Pages

29 May 2009

Catatan berikutnya, (masih) tentang facebook dan status haram halal

Ah, saya tidak pernah menyangka reaksinya akan 'sehebat' ini. Postingan saya sebelumnya : Surat Terbuka Untuk MUI akan menimbulkan perdebatan sedemikian rupa, niat awalnya cuma curhat, tapi setelah 2 hari ga OL, aneka komentar masuk, tak hanya di FB tapi juga di blog saya yg lain, bahkan sampai ada beberapa teman yang ingin melanjutkan diskusi ini via sms dan email. Hehe... Trims any way!

Sebelumnya, saya tekankan pada kawan-kawan, saya tidak pernah mengatakan MUI telah memfatwakan, mohon dicermati lagi tulisan saya, (kalimat persisnya : ..situs yang sebentar lagi akan Tuan fatwakan haram), ada rekan yg bilang saya terlalu judgemental, terlalu berlebihan bereaksi bahkan ada diantara rekan-rekan yang menganggap saya terlalu jauh menghujat ulama.

Ah, ampuni saya jika itu kesan yang ditangkap dari tulisan sebelumnya. Saya menghormati mereka, para Ulama yang Ijtima'nya merupakan hukum Islam setelah Alquran dan hadist (mohon dikoreksi jika saya salah), karena itu saya tidak pernah meremehkan setiap fatwa yang mereka keluarkan, dan tentu saya juga berharap fatwa yang mereka keluarkan juga bukan hal remeh.

Saya tidak terpancing isu, surat saya juga bukanlah tindakan reaktif kodok yang begitu kaget langsung melompat, Kalau rekan saya bilang isu ini diciptakan oleh orang yang kurang kerjaan, dia salah besar, masalah ini telah dibicarakan dalam forum-forum di beberapa pondok pesantren oleh para ulama besar, (nanti saya cantumkan link-nya). Memang, mereka belumlah representasi dari MUI, tapi, ingatlah saudara-saudara,forum ijtima' ulama MUI kebanyakan dimulai dari diskusi-diskusi dipondok pesantren seperti ini.

Lalu kenapa surat terbuka itu saya tujukan pada MUI, bukan pada ulama perorangan yang belakangan muncul santer di media mengapungkan wacana facebook haram, karena hanya lembaga ini yang 'diizinkan' oleh pemerintah sejak dulu untuk memfatwakan (atau pengetahuan saya belum sampai pada ulama lain yang memfatwakan sesuatu atas nama pribadi?)


Belakangan muncul isu yang mulai mengaitkan facebook dengan perusahaan besar yahudi dan seterusnya dan seterusnya. Mari kita tilik hal ini lebih detail, skenario global apa yang ada di balik ini, karena yang saya tahu, facebook adalah karya Mark Zuckerberg, mahasiswa universitas Harvard yang menemukan Facebook sebagai satu platform jaringan sosial bagi remaja di perguruan tinggi ketika dia baru berusia 19 tahun. Facebook kini merupakan situs web jaringan sosial terbesar kedua setelah MySpace. Facebook terus tumbuh hari demi hari, dengan jutaan pengguna baru yang terus mendaftar setiap bulan! Waktu itu, si Mark ini masih seorang mahasiswa, tidak terpikir bagi dia situs yang ia ciptakan akan segempar ini apalagi soal skenario besar dibalik itu. Jadi menurut saya ini masih perlu ditelusuri!!!

Nah, alasan lain yang mengemuka adalah soal hubungan lawan jenis (Ajnabi) , ini yang paling santer dibicarakan, bahkan seseorang mebagi linknya (situs resmi sebuah pondok pesantren) pada saya di blog saya yg lain,

http://lirboyo.com/index.php?req=detil_berita&id=140

yang saya garis bawahi adalah khalwah atau mojok di tempat tertutup, lalu melakukan PDKT dengan FB (juga HP, FS dll).
Saya bingung, karena setahu saya, untuk mojok, orang tidak harus ke warnet, mojok di warnet pun kan tidak harus buka facebook, dan adakah yang ingin cari jodoh di Facebook ini? Wah, saya pribadi tentu tidak!!

Tentu, saya terbuka untuk diskusi ini lebih lanjut, termasuk dari bapak-bapak Ulama sendiri.

Trims

26 May 2009

Surat Terbuka Untuk MUI

Assalamualaikum, semoga keselamatan atasmu tuan Ulama!

