumpulan cerpen dengan judul yang sama, dan diterbitkan sekitar tahun 1990an akhir. Isi ringkasnya begini, sebuah hubungan percintaan tidak disetujui oleh orang tua si perempuan. Saking tidak sukanya, bapak si perempuan itu memberi nama anjingnya yang baru lahir dengan nama si laki-laki! Dan cerpen ini bercerita tentang bagaimana perjuangan mereka!

Sebelum melanjutkan catatan ini, saya tekankan, bahwa ini tidak tentang kedurhakaan pada orang tua, ini tentang semua orang bisa saja keliru dalam memutuskan, termasuk orang tua yang kita cintai, dan semoga saja, ketika kita menjadi orang tua, kita tak akan melakukan kesalahan yang sama.

Catatan ini saya buat, karena saya prihatin dengan apa yang sedang dialami sahabat saya. Dan saya yakin, kisah seperti itu bukan kisah yang pertama, bahkan banyak terjadi, dan sepertinya telah dijadikan kisah paten dalam sinetron Indonesia ; sebuah hubungan yang tidak direstui!

Let me take a breath for a moment, yah, hubungan yang tidak direstui! Saya pernah mengalaminya. Anda mungkin juga pernah mengalaminya, teman! Atau sedang mengalaminya? Ah, banyak ending untuk kisah seperti ini? Dunia punya cukup banyak cerita tentang betapa hebatnya sebuah perasaan, yang walaupun ditentang akhirnya akan membuahkan keberanian, berjuang dan kemudian berakhir menjadi pemenang atau bahkan pecundang! Sebut saja, Romeo Juliet? Laila Majnun? Elizabeth dan Bintang dalam film Beth? Siti Nurbaya dan Samsul Bahri? dan lain-lain, dan lain-lain! Ternyata masalah ini sudah ada sejak zaman kuda gigit besi!

Siapa sih yang tidak ingin hidup tentram, mencintai dan dicintai seseorang, direstui oleh kedua keluarga dan kemudian menikah, punya anak, dan berbahagia selamanya! Tetapi hidup tak selalu semudah itu! Poin pertama terlewati, Thanks God, finally I found Him (Her), lalu dibawa ke orang tua, mau dikenalkan, berniat mendekatkan orang-orang yang spesial bagi kita: keluarga (yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik dan menjadikan kita seperti sekarang) dan dia (seseorang yang kata hati kita berkata : inilah temanku menua!), kita ingin mendekatkan mereka, karena mereka sama2 penting. Tapi masalah muncul di sini. Orang tuanya tidak menyukainya! Dengan banyak alasan, mulai dari alasan mendasar perbedaan suku, hingga alasan gak level dalam strata ekonomi sosial, hingga ke persoalan pacar kamu hitam, jelek dan gendut! Hufftt...

Dunia punya cukup banyak bukti, sebijaksananya orang lain, lebih bijaksana diri sendiri dalam memutuskan sesuatu! Benarkah orangtua tau apa yang benar-benar terbaik bagi anaknya? Seorang gadis, mencintai pria miskin. Orang tua si gadis merasa jika anaknya menikah dengan pria ini, anaknya akan susah di masa depan. Padahal, bisa saja si gadis tidak berpikir demikian, karena dia melihat lelakinya ini pekerja keras, akan selalu ada rejeki untuk mereka yang berusaha!
Sepasang ibu dan bapak, tidak menyukai seorang perempuan yang diperkenalkan anak lelaki mereka sebagai pacarnya, karena perempuan itu berperawakan jelek dan gendut, tidak cocok untuk anak mereka yang menurut mereka paling ganteng sedunia! Orang tua tersebut hanya belum tahu, bahwa perempuan ini punya kepribadian luar biasa yang menutupi kekurangan fisiknya, lagipula, jika putranya yang ganteng itu terkena ledakan gas elpiji 3 kilogram lalu wajahnya melepuh, masihkah rupa menjadi pertimbangan dalam mencari jodoh?

Ah, begitu banyak realita, teman! Dan itu masih belum membuka mata banyak orangtua! Sekali lagi, yang saya bicarakan bukan orangtua general, tetapi mereka, orangtua yang berpikir mereka tau yang terbaik untuk anaknya, tetapi memutuskan apa yang terbaik itu hanya dengan pertimbangan sudut pandang mereka sendiri. Mereka tidak mau mempunyai menantu miskin, bukan karena khawatir anaknya akan hidup sengsara, tetapi malu pada tetangga, dan seterusnya dan seterusnya!

