Pages

09 May 2010

Membuka satu pintu dan mengikhlaskan pintu yang lain tertutup (Sebuah catatan untuk kisah lalu yang betumpu pada namamu, Habibi!)


Diri kita cuma ada satu, dan waktu yang kita punya cuma hari ini (karena kemaren adalah sejarah dan esok tak pernah pasti).

Karena itu, kita hanya bisa fokus pada sedikit hal, kendati dengan berbagai dimensi.

Mungkin seseorang pernah jadi suami yang baik di rumah, tapi sekaligus jadi pasangan yang sama baiknya bagi selingkuhannya.
Mungkin seseorang sukses sebagai pegawai, tapi sekaligus sukses juga sebagai wiraswastawan.
Mungkin seseorang bisa menjadi mahasiswa yang baik sekaligus menjadi aktivis yang aktif sekaligus.

Bisa saja. tapi terkadang semua akan sampai pada titik harus memilih, harus ada yang dikorbankan, harus ada yang dikesampingkan.

Lalu, aku hari ini, sampai pada pemahaman bahwa ketika satu pintu terbuka, maka pintu yang lain harus dibiarkan menutup. Dengan ikhlas. Karena kalau tidak ikhlas, yang kita dapatkan hanyalah efek tablet amphetamine yang menginduksi rasa bahagia. Ada namun semu.

Kabar itu akhirnya dikabarkan juga kepadaku, Habibi!
Dan kali ini, aku tak mampu mendefenisikan apa yang kurasa. Ah, terkadang kita tak butuh defenisi, bukan? Hanya jalani, itu prinsipmu ketika tanpa kata kamu membiarkanku membuat keputusan. Sepertinya kali ini kamu juga tak butuh defenisi, untuk membuat satu keputusan penting.

Aku, insyaAllah ikhlas. Telah banyak skenario Sang Sutradara Agung yang menempaku untuk belajar banyak. Ada bayak kisah sepeninggalmu yang menjadikanku lebih banyak merenung. Dan tentu saja, menjalaninya dengan senyum dan ketegaran perempuan, Mengiringiku pada kepasrahan yang sadar : keikhlasan!

Dan, kupikir, kamu harus telah sampai pada pemahaman yang sama. Bahwa, sekali lagi, diri kita cuma ada satu, yang kita punya cuma hari ini. Dan kita pun harus memilih.

Ikhlaskan pilihanmu, Habibi! Aku tidak lebih baik darinya, dan diapun tidak lebih baik dariku. Aku dan dia, kita semua, hanya menjalani skenario yang telah dipilihkan, masing-masing, dengan cara terbaik yang bisa kita jalani.
cara, itulah yang membuat kita berbeda. itulah yang membuat aku dan dia berbeda.
Maka, Menjadi ariflah, Habibi, melihat perbedaan itu.

Aku yakin, keputusan penting ini kamu ambil karena memang kamu telah menemukan orang yang tepat, bukan karena kamu telah didesak oleh apapun yang bisa mendesakmu untuk segera mengambil keputusan itu.

Maka, ketika satu pintu terbuka, mari, aku dan kamu, mengikhlaskan, dengan cara kita masing-masing, mengikhlaskan pintu lain tertutup.

Hanya saja, pintu mana yang benar, bertanyalah pada hati, Habibi!

Selamat melesat!