Pages

23 December 2008

civil servant

mohon doa restu ya!

saat ini hanya sedang menikmati aktivitas yang esok hari mungkin akan sangat dirindukan!

Beginning Nu Life

tarik nafas, kali ini agak dalam!
ini kado hari ibu untuk mama dan kado ultah untuk papa
ada syukur, tentu!
tak kan pernah ada yang sia-sia
akan seperti apa? kita lihat saja!

dan sekarang, nikmati waktu tersisa, untuk deadline, dunia yang bergegas, mobilitas tingkat tinggi, kepanikan yang menyenangkan!


semuanya, mohon doa restu

saya hanya aktor, sudah ada sutradara agung yang membuat skenario

apapun perannya, akan saya lakoni dengan hati!

21 December 2008

I've been trying...

… lalu jika ini semua tidak berakhir bahagia, 
setidaknya kita menginginkannya berakhir indah …

… lalu jika kita tidak bisa berteman, 
setidaknya kita ingin dikenang sebagai teman baik saja …

lalu jika itu semua tidak menjadi nyata dan sia-sia, 
silahkan salahkan aku, karena aku yang tak mampu...

but I’ve been trying,
and then crying!

19 December 2008

Dan...

Seseorang, empat tahun lalu pernah berkata :
” Kalo jalan, jangan liat ke belakang, nanti kamu nabrak yang di depan loh! ”

Waktu itu, dia ada di belakang saya, masih terlihat bayangannya, masih tercium aromanya dan tentu kami masih dalam satu ruang tarikan nafas, dan saya pun mengerti, seseorang yang ada di depan saya, akan saya tabrak kalau saya masih tetap melihat ke belakang!

Akhirnya saya melangkah, tidak lagi melihat ke belakang, terkadang sesekali menunduk, dan  tapi kemudian tetap berjalan!
 
Dan kali ini?




PS : Buat Dree, ada yang tak sempat terucap sepanjang empat tahun ini : terima kasih!

18 December 2008

Ini tentang CINTA


Kemaren malam dapat sms dari seorang teman (karena belum minta ijin, namanya saya rahasiakan). Awalnya mau curhat, tapi gak jadi, karena tiba2 dia ganti topik.
Dia berbagi kebahagiaan, bahwa beberapa hari sebelumnya, dia dan pacarnya (yang juga teman saya) baru aja beli wedding rings.

Lama saya memilih kata membalas smsnya. Ikut berbahagia tentu, tapi sms-nya itu, memukul saya, telak, tepat di ulu hati!

Pasangan ini, dulunya, menurut saya adalah pasangan 'aneh'. Hubungan mereka sebelumnya adalah teman dekat dan teman baik, dalam satu kelompok kecil pertemanan kuliah. Solid dan solider. Tapi, lambat laun, sang pria semakin menunjukkan ketertarikannya, perhatian lebih, tentu kebaikan yang tidak tergantikan, dan berhasil meluluhkan sang perempuan, singkat kata mereka jadian.

Tapi mereka sering banget berantem, untuk hal-hal kecil, gak jelas dan gak penting, bahkan pernah tanpa alasan. Ketika salah seorang curhat pada saya dan teman dekat saya pada waktu itu, kami sering geleng2 kepala, tidak mengerti, dan sering menasehati bahwa pencapaian hubungan pada usia kita saat ini, tidak lagi akan seperti yang sedang mereka lalui. Entahlah, rasanya mereka terlalu childish dan hubungan mereka seperti hubungan tanpa orientasi yang jelas!

Tapi saya salah! Keliru dan benar-benar bodoh! Kali  ini saya akui , bahwa saya benar-benar tidak ada apa-apanya dibanding mereka berdua!

Banyak pertengkaran mereka lalui, putus sambung, bahkan pernah, salah seorangnya menyerah karena sadar hubungan mereka tidak akan kemana2 (dan waktu itu, semuanya karena alasan yang tidak jelas!).

Tapi, mereka bertahan, dan sebentar lagi, menjadi pemenang!

Ternyata tak perlu orang-orang hebat untuk menciptakan cinta yang hebat. Yang dibutuhkan hanyalah orang biasa dengan cinta yang sederhana. Cukup dengarkan hati lalu jalani! Maka ketika telah dilalui, kita akan menjadi orang-orang luar biasa dengan cinta yang lebih luar biasa lagi!

Buat P dan A, selamat!
Ade salut sama kalian.
Both of U guys give me another meaning of love ,  loving and being loved!