Orangtua mana yang tidak terpukul, anak yang dia lahirkan dengan menghadang maut, yang dia besarkan dengan tetes keringat, yang menjadi motivasi sepanjang hidup untuk berusaha memberikan yang terbaik, ketika memilih pasangan hidupnya ternyata menjadi durhaka. Tetapi anak mana yang juga tidak terluka, orang yang dia pilih untuk membangun keluarga kelak juga tidak disukai oleh keluarganya sendiri, keluarga tercintanya, yang  menjadi tauladannya untuk membangun keluarga masa depan. Percayalah, situasi ini sangat menghabiskan energi, menggerus kebahagiaan dan terkadang membuat kita tak mampu lagi bijak dalam mencari jalan keluar! Kenapa tidak duduk satu meja, saling mendengarkan keinginan masing-masing dan kemudian memutuskan yang terbaik itu bersama, tanpa ada kata : "pokoknya!" baik dari orangtua ataupun dari sang anak.

Saya tak ingin menggurui, sungguh tak ingin. Memberi jalan keluar terbaik untuk masalah ini sama halnya menjadi orangtua yang seolah mengetahui yang terbaik untuk anaknya. Menyuruh sepasang pencinta itu untuk tetap go on juga sama halnya menyuruh menjadi anak durhaka, dan ridho Allah tergantung ridho orangtua, begitu juga murkaNYA.
Hanya saja, kita perlu merenung teman, ketika kita mengalami masalah ini. Seberapa besar rasa ini untuk kita perjuangkan segigih itu? Seberapa masuk akal alasan orangtua tidak menyetujui hubungan kita? Seberapa pantas pria (atau wanita) itu kita teguhkan ke tengah keluarga?
Pernikahan tidak hanya tentang dua orang, tetapi adalah juga perkawinan dua keluarga besar. Damainya hidup ketika kita mencintai orang yang juga dicintai keluarga kita. Damainya hidup ketika kita tidak harus memilih, karena dua-duanya bisa kita miliki sekaligus, damainya hidup ketika kita menjadi pribadi merdeka yang berhak memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk kita.

Namun kalau itu tidak terjadi, cukup dengarkan Baginda Rasul yang menyuruh kita memilih pasangan hidup karena ketakwaannya, bukan karena rupa dan hartanya, lalu dengarkan hati, dan kembali bertanya : inikah temanku menua? 
Dan para orangtua tercinta, bukankah di sinetron yang disiarkan di TV saban malam, kita sering gregetan liat para orangtua yang memperlakukan menantunya dengan buruk, yang tidak menyetujui anaknya menikah dengan orang miskin dan sejenisnya, lalu kenapa di kehidupan nyata kita melakukannya? Alangkah buruknya kita, sebuah pernikahan yang notabenenya adalah ibadah menjadi terhalang oleh alasan-alasan yang terkadang tidak masuk akal.

Saya sama sekali tak mahir dalam urusan seperti ini, hanya saja, pengalaman saya mengajarkan banyak. Satu hal yang pasti, adegan paling mengharukan dalam sebuah prosesi akad nikah menurut saya adalah lafadz akad itu sendiri dan proses meminta restu dan maaf dari orangtua kita beberapa jenak sebelum akad nikah dimulai. Pada saat itu, saya selalu menyembunyikan air mata ketika menyaksikannya langsung dalam setiap akad nikah yang saya hadiri.

Semoga bijaksana!


09 September 2010

Catatan 29 Ramadhan 1431 H

Tinggal 1 hari lagi, beres-beres rumah, beres-beres hati, beres-beres diri dan bersiap pulang kampung.
Ramadhan, akankah kita bertemu lagi tahun depan?


Alhamdulillah, terimakasih Wahai Sang Pemilik Keberkahan, atas Ramadhan tahun ini.
Berbeda, penuh warna, syahdu dan akan slalu kurindu.

Padang - Mentawai, Mentawai - Padang, buka puasa di pelabuhan, sahur di lautan, Alhamdulillah...
Puasa di Bumi Sikerei, dehidrasi akut, mengira-ngira jam imsak dan buka, sahur dengan nasi dingin, popmie dan minuman kaleng, Alhamdulillah...


Doa-doa di sudut malam itu, kabulkanlah Yaa Rabb...


Tawa dan tangis, merayakan hari lahir, kelahiran manusia-manusia baru, kepergian ayahanda sahabat, semoga kami mampu memetik hikmah.


Silaturahmi dengan rekan sejawat, bertemu lagi dengan mereka yang selalu mewarnai hari, Alhamdulillah...

Alhamdulillah, keikhlasan ini, tak akan lagi ku mau menjadi orang celaka, yang hari esoknya lebih buruk dari hari ini dan hari kemaren.


So Ramadhan, jumpa lagi tahun depan! InsyaAllah ya! Okey, Pal?!!


* Rekans, Selamat Idul Fitri 1431 H ya! Mohon maaf lahir batin!