Pages

25 May 2009

"MuSiM KaWiN"

Ajaib! Bayangkan, dalam 24 jam saya menerima banyak kabar, hanya seputar hal yang sama!

Pagi-pagi, saya teringat dengan seorang teman, yang dulu satu profesi sebagai penyiar radio. Akhir tahun lalu dia menikah, sekarang ikut suami di Pekanbaru, dan seperti yang saya perkirakan, ada berita bahagia darinya ketika saya putuskan menyapanya pagi itu. Kehamilan pertamanya membuat perempuan yang umurnya lebih muda dari saya ini sangat antusias bercerita, "rasanya beda de, bukan perut keroncongan, bukan masuk angin, tapi ada sesuatu di perut kita, its amazing U know"
Akhirnya, seperti yang saya perkirakan juga, pembicaraan akan sampai pada, "lu kapan?"
Dan setelah itu pembicaraan akan mengalir seperti konversasi yang juga sudah saya perkirakan.


Beberapa jam sesudah itu, Hp saya bernyanyi lagi, tertera nama seorang teman SMP yang dulu cukup dekat tetapi belakangan sudah jarang berkomunikasi karena dunia kami tak lagi bersinggugan, dan kembali, berita bahagia datang darinya. Awal bulan ini dia akan mengakhiri masa lajangnya dengan kekasih yang telah mendampinginya sejak bangku kuliah. Saya ucapkan selamat, saya beri gambaran betapa tidak mungkin untuk datang ke resepsinya yang akan digelar di kampung halaman saya, karena saya khawatir, pada saat itu saya berada di pulau dan akses transportasi tidaklah semudah yang kita nikmati selama ini.

Dan seperti yang juga telah saya perkirakan, setelah saling bertukar kabar, berbagi info terakhir tentang teman-teman lain, pertanyaan itu sampai juga : Ade kapan nyusul?
Sambil tersenyum saya katakan Insyaallah dia akan dapat kabar bahagia itu pada masanya nanti. Tapi sepertinya dia tidak puas dengan jawaban itu, akhirnya muncul banyak pertanyaan lagi. Saya ladeni walaupun setengah hati.

Dan setelah melewati sore itu dengan teman2 kuliah dulu yang diantaranya juga sudah ada yang menikah, dan tentu membahas hal yang sama, malamnya saya menerima sebuah sms dari teman SMA yang dulu sesama pengurus OSIS. SMS-nya berisi apalagi kalau bukan undangan acara baraleknya!
Untung kali ini cuma sms, jadi tak ada pertanyaan yang ditujukan untuk saya!

Dulu, melihat iklan rokok yang bertanya kapan kawin saya hanya tersenyum dan mengagumi betapa kreatifnya sang pembuat iklan. Namun belakangan, saya baru merasakan betapa annoying-nya pertanyaan itu! Apalagi sejak satu persatu, teman-teman dan rekan sejawat memutuskan untuk menikah, pertanyaan itu semakin annoying!

Mengapa? Pertama, saya masih sangat muda (ough, walaupun tahun ini saya memasuki usia seperempat abad). Kedua, masih banyak yang lebih senior dari saya dan mereka juga belum menikah. Ketiga, orang tua dan keluarga saya saja tidak pernah membahas hal itu, itu pertanda mereka masih sangat nyaman menerima saya sebagai sosok remaja yang beranjak dewasa, haha.

Tapi di balik sikap ogah-ogahan saya pada masalah seputar ini, seorang teman menyadari bahwa belakangan saya seperti Marriagephobia(?), dan dia menerjemahkan  sebaliknya : kebelet merit!

Postingan ini saya tulis untuk menjawabnya.

Saya menyadari, bahwa sebagai perempuan ada keterbatasan dalam diri saya, ovum, kantung rahim dan tetek bengek reproduksi itu jelas tak bisa menunggu lama. Tapi apakah perkawinan hanya tentang melanjutkan keturunan?

Bagi saya yang awam akan hal ini, pernikahan itu sangat sakral, kalau bisa, sekali seumur hidup. Perkawinan itu melengkapi agama, ibadah, perkawinan itu muara perjalanan, perkawinan itu wadah eksistensi diri, dan itu semua penting! Islam tak pernah mengajarkan selibat, tidak kawin dan perawan seumur hidup. Syarat di antaranya adalah baligh, berakal dan mampu! Tidak sulit tapi juga jangan digampangkan!

Akhir tahun 90-an, saya dengar kakak sepupu saya bercerita tentang kecendrungan perempuan saat itu yang mengundur pernikahan hingga ke akhir kepala dua atau hingga awal 30-an. Alasan utamanya adalah karir. Tapi belakangan kecendrungan itu berbalik, menikah di usia muda menjadi pilihan populer, dan bahkan banyak yang berprestasi dan gemilang di dunia kerja justru ketika telah berkeluarga karena diasumsikan akan lebih serius dan fokus karena sudah punya beban tanggungan.
Mereka yang memilih menikah di usia muda punya banyak alasan, sama halnya mereka yang memilih belum menikah atau mengundurnya, tentu juga punya alasan.

Dan alasan saya saat ini adalah saya belum mampu! Belum mampu berkomitmen, belum mampu membagi diri dan hati untuk orang lain, belum mampu secara finansial untuk berbagi gaji dengan orang lain selain keluarga, belum mampu menemukan orang yang tepat yang akan menjadi rekan dalam segala hal di sisa usia.
Mungkin yang terakhir menjadi alasan terbesar.

Saya yakin seyakin-yakinnya jodoh itu di tangan Tuhan (like the others say any time), tapi saya juga percaya, seperti takdir, jodoh itu juga sebuah perjuangan bukan sebuah pemberian (a gift). Nah, kepercayaan saya akan proses sebelum itu yang telah bergeser. Sebut saja pacaran, taaruf, pendekatan atau apapun, jelas adalah sebuah proses memperkenalkan diri, agar tidak beli kucing dalam karung. Proses itu membutuhkan energi yang luar biasa, pertimbangan matang, spekulasi tepat dan perkiraan yang tidak boleh meleset!
Itu yang saya belum mampu!


NB : Postingan ini saya tulis tanpa tendensi apapun untuk siapapun.