11 December 2008

Malaikat

karena kau tak lihat, terkadang malaikat
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
namun kasih ini silakan kau adu
malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya
(Dewi Lestari-Malaikat Juga Tahu)

Entah kenapa, seperti musik-musik Sheila On 7, karya-karya Dewi Lestari atau lebih akrab dipanggil Dee, selalu ‘mengusik’ hari-hari yang saya jalani. Kata mengusik dalam tanda kutip ini saya maksudkan sebagai bentuk bahwa seolah takdir saya begitu ‘ngeh’ dengan karya2nya.
Mulai dari lagu-lagu yang dia ciptakan baik yang dinyanyikan RSD maupun Marcel, lalu Supernova, pertama, kedua lanjut ketiga, lalu Filosofi Kopi-nya, dan terakhir, karya yang masih saya impikan : rectoverso, (karena belum sampai ke Padang, dan kalau pun dititip sama temen-temen yang di Jakarta atau Bandung, harganya agak mahal, gak enak ngerepotin mereka. Dipastikan mereka nolak duit yang saya kasi kalau minta tolong beliin).

Singkat kata, ketika karya Dee muncul, saya nikmati, dan selalu berhasil memberi persepsi baru pada kisah yang sedang saya jalani. Selalu saja, ada penggalan puisi, kalimat atau liriknya yang menginspirasi dan berhasil mengajak saya melihat warna lain dari perjalanan saya sendiri.

Tentang Rectoverso )* , saya sudah mendengar dan membaca penggalannya. Dan saat ini, salah satu lagunya, Malaikat Juga Tahu (lagunya sudah beredar di radio dan klipnya sudah bisa ditonton) benar-benar menguatkan saya. Liriknya sederhana tetapi maknanya, benar-benar ‘berbicara’ langsung pada diri.

kupercaya diri, cintakulah yang sejati

)* Arti Rectoverso, baru benar-benar saya mengerti sejak mengikuti lokakarya jurnalistik Bank Indonesia, padahal dalam blognya, Dee sudah menjelaskan apa arti rectoverso.
Perhatikan uang kertas seratus ribu, ada tanda air yang bagian depan dan belakangnya berbeda tapi saling melengkapi dan kemudian menjadi gambar utuh, nah itulah rectoverso!

01 December 2008

Sepatu Baru dan Menerima Apa Adanya

Pertama kali liat, saya sudah naksir. Saya lirik sebentar, dan coba saya hiraukan karena ingin nyari yang sedikit 'rumit'. Its so simple, baik modelnya, bentuknya, maupun harganya.
Tapi sesudah berkeliling, nyoba cari sana-sini, tidak ada yg cocok. Apalagi untuk ukuran kaki saya yang begitu imyut ini (35 bo!), jarang banget ada sepatu yang sempurna. Akhirnya saya kembali ke konter sepatu putih ini.
 




Ukurannya ternyata 36. Saya minta yg ukurannya 35, mbaknya bilang gak ada. Saya coba, walopun agak kegedean, tapi karena pinggirnya karet, sepatunya gak kececer dibawa jalan yang artinya : muat kok!
Saya putuskan untuk beli, saya minta barang yang lain, karena barang yang dipajang itu udah agak kumal, karena sering dipegang dan dicoba orang, dan mbaknya bilang sepatu itu tinggal satu-satunya.  The one and only. ketika saya minta, pasangannya yg satu lagi dikeluarkan (yg dipajang cuma yang kanan), oh tidaak, beda bangeeet, sangat mencolok karena warnanya putih.
Teman saya yang menemani bilang, jangan deh de, belang! Saya diam, dia nyuruh saya pikir lagi dan menawarkan diri untuk menemani saya nyari sepatu yg lain. Tapi saya putuskan tetap membelinya.

Sampai di rumah, saya pandangin sepatunya. Diliatin dengan pencahayaan kamar saya yg gak begitu terang beda yg kanan dan yg kirinya terlihat jelas. Ketika saya poto dengan kamera hp saya yg berresolusi rendah aja, bedanya tetap terlihat. Yg kiri putih bersih, tanpa ada kerutan dan goresan, yg satu agak kekuningan, dengan beberapa lipatan bekas dicoba orang. Tapi saya tidak menyesal!
Ada hal yang saya sadari ketika memandang sepatu baru saya, nilai itu yang ingin saya bagi dalam postingan kali ini. Bahwa ketika kita mencintai sesuatu, kita akan menerima apa adanya.
Mungkin saya punya uang untuk membeli sepatu lain yang lebih mahal, mungkin besok saya punya waktu untuk mencari ke toko lain, sepatu-sepatu yang sama simpel, sama murahnya, sama nyamannya tetapi tidak 'cacat'. Bisa saja! 
Membeli sepatu tentu tidaklah sama dengan cinta. Tidak sebanding dan tentu tidak perlu dibandingkan. Tapi, tak bisakah mencintai semudah membeli sepatu? Ketika kita mencintai, kita akan menerima kekurangan, akan menutupinya, melengkapinya, sehingga kekurangan itu tidak terlihat sebagai sesuatu yang cacat.
Mungkin tak mudah, tapi menurut saya, yang dibutuhkan hanyalah sedikit ruang di hati, untuk menerima, apa adanya, tidak menuntut lebih. Karena kita mencintai, karena kita sendiri yang memilih dan memutuskan untuk mencintai!