Pages

26 January 2009

Kabar saya hari ini




...
tidak begitu baik

...

  • abis sakit, terkapar 5 hari, dan hari keenam diperparah dengan insomnia terkambuh sepanjang sejarah dengan rekor tidak tidur selama 27 jam, padahal masih minum obat yang efek sampingnya, ya, mengantuk!
  • menunggu, dan itu adalah pekerjaan membosankan (siapa sih pencetus kalimat ini), padahal sebelumnya saya tidak pernah punya kerjaan yang membosankan
  • meredakan badai yang saya ciptakan sendiri, bermain api pasti terbakar, dan saya bermain dengan nuklir yang bikin hancur berkeping-keping tidak hanya diri sendiri tapi juga orang lain
  • nangis bombai untuk kabar tak pasti yang tidak ingin saya konfirmasi, ough saya benci!
  • masih dibuat takjub oleh Sang Maha Pembolak-balik Hati yang selalu menyimpan rahasia jodoh sebagai hal yang tidak bisa kita tebak. Syafitri dan Bg Musfi Yendra : Selamat!
  • repot sendiri dengan dualisme realitas hati (alah, ribet banget) yah seperti benci tapi rindu, atau sebaliknya, rindu tapi benci.Ough, intinya saya rindu!

15 January 2009

Limit

Kita kreasi Sang Maha Tak Berbatas tak akan pernah menjadi tak hingga
Bahkan cinta, tak kunjung ada yang tak berujung
Kita hanya akan mencintai sebanyak yang kita bisa

Ini yang berbeda, bisa-ku dan bisa-mu
Ketika kamu telah menyerah mencintai kerumitanku, aku masih menyediakan ruang untuk segala tentangmu

Hanya saja, hari berganti
Matahari tak akan terbit lalu terbenam lagi tanpa dimaknai


Keterbatasan mulai mendesakku
Seperti memori pesan masuk di benda seluler itu, 
keterbatasannya mengajak meminggirkan yang tak lagi kubutuhkan


Satu persatu mulai ku hapus sapamu
Tak mudah tapi harus kulakukan

Demikian juga ruang hati
Kendati kali ini tak kulihat ia bertepi
Namun kuyakin sebentar lagi
Ia ingin ditelusuri
Memilah dan memilih
Agar tak penuh dan meluap, menyesak dan berlimpah

Pelan dan pasti, kurasakan batas itu telah dekat
Aku mencintaimu sebanyak yang kubisa
Maafkan aku,
Aku hanyalah perempuan dengan keterbatasan!

02 January 2009

What Next???

Hidup, serasa seperti memasuki bangunan maha luas yang asing. 
Kita menelusuri ruang demi ruang, perjalanan itu yang disebut pengalaman. Terkadang lelah, istirahat sejenak lalu lanjutkan perjalanan. Bangunan ini terlalu menggugah untuk hanya dilihat saja, karena itu, setiap bilik harus dicermati.

Namun, begitu kita membuka satu pintu, pintu lain akan menutup. Jatuh cinta, lalu terlupakan patah hati yang menyayat. Kesedihan dan merasa tidak adil, terpinggirkan semua nikmat yang telah kita terima. Pesta pora, kita tak ingat lagi pernah berkubang tangis.

Buka satu pintu dan pintu lain akan menutup. 
Memilih, itulah yang kita lakukan sejak akal mau diajak berdiskusi.

Dan kupilih pintu dengan nomor berderet yang disebut NIP ini, lalu pintu lain akan menutup.

Tak rela. Fitrah manusia mau segala. Tapi inilah hidup!

Selamat tinggal dunia yang bergegas!

Selamat tinggal petualangan pedalaman Kalimantan!

Selamat tinggal Oslo!