Pages

11 January 2010

Mata dan Hati


Status Facebook seorang teman membuat saya menulis postingan ini.

Kamu mau mencintai apa yang kamu lihat atau apa yang kamu rasa?

Itu yang dia buat di statusnya. Mungkin karena bentuknya sebuah pertanyaan dan topiknya menarik, maka banyak yang memberi  komentar. Di antara komentar yang masuk, banyak yang sependapat bahwa, apa yang dilihat oleh mata hanyalah sementara.


Hm…secara teori, mungkin semua kita mengetahui, mata hanya melihat apa yang diperlihatkan kulit luar, tetapi hati menilai selebihnya. Tetapi  tak sedikit juga yang berpendapat bahwa tampilan luar akan mewakili segalanya. Karena itu, tak jarang orang ‘mempercantik’ tampilan dengan banyak tujuan.  Tapi sampai kapan seseorang mampu selalu memanjakan mata orang lain? Seberapa hebat sebuah tampilan, hingga ia mampu mewakilkan karakter?

Saya pernah tidak disukai orang-orang  yang saya harapkan menyukai saya, karena tinggi saya hanya setinggi anak SMP, kulit sawo sangat matang yang saya miliki, keengganan saya berdandan dengan membubuhkan pupur tebal menutupi bekas jerawat, bergincu merah jambu menutupi bibir saya yang gelap karena pigmen bukan karena nikotin, rambut saya yang lurus alami sehingga tak perlu direbonding tapi kadang-kadang tak pernah patuh dalam ikatannya, dan lain-lain dan lain-lain.

Pada waktu itu, saya marah dan ingin protes. Saya ingin diberi kesempatan lebih untuk memperkenalkan diri saya, untuk menunjukkan identitas saya lebih dari apa yang bisa saya tunjukkan dari tampilan saya. Namun kesempatan itu tak pernah ada dan saya merasa ini sangatlah tidak adil.

Semakin bertambah usia, saya menyadari, kadang seseorang tak punya waktu lebih untuk mendalami orang lain, maka ia menyerahkan penilaian sepenuhnya pada mata dan apa yang bisa ditangkap oleh indra tersebut. Maka tak heran ketika seorang HRD di sebuh perusahaan disuruh memilih satu dari dua orang calon karyawan dengan kemampuan yang sama hebatnya, dia pasti akan memilih yang tampil paling menarik dan paling  enak dilihat.

Tapi bagaimana kalau itu menyangkut diri sendiri untuk jangka panjang? Menikah misalnya, masihkah akan menyerahkan keputusan penting itu pada mata?

Tentu, punya suami tampan atau istri cantik punya kebanggaan tersendiri. Tapi ternyata saya temukan banyak orang yang tidak member i tempat istimewa pada mata mereka ketika memilih pasangan hidup, someone you will share everything with.

Saya pernah bertemu istri  pengusaha pertambangan yang memimpin puluhan perusahaan tambang mulai emas hingga batu kapur. Pertemuan pertama, kesan yang saya tangkap adalah sangat kolokan dan childish, tetapi pada pertemuan berikutnya saya sadar, dia membantu suaminya memutuskan hal-hal penting, yang bahkan tak mampu diputuskan dalam rapat pemilik saham.

Istri seorang perwira menengah di kepolisian, yang sangat gendut sedangkan suaminya tegap dengan perut sixpack dan dada bidang. Berikutnya saya tahu, sang suami tak pernah mau makan diluar rumah, karena istrinya sangat pintar memasak, yang menurut suaminya tak ada duanya di dunia karena dibumbui dengan cinta.

Bahkan candaan seseorang yang mempunyai pasangan hidup yang ketika berjalan berdampingan akan terlihat seperti majikan dan pembantu : ketika tidur saya matiin lampu kok! Hehehe…

Nah, selamat memutuskan. Mata, tentu sangat ingin melihat keindahan, tetapi percayalah, mata hati lebih pintar memilih keindahan yang abadi!

Dedicated to : Duo rekan yang hanya ingin mengencani perempuan ‘cantik’!