Pages

15 November 2008

The Biografier



Saya biarkan ia menulis sesukanya.
Ia masukkan tulisan itu dalam satu postingan di blog rumah kami (belakangan ia lebih sibuk mengurus itu ketimbang mengurus blognya sendiri).
Sebelumnya, ia telah menyampaikan maksudnya, saya pikir ia bercanda, ternyata tulisan itu jadi juga.

Ia sebut itu biografi, ia beri judul dengan nama belakang saya. Ada angka di sana, dalam artian, tulisan itu akan bersambung. Entah itu disebut biografi, atau apa, tapi dari banyak fakta tentang saya yang ia kemukakan, begitu banyak opini pribadi, berkelindan dengan keresahannya terhadap hidup dan kehidupan.

Ah, saya biarkan saja, bahkan dengan banyak keberatan.

Dua malam, yang lalu, ia mengirimkan sms, meminta saya mengirimkan foto, katanya untuk biografi itu. Entah foto mana yang dimaksudnya, foto saya sedang bekerja, atau foto narsis melihat kamera dengan senyum sumringah dengan angle terbaik. Saya iyakan, tapi belum saya kirim. Tampaknya ia tak sabar dan 'menyolong' foto di friendster saya.

Menurut saya, ia penulis jenius, coba baca karya-karyanya yang berserakan di media lokal dan nasional, ia juga fotografer ulung, ia pemahat kata dan ia juga perayu ulung, namun ia saudara terbaik yang saya punya di 'rumah', bersanding dengan nama-nama lain yang pernah melangkah di laman hati dan tentu meninggalkan jejak.

Kami sesama anak suku, yang dibesarkan mitos sari toka dan batang tutuau, pernah berpeluk tangis di hari yang seharusnya bahagia. Kami pernah bermimpi tentang Taman Ismail Marzuki hingga Broadway dan Sidney Opera House. Kami pernah berbagi renungan sel abu-abu mulai dari hal remeh seperti tren fashion hingga filosofi Tuhan. Apa saja, sampai malam itu.
Entah apa dan siapa, ada yang retak malam itu, dan kami terlalu egois untuk kembali berbagi kisah.
Tapi saya yakin, dia dan saya tidak akan kemana-mana, dan ternyata benar, buktinya masih saya simpan sampai saat ini :

Aku sayang kamu, Ade. Aku ingin bertemu, tapi aku tahu kamu sibuk dalam lingkaran jam. Aku tahu jarak itu kian jauh saja terbentang. Salam, Faiz.(Dia buat namanya di akhir sms, dia pikir nomornya tidak lagi saya simpan)


Meski saya merasa tertinggal jauh dari perjalanannya yang mungkin lebih rumit dari rutinitas saya, saya yakin, saya dan dia, ya, kami, masih seperti dulu. Rina yang manis dan Azis Manuel Lawalata, yang akan makan dari piring yang sama, masih akan rindu dengan taburan sari toka di sepanjang sungai dan masih akan meributkan remeh temeh dunia.

Terima kasih, Faiz Ketjil!!!

NB : foto insert diambil tahun 2004, sebelum Tsunami Aceh , pementasan DarkPark Peksimida. Kiri ke kanan : aku, Fadhli Ompong dan Faiz Ketjil.