Pages

25 August 2010

Berbuat Baik

Saya tak pernah bosan melihat sebuah iklan operator seluler yang sejak sebelum awal Ramadhan sudah marak ditayangkan di semua stasiun televisi.

Ceritanya, seorang esmud kehabisan air di toilet, dibantu oleh buruh bangunan yang lagi kerja dengan membawa slang air, kemudian, esmud tersebut menolong seorang pria tua dan istrinya mendorong mobil, lalu beralih ke adegan pasangan paruh baya itu memberi tumpangan sebuah keluarga kecil, dan keluarga kecil mengajak pasangan tersebut berbuka puasa, dan berakhir dengan diajaknya juga sang buruh bangunan berbuka bersama, nyaris ketika ia tidak bisa berbuka karena menjatuhkan minumannya.

Itulah kebaikan berantai.

Kaum Hindu mengenal istilah karma, dimana setiap perbuatan akan terbalaskan.
Umat Budha akrab dengan istilah gelas budi, yang kalau kita isi terus menerus akan berlimpah dan limpahannya itu yang akan kita nikmati. Islam tidak mengenal hal tersebut. Tapi akrab dalam keseharian kita, para mubaligh mengingatkan kita, bahwa kebaikan seberat biji zarrah pun, akan dihitung dan mendapat balasan yang setimpal. Begitu juga dengan keburukan dan dosa, yang bahkan bersel satu pun akan tetap dicatat.


Tapi terkadang, hidup tak sesimpel iklan. Dalam iklan tersebut, semua pihak yang memberikan kebaikan, mendapatkan balasannya, walaupun yang membalas kebaikannya itu bukan orang yang dia tolong. Tak ada kebaikan yang “tersia-siakan”. Tak ada sang penolong yang tak ditolong.
Dalam kehidupan nyata, hal itu terkadang tak terjadi. Jangankan orang lain yang tidak kita bantu, orang yang langsung mendapatkan kebaikan kita pun, terkadang tidak bereaksi sewajarnya orang yang dibantu. Begitu juga orang yang kita nilai menzolimi kita, kita ingin melihat langsung dia mendapat pembalasannya. Namun ternyata tak terjadi.


Kendati demikian, tetaplah berbuat baik! Kita perbaiki niat, bahwa kebaikan yang kita tebar hanya karena pribadi kita butuh berbuat baik bukan butuh balasan kebaikan.
Kalaupun aksi butuh motivasi, maka jadikanlah pahalaNya sebagai satu-satunya motivasi.


Dan percayalah, yakini dan jangan pernah ragu, sebesar biji zarrah pun (seperti biji bayam(?)) semuanya dicatat, dan seluruhnya mendapat balasan! Kini dan nanti, oleh manusia atau oleh Sang Pencipta. Pun dengan keburukan, penzoliman, serta kesakitan dan kesusahan yang kita timbulkan bagi orang lain. Percayalah, semuanya akan kembali ke kita. Jika tidak dibalas oleh manusia lain, maka tunggulah ia membebanimu di hari semuanya dihitung.


Selamat berbuat baik, Rekans!
Selamat Puasa!