Perkenalkan, nama saya Ade Alifya, muslim, perempuan tidak berjilbab, berusaha untuk disiplin sholat, berusaha berpakaian dengan baik, tidak merokok, menjaga diri dari maksiat dan narkoba, berbakti pada orang tua dan menggunakan facebook!

Tuan Ulama, belum habis kecewa saya terhadap keputusan yang anda hasilkan di kampung saya yang mengharamkan rokok dan golput pada pemilu, anda kembali membuat saya kecewa!

Saya tidak akan memprotes anda dengan hadis-hadis shahih, karena andalah jagonya, Tuan! Saya hanya akan mengajak anda melihat mudarat dan manfaat.


Dulu waktu SMP, saya punya sahabat pena, karena pindah dan hal-hal lain, komunikasi terputus. Dan tebak, saya menemukannya kembali di Facebook. Saya punya paman seorang penulis, kami jarang sekali bertemu, bahkan hanya sekali lima tahun, padahal saya selalu membaca karya-karyanya, tapi saya benar-benar jarang berkomunikasi dengannya. Anda tahu, Tuan Ulama, Facebook mempertemukan kami.
Ada banyak kisah seperti itu yang terjalin antara saya dan facebook yang saya miliki. Bukankah Baginda Rasul menganjurkan menjaga silaturahmi? Apakah saya salah untuk hal ini?


Belum lagi rekan-rekan saya yang menghemat dananya mengumumkan sesuatu di facebook, dia tidak perlu beli pulsa, dia tidak perlu bertemu langsung, tapi dia cukup mempostingnya di facebook dan informasi tersampaikan.

Anda tahu, Tuan-Tuan Ulama yang terhormat, banyak mereka yang tidak beruntung dari segi ekonomi, harus berjibaku kuliah sambil kerja agar tetap bisa mengecap eklusifnya dunia kuliah, mereka berbisnis, membuat baju kaos dengan print out pesanan, mereka pasarkan di facebook. Hanya perlu beberapa menit dan merogoh kocek seribu rupiah, produk mereka diketahui publik, pemasaran yang efektif dibanding iklan di media yang tak sanggup mereka bayar. Anda tahu Tuan Ulama, di list friend saya, ada mahasiswi yang memasarkan jilbab, pin-pin lucu, gamis dan baju koko. Bukankah Sang Khalik meredhoi mereka yang berusaha keras dan tidak berpangku tangan?

Dan ada ratusan kisah seperti ini, mereka yang berbagi karya, berbagi cerita dan ispirasi, berbagi nasehat, lewat situs yang sebentar lagi akan Tuan fatwakan haram!


 Saya mencoba memahami alasan anda, Tuan! Facebook membuat kami candu, sehingga lupa waktu, lupa sholat?  Ah, banyak hal yang membuat manusia lalai sholat : TV, game, buku, tidur, bahkan pekerjaan. Lalu apakah anda juga akan mengharamkan itu?

Facebook membuat hubungan lawan jenis menyimpang, ada ghibah, dan bisa menimbulkan fitnah? Ah, anda benar-benar belum menganggap kami penguna facebook sebagai pribadi yang mampu membedakan yang baik dan buruk. Situs ini hanyalah satu dari sekian banyak yang akan menjadi sumber kemaksiatan jika kami mau. Lebih baik mengirim cerita porno lewat email Tuan, dari pada menguploadnya ke facebook, lebih intim dan tidak dibaca banyak orang. Lebih baik mendownload film biru di situs download gratis dari pada di facebook, karena lebih bervariasi (ah, saya juga tak yakin, adakah yg pernah mendownload/upload film biru di facebook?)

Lalu, kalau demikian, internet ini penuh maksiat Tuan, penuh mudarat,apakah juga akan diharamkan?
Dan jadilah kami sebagai generasi bodoh karena TV tak mampu lagi puaskan keinginan kami mengetahui dinamika  dunia karena terlalu disibukkan dengan sinetron lebay dan gosip artis kawin cerai.

Nah, sekarang coba pahami alasan saya, Tuan Ahli Surga. Saya ajak anda duduk bersama, mengobrol bersama dan longoklah facebook saya dan teman-teman saya (jangan seperti kejadian lembaga anda dan film perempuan berkalung sorban yang anda sebut menyesatkan umat tetapi anda tak pernah dan tak mau menontonnya!)

