Pages

01 December 2008

Sepatu Baru dan Menerima Apa Adanya

Pertama kali liat, saya sudah naksir. Saya lirik sebentar, dan coba saya hiraukan karena ingin nyari yang sedikit 'rumit'. Its so simple, baik modelnya, bentuknya, maupun harganya.
Tapi sesudah berkeliling, nyoba cari sana-sini, tidak ada yg cocok. Apalagi untuk ukuran kaki saya yang begitu imyut ini (35 bo!), jarang banget ada sepatu yang sempurna. Akhirnya saya kembali ke konter sepatu putih ini.
 




Ukurannya ternyata 36. Saya minta yg ukurannya 35, mbaknya bilang gak ada. Saya coba, walopun agak kegedean, tapi karena pinggirnya karet, sepatunya gak kececer dibawa jalan yang artinya : muat kok!
Saya putuskan untuk beli, saya minta barang yang lain, karena barang yang dipajang itu udah agak kumal, karena sering dipegang dan dicoba orang, dan mbaknya bilang sepatu itu tinggal satu-satunya.  The one and only. ketika saya minta, pasangannya yg satu lagi dikeluarkan (yg dipajang cuma yang kanan), oh tidaak, beda bangeeet, sangat mencolok karena warnanya putih.
Teman saya yang menemani bilang, jangan deh de, belang! Saya diam, dia nyuruh saya pikir lagi dan menawarkan diri untuk menemani saya nyari sepatu yg lain. Tapi saya putuskan tetap membelinya.

Sampai di rumah, saya pandangin sepatunya. Diliatin dengan pencahayaan kamar saya yg gak begitu terang beda yg kanan dan yg kirinya terlihat jelas. Ketika saya poto dengan kamera hp saya yg berresolusi rendah aja, bedanya tetap terlihat. Yg kiri putih bersih, tanpa ada kerutan dan goresan, yg satu agak kekuningan, dengan beberapa lipatan bekas dicoba orang. Tapi saya tidak menyesal!
Ada hal yang saya sadari ketika memandang sepatu baru saya, nilai itu yang ingin saya bagi dalam postingan kali ini. Bahwa ketika kita mencintai sesuatu, kita akan menerima apa adanya.
Mungkin saya punya uang untuk membeli sepatu lain yang lebih mahal, mungkin besok saya punya waktu untuk mencari ke toko lain, sepatu-sepatu yang sama simpel, sama murahnya, sama nyamannya tetapi tidak 'cacat'. Bisa saja! 
Membeli sepatu tentu tidaklah sama dengan cinta. Tidak sebanding dan tentu tidak perlu dibandingkan. Tapi, tak bisakah mencintai semudah membeli sepatu? Ketika kita mencintai, kita akan menerima kekurangan, akan menutupinya, melengkapinya, sehingga kekurangan itu tidak terlihat sebagai sesuatu yang cacat.
Mungkin tak mudah, tapi menurut saya, yang dibutuhkan hanyalah sedikit ruang di hati, untuk menerima, apa adanya, tidak menuntut lebih. Karena kita mencintai, karena kita sendiri yang memilih dan memutuskan untuk mencintai!