Pages

25 August 2009

Kebudayaan Yang 'Tercolong'

Well, kejadian lagi kan?
Sudah pernah jatuh di lubang itu, jatuh lagi berikutnya, lubang yang sama, subjek yang sama, hal yang sama!

Dulu pernah rendang diklaim jadi makanan tradisional Negeri Sembilan Malaysia. Mungkin masih wajar karena menurut para ninik, nenek moyang mereka adalah perantauan orang Minangkabau, tapi rasanya tetap tidak sopan mencap kepemilikan, bukankah itu namanya : kacang lupa kulit?

Trus kejadian di lagu Rasa Sayange, haha, apa karena mereka punya tradisi berpantun, hingga sense of belonging jadi begitu tinggi pada lagu-lagu sejenis?

Reog Ponorogo, Batik, Angklung and then, Tari Pendet. What's next? Raflesia Arnoldi, Wayang Kulit, Tari Seudati? Atau jangan2 Candi Borobudur juga akan diklaim milik mereka, yang oleh karena fenomena alam berpindah ke tanah Jawa? Haha, Saya lebay juga ternyata!

Kalau mau nyari siapa yang salah, lah, cukup jelas kan? Yang namanya mencuri, apapun alasannya, tetap berdosa. Masalahnya adalah, apa mereka mau 'ngaku' kalo mereka mencuri. Ntar kita ditanya, apa buktinya saya mencuri? Emangnya itu punya anda? Apa buktinya kalo itu milik anda? Tidak ada kan? Ini zaman legalisasi, bung! Tidak ada bukti, lebih baik : yah U let it be lah!
Hahaha, mari ternganga bersama-sama.

Betul, betul, betul, kata si Upin Ipin.
Kesalahan kembali pada kita, yang tak pernah 'ngeh dengan harta benda sendiri, baru sadar kalo kita kaya setelah kekayaan kita dicuri orang, padahal Sipadan Ligitan sudah kita 'serahkan' dengan legowo, karena yah, kesalahan kita lagi. Legalisasi.

Saya pernah bertanya pada pakarnya tentang pengurusan hak atas kekayaan intelektual atau Haki, mereka juga ngurusin yang namanya hak paten, hak kepemilikan dll. Agak ribet memang, apalagi menelusuri sebuah kebudayaan yang telah mengakar berabad lamanya. Karena itu, untuk ngurus yang beginian, jangan sambilan. Harus sediain lembaga khusus, orang-orang khusus dan tentu, waktu khusus.

Untuk Sang Tetangga, saya himbau dengan logat melayu penuh : Tak baik lah mencuri tu, tak seronok didengar urang, macam tak ade perkare yang mau diurus saje, apa tak denger keh sudah sebising ini urang kami ni geram, ape kerana tak punye budaye sorang makanya suka kali same yang punya orang? Ah, tak seronok lah Tuan!