Di facebook saya, ada jurnalis berbagi cerita peliputan, ada penulis mempublikasikan karya barunya ke khalayak, ada anggota KPU yang mengetengahkan persoalan pemilu ke ranah diskusi, ada caleg yang promosi programnya untuk rakyat, ada teman yang sedang bersedih, ada rekan yang mengumumkan pernikahannya, ada mahasiswa yang sedang curhat pusing karena tugas, ada, ah begitu banyak, mereka yang mondar-mandir di situs ini.


Apa lagi yang anda khawatirkan tuan? Pornografi? Ah, bagaimana kalau anda mengurusi media elektronik saja yang acaranya semakin mempertontonkan tubuh? Hubungan lawan jenis? Nah, saya sarankan tuan, anda razia saja mereka di mall, di jalan raya, yang berpelukan bergandengan tangan. Tanyakan mana surat nikah mereka. Silahkan anda inspeksi para lelaki di jalanan yang masih berkeliaran ketika Jumatan. Silahkan anda kutuki para caleg yang mengambil kembali bantuan yang telah mereka berikan ke masyarakat karena ternyata mereka tidak terpilih pada pemilu lalu.

Menurut saya yang bodoh dan awam, masih banyak yang harus anda urusi Tuan, selain persoalan situs jejaring sosial ini, masih banyak yang perlu anda lirik, benahi, dan bina. Lakukuan fungsi anda sebagai penyambung lidah umat, beri pemerintah tekanan untuk mengeluarkan kebijakan pro rakyat, jangan diam ketika bayang-bayang krisis jati diri melanda bangsa ini, bereaksilah terhadap perdebatan neolib versus ekonomi kerakyatan yang telah mengapung, tuntun mereka yang kaya mengeluarkan zakat harta, ajak mereka yang miskin optimis menghadapi hidup, beri mereka kabar baik indahnya surga untuk mereka yang menganggap hidup adalah ibadah, ingatkan mereka panasnya neraka ketika mereka lalai. Jika demikian, saya tumpukan banyak harapan pada anda, Tuan!

Ah, saya hanya orang biasa, Tuan, tak mengerti banyak hal seperti anda. Saya minta maaf jika surat ini menyinggung anda!

Semoga anda masuk surga, Amin!

25 May 2009

"MuSiM KaWiN"

Ajaib! Bayangkan, dalam 24 jam saya menerima banyak kabar, hanya seputar hal yang sama!

Pagi-pagi, saya teringat dengan seorang teman, yang dulu satu profesi sebagai penyiar radio. Akhir tahun lalu dia menikah, sekarang ikut suami di Pekanbaru, dan seperti yang saya perkirakan, ada berita bahagia darinya ketika saya putuskan menyapanya pagi itu. Kehamilan pertamanya membuat perempuan yang umurnya lebih muda dari saya ini sangat antusias bercerita, "rasanya beda de, bukan perut keroncongan, bukan masuk angin, tapi ada sesuatu di perut kita, its amazing U know"
Akhirnya, seperti yang saya perkirakan juga, pembicaraan akan sampai pada, "lu kapan?"
Dan setelah itu pembicaraan akan mengalir seperti konversasi yang juga sudah saya perkirakan.


Beberapa jam sesudah itu, Hp saya bernyanyi lagi, tertera nama seorang teman SMP yang dulu cukup dekat tetapi belakangan sudah jarang berkomunikasi karena dunia kami tak lagi bersinggugan, dan kembali, berita bahagia datang darinya. Awal bulan ini dia akan mengakhiri masa lajangnya dengan kekasih yang telah mendampinginya sejak bangku kuliah. Saya ucapkan selamat, saya beri gambaran betapa tidak mungkin untuk datang ke resepsinya yang akan digelar di kampung halaman saya, karena saya khawatir, pada saat itu saya berada di pulau dan akses transportasi tidaklah semudah yang kita nikmati selama ini.

Dan seperti yang juga telah saya perkirakan, setelah saling bertukar kabar, berbagi info terakhir tentang teman-teman lain, pertanyaan itu sampai juga : Ade kapan nyusul?
Sambil tersenyum saya katakan Insyaallah dia akan dapat kabar bahagia itu pada masanya nanti. Tapi sepertinya dia tidak puas dengan jawaban itu, akhirnya muncul banyak pertanyaan lagi. Saya ladeni walaupun setengah hati.

Dan setelah melewati sore itu dengan teman2 kuliah dulu yang diantaranya juga sudah ada yang menikah, dan tentu membahas hal yang sama, malamnya saya menerima sebuah sms dari teman SMA yang dulu sesama pengurus OSIS. SMS-nya berisi apalagi kalau bukan undangan acara baraleknya!
Untung kali ini cuma sms, jadi tak ada pertanyaan yang ditujukan untuk saya!

