Pages

03 April 2010

Second Gender


 

Sekali-sekali pulang dari 'rantau', saya sempatkan berkumpul dengan keluarga besar. Yang paling seru adalah berkumpul dengan para sepupu yang notabenenya sepantaran dari segi umur. Perbincangan apapun yang dilakukakn dengan mereka serasa berbincang dengan temen-teman sendiri.

"Saya ingin sekolah lagi", itu yang saya jawab ketika mereka bertanya apa rencana saya hingga 2 tahun ke depan. Bermacam reaksi mereka, tetapi semuanya senada seirama.

" Kalo Ade S2 berarti harus cari suami yang S3 atau paling ga, S2 juga lah. Gak mungkinlah yang D3 atau yang tamat SMA saja kan?"
" Cepat naik pangkat nantinya. Kalo dapat suami yang PNS juga, harus yang lebih tinggi pangkatnya, jangan yang pangkatnya sama atau dibawah kamu, kalo ga kasian nantinya rumah tangga kamu"

Dan komentar-komentar sewarna lainnya.

Hal yang seperti ini, tidak pertama kali saya dengar. Acap kali ketika orang-orang seputaran saya membahas pernikahan, maka hal yang seperti itu selalu muncul.

Perempuan, wanita, padusi, woman, istri, a wife, apapun sebutannya, is a second gender.

Rasanya  -bagi pemikiran banyak orang-  adalah hal yang tabu ketika dalam sebuah rumah tangga istri 'lebih tinggi' statusnya dibanding suaminya. Orang-orang bergunjing ketika dalam selembar kertas undangan pernikahan, nama sang 'anak daro' diembeli gelar kesarjanaan bahkan master dan nama si 'marapulai' hanya nama dan gelar adat saja.
Orang-orang merasa ada yang salah dalam sebuah rumah tangga, jika si istri bekerja sebagai customer service di sebuah bank, dan sang suami berwiraswasta mengelola mini market kepunyaan sendiri.
Dan jelas akan jadi sasaran pembicaraan, jika istri kepala bagian di sebuah kantor pemerintah, dan suami hanya staf pemasaran di kantor swasta.
Padahal, mereka yang menjalaninya mungkin nyaman-nyaman saja, baik-baik-baik saja, dan bahkan mungkin berbahagia.

Saya paham, agama saya menggariskan bahwa laki-laki adalah pemimpin, itu tidak terbantahkan. Mutlak. Absolut. Saya juga paham, budaya saya, budaya timur juga menegaskan itu. Tanpa bermaksud untuk membantah, hanya mencari jalan tengahnya, saya juga ingin mengaskan bahwa punya daya pikir juga adalah anugrah Yang Kuasa untuk seluruh manusia, perempuan dan laki-laki. Perintah menuntut ilmu tak hanya untuk kaum adam, tapi juga perintah untuk kaum hawa. Mewujudkan eksistensi diri adalah hak asasi tanpa memilih jenis kelamin.

Lalu, tidak bisakah kita membicarakan ini secara terpisah. Bahwa tak ada jenis kelamin utama dalam karir dan pendidikan. Yang ada hanya perempuan dan laki-laki dalam hal menjalani kehidupan. Walaupun di dalam itu ada imam dan makmum, ada suami dan istri.

Bahwa tidak serta merta perempuan punya pendidikan lebih tinggi, punya kedudukan lebih tinggi, punya pendapatan lebih besar, lalu dia menjadi super power, bergeser menjadi ‘imam’, menjadi kepala rumah tangga. Tentu saja tidak!
Logikanya, perempuan dengan pendidikan tinggi, idealnya, akan lebih cerdas, akan lebih mengetahui kodratnya dengan lebih kritis dan analitis, mendalaminya dengan daya pikir maksimal, dan tentu menjalaninya dengan sadar, bukan menjalaninya dengan alasan : ‘ya, karena memang itu kodrat perempuan’ saja.
Logikanya lagi, perempuan yang dipercaya jadi pemimpin di kantornya, berarti dianggap mampu, dianggap perempuan yang bisa bijaksana dalam mengambil keputusan, idealnya, juga bijaksana menjalani hakikatnya yang lain : a wife, a mom, a woman.

Tentu saja ada pengecualian. Selalu ada.

Dan jika perempuan ideal itu ada, apakah lelaki ideal itu juga ada? Lelaki yang menjalani kodratnya sebagai pemimpin rumah tangga, dengan cerdas, berwibawa, bijaksana dan penuh penghormatan, kendati ia hanya tamat SMA dan istrinya tamat S3, tanpa egonya tergerus?

Apakah lelaki ideal itu ada, lelaki yang mudeg ketika istrinya bercerita analisa swot setelah makan malam, atau membahas kenaikan suku bunga yang berdampak sistemik, tapi setelah itu dengan legowo juga akan bercerita, hari ini beras di toko kelontong kita habis di borong rumah makan sebelah.

Apakah lelaki ideal itu ada, lelaki yang tersenyum ketika panitia sebuah acara menyalaminya sembari berujar “selamat datang bapak ketua DPRD”, lalu dia akan berkata, “bukan, yang ketua dewan adalah istri saya”, lalu menggamit tangan istrinya yang baru akan disalami sesudah si bapak, karena dari awal hanya dianggap pendamping layaknya ibu-ibu dharmawanita.

Ada, lelaki ideal itu juga ada!

“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)  (Q.S An-Nuur 26)”

Maka, Maha Benar Allah dengan segala firmannya!

Selamat menunggu lelaki ideal!