Pages

11 December 2008

Malaikat

karena kau tak lihat, terkadang malaikat
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
namun kasih ini silakan kau adu
malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya
(Dewi Lestari-Malaikat Juga Tahu)

Entah kenapa, seperti musik-musik Sheila On 7, karya-karya Dewi Lestari atau lebih akrab dipanggil Dee, selalu ‘mengusik’ hari-hari yang saya jalani. Kata mengusik dalam tanda kutip ini saya maksudkan sebagai bentuk bahwa seolah takdir saya begitu ‘ngeh’ dengan karya2nya.
Mulai dari lagu-lagu yang dia ciptakan baik yang dinyanyikan RSD maupun Marcel, lalu Supernova, pertama, kedua lanjut ketiga, lalu Filosofi Kopi-nya, dan terakhir, karya yang masih saya impikan : rectoverso, (karena belum sampai ke Padang, dan kalau pun dititip sama temen-temen yang di Jakarta atau Bandung, harganya agak mahal, gak enak ngerepotin mereka. Dipastikan mereka nolak duit yang saya kasi kalau minta tolong beliin).

Singkat kata, ketika karya Dee muncul, saya nikmati, dan selalu berhasil memberi persepsi baru pada kisah yang sedang saya jalani. Selalu saja, ada penggalan puisi, kalimat atau liriknya yang menginspirasi dan berhasil mengajak saya melihat warna lain dari perjalanan saya sendiri.

Tentang Rectoverso )* , saya sudah mendengar dan membaca penggalannya. Dan saat ini, salah satu lagunya, Malaikat Juga Tahu (lagunya sudah beredar di radio dan klipnya sudah bisa ditonton) benar-benar menguatkan saya. Liriknya sederhana tetapi maknanya, benar-benar ‘berbicara’ langsung pada diri.

kupercaya diri, cintakulah yang sejati

)* Arti Rectoverso, baru benar-benar saya mengerti sejak mengikuti lokakarya jurnalistik Bank Indonesia, padahal dalam blognya, Dee sudah menjelaskan apa arti rectoverso.
Perhatikan uang kertas seratus ribu, ada tanda air yang bagian depan dan belakangnya berbeda tapi saling melengkapi dan kemudian menjadi gambar utuh, nah itulah rectoverso!