Dulu, melihat iklan rokok yang bertanya kapan kawin saya hanya tersenyum dan mengagumi betapa kreatifnya sang pembuat iklan. Namun belakangan, saya baru merasakan betapa annoying-nya pertanyaan itu! Apalagi sejak satu persatu, teman-teman dan rekan sejawat memutuskan untuk menikah, pertanyaan itu semakin annoying!

Mengapa? Pertama, saya masih sangat muda (ough, walaupun tahun ini saya memasuki usia seperempat abad). Kedua, masih banyak yang lebih senior dari saya dan mereka juga belum menikah. Ketiga, orang tua dan keluarga saya saja tidak pernah membahas hal itu, itu pertanda mereka masih sangat nyaman menerima saya sebagai sosok remaja yang beranjak dewasa, haha.

Tapi di balik sikap ogah-ogahan saya pada masalah seputar ini, seorang teman menyadari bahwa belakangan saya seperti Marriagephobia(?), dan dia menerjemahkan  sebaliknya : kebelet merit!

Postingan ini saya tulis untuk menjawabnya.

Saya menyadari, bahwa sebagai perempuan ada keterbatasan dalam diri saya, ovum, kantung rahim dan tetek bengek reproduksi itu jelas tak bisa menunggu lama. Tapi apakah perkawinan hanya tentang melanjutkan keturunan?

Bagi saya yang awam akan hal ini, pernikahan itu sangat sakral, kalau bisa, sekali seumur hidup. Perkawinan itu melengkapi agama, ibadah, perkawinan itu muara perjalanan, perkawinan itu wadah eksistensi diri, dan itu semua penting! Islam tak pernah mengajarkan selibat, tidak kawin dan perawan seumur hidup. Syarat di antaranya adalah baligh, berakal dan mampu! Tidak sulit tapi juga jangan digampangkan!

Akhir tahun 90-an, saya dengar kakak sepupu saya bercerita tentang kecendrungan perempuan saat itu yang mengundur pernikahan hingga ke akhir kepala dua atau hingga awal 30-an. Alasan utamanya adalah karir. Tapi belakangan kecendrungan itu berbalik, menikah di usia muda menjadi pilihan populer, dan bahkan banyak yang berprestasi dan gemilang di dunia kerja justru ketika telah berkeluarga karena diasumsikan akan lebih serius dan fokus karena sudah punya beban tanggungan.
Mereka yang memilih menikah di usia muda punya banyak alasan, sama halnya mereka yang memilih belum menikah atau mengundurnya, tentu juga punya alasan.

Dan alasan saya saat ini adalah saya belum mampu! Belum mampu berkomitmen, belum mampu membagi diri dan hati untuk orang lain, belum mampu secara finansial untuk berbagi gaji dengan orang lain selain keluarga, belum mampu menemukan orang yang tepat yang akan menjadi rekan dalam segala hal di sisa usia.
Mungkin yang terakhir menjadi alasan terbesar.

Saya yakin seyakin-yakinnya jodoh itu di tangan Tuhan (like the others say any time), tapi saya juga percaya, seperti takdir, jodoh itu juga sebuah perjuangan bukan sebuah pemberian (a gift). Nah, kepercayaan saya akan proses sebelum itu yang telah bergeser. Sebut saja pacaran, taaruf, pendekatan atau apapun, jelas adalah sebuah proses memperkenalkan diri, agar tidak beli kucing dalam karung. Proses itu membutuhkan energi yang luar biasa, pertimbangan matang, spekulasi tepat dan perkiraan yang tidak boleh meleset!
Itu yang saya belum mampu!


NB : Postingan ini saya tulis tanpa tendensi apapun untuk siapapun.

07 May 2009

Tak Perlu Dengan Bunga

Kisah ini diambil dari dokumen sorang teman,yang katanya diambil dari kisah-kisah di internet (maaf, ga bisa nyantumin sumbernya).

Kisah ini benar-benar bikin iri, dan berdoa dlm hati mendapatkan suami 'sehebat' ini. Hehe...
Ternyata, lelaki hebat bukanlah 'lelaki hebat' seperti yang selama ini dibayangkan.

Semoga memberi hikmah!!


Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan" Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan….

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya". 

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya. 

"Kamu bisa meng etik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya".
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang".
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu".
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal".
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami".
"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu".
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku".
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu".
"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu.Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan mu". 

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya. 

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".