Pages

12 March 2009

Kepulauan Mentawai dan Penggalan Kisah Yang Tertinggal

Insyaallah, dalam hitungan 36 jam ke depan, saya akan segera mengarungi bagian Samudera Hindia menuju ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai, tempat saya akan bertugas mulai Jumat 13 Maret ini sampai batas waktu yang tidak saya ketahui sampai kapan. Status sebagai abdi negara dengan sederet nomor induk mengharuskan saya bersedia di tempatkan di mana saja termasuk di kabupaten pemekaran ini.

Di satu sisi, saya sangat siap mengaplikasikan ilmu, tidak sabar dan menerka-nerka, kehidupan seperti apa yang akan saya jalani di sana, yang konon katanya tidak ada jaringan internet. Tapi di sisi lain, saya takut, ragu dan tidak ingin pergi, mengingat banyak hal yang telah saya alami, jauh dari keluarga, jauh dari sahabat dan kerabat yang selalu mewarnai hari-hari di sini. Apalagi musibah terakhir yang menimpa, menjadikan hal ini semakin berat. Tapi saya harus berangkat, demi masa depan, demi keluarga dan demi diri saya sendiri.

Waktu yang tersisa sebelum rutinitas pegawai negeri dijalani, benar-benar saya nikmati. Saya jemput kembali rangkaian cerita yang tak sempat saya sambangi, dan hal ini masih belum melegakan, ah manusia memang tak akan pernah merasa cukup dengan waktu yang ia punya.

Saya sadar, kota ini akan saya tinggalkan dengan banyak penggalan kisah, kisah abadi, atau cerita usang yang tak usah dikenang. Skenario yang telah dipilihkan Sang Sutradara Agung, saya yakini akan semakin menempa saya. Semoga!!!


Dan pada detik saya menuliskan postingan ini, telah muncul kesadaran baru, dari banyak pertanyaan yang memantul di ruang abu-abu, membuntu di benak. Titik balik semua pemahaman justru muncul pada saat saya tidak mampu lagi menangis, karena tangis tak mampu mengurangi rasa sedih.

Apapun, hari esok akan saya hadapi dengan senyuman, penuh rasa syukur, karena masih mampu melihat dan membuat kedua orang tua saya tersenyum!!