Pages

30 November 2008

seragam ijo lumut itu...


Ketika saya menulis postingan ini, rekan-rekan saya sedang berjuang, demi masa depan.
Saya berdecak kagum ketika tadi pagi jam 8 sampai di salah satu lokasi ujian, melihat kenyataan peserta untuk satu formasi diikuti 450 orang, padahal yang akan diterima hanya 2 orang.

Apa yg ditawarkannya, sehingga semua orang, termasuk saya, berbondong2 merebut tempat di sana?
Saya hanya temukan satu jawaban : kemapanan!
Dan satu jawaban itu menggiring kita pada banyak pemahaman.

Aneka diskusi tak cukup, aneka motivasi masih saja kurang, kita memang butuh sebuah jaminan, bahwa hidup akan baik-baik saja ke depan, bahwa kita takut menghadapi ketidaknyamanan akibat ketidakstabilan. 
Dan itu yang dijanjikannya, seragam ijo lumut itu!

NB : sekedar info, saya tidak lulus tes wawancara akhir cpns untuk formasi dosen di UNP, tapi saya bersyukur masuk 5 besar dari saingan untuk jurusan saya! Mungkin warna ijo lumut belum cocok untuk saya! Hehe

29 November 2008

kau memanggilku malaikat


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:arswendo atmowiloto
Saya mengagumi Arswendo sejak nonton keluarga cemara, setelah itu, membaca bukunya yang berjudul (kalau tidak salah) mengarang itu mudah, dan kekaguman saya bertambah ketika tahu beliau menjadi juri pada lomba penulisan cerpen di sebuah majlah remaja, dan karya saya beliau 'menangkan'.

Lama tidak membaca karya beliau, beberapa minggu lalu main ke toko buku, ada beberapa buah novel bertuliskan nama Arswendo di cover, salah satunya adalah buku ini.

Bercerita tentang sesosok malikat yang job descriptionnya berkaitan dengan maut, menemui mereka yang akan dijemput hingga menemani mereka di alam transisi.
Ada banyak karakater menarik dalam novel ini, si kecil Di, seorang istri yang tabah dan manut, sampah masyarakat hingga gadis lugu yang dibunuh sesudah diperkosa. Masing-masing karakter hidup dan punya ciri khas, semacam punya kesan berbeda untuk hal yang sama dan seharusnya menakutkan : maut.

Juga aneka puisi yang ditulis bapaknya Di, untuk anak semata wayangnya yang mempunyai Vlek di paru-paru, salah satunya :

“selamat pagi, Di
mari kita lanjutkan mimpi semalam
sebelum kita terbenam lagi
dalam pelangi”

Novel ini bagi saya termasuk kategori filsafat serius, semacam sebuah novel yang harus dibaca perlahan dan berulang kali, dan memberi kita pemahaman baru setelah menyelesaikannya.

Membaca novel ini, membuat saya melihat warna lain dari kematian. Sang Malaikat mengingatkan saya pada sosok malaikat dalam film City of Angel, malaikat yang tergoda, malaikat yang mampu merasa.

Hm.. sepertinya paling asyik membca novel ini sembari mendengarkan lagu Malaikat Juga Tahu-nya Dewi Lestari !!

Setuju?

27 November 2008

Pagi yang menakjubkan!

pulang larut tadi malam, membaca lembar-lembar masa lalu, larut lagi,..., bangun pagi mendengarkan duta-ku bersenandung, ngantor dan membaca lembarmu,...,

haruskah larut lagi?


katanya waktu adalah obat paling mujarab

26 November 2008

Endless Pain


romantisme picis melenakan saraf

candu hormonal merusak integritas hati

dan lalu terkapar

sakau sekarat 

berkalikali 

butuh berapa rotasi matahari lagi?



Bukankah waktu adalah obat paling mujarab?

19 November 2008

16 November 2008

Being Normal in Sunday Morning




Tadi malam, janjian sama duo reporter cewek nan tangguh : Vivi dan Iyut, minggu pagi ini jogging barengan. Awalnya, kita bertiga sempat pesimis, karena pulang ngantor pasti udah larut dan pagi-pagi, biasanya kita suka bangun agak kalah sama matahari (hee, bangun telat maksudnya). Apalagi hari minggu, meski agak nyantai, kita tetap kerja. Dan biasanya pagi minggu suka dimanfaatkan untuk tidur agak panjang dari pagi-pagi biasanya. Jadilah sebuah kesepakatan ngumpul di GOR jam 6 pagi.

Tadi pagi sempat gerimis, saya bangun dengan malas-malasan. Saya telpon Iyut, dia abis sholat subuh, telpon Vivi, udah selesai dan tinggal berangkat. Mendengar itu, saya juga siap-siap. Huff.. padahal baru jam 5. 30 loh. Sepertinya mereka semangat banget. Mungkin karena belakangan kita sering mengeluh, perut yang udah mulai ndut, pantat yang udah mulai melebar, disebabkan satu hal, pulang ngantor udah jam sepuluh malam, abis tu nyampe di rumah langsung makan malam dan tiduur!! Gimana gak endut coba?!

Dan jadilah, kita bertiga jogging mengelilingi GOR pagi tadi (dari rumah, tetep, pake motor,hee). Saya mulai mengingat, kapan saya terakhir kali jogging, ternyata lebih dari dua tahun yang lalu. Padahal cuma itu olahraga yang saya mahir, tidak seperti vivi yang memang sering ikut kompetisi Aerobik. Habis jogging, kami ikut senam massal di depan stadion. Lumayan, keringatan, dan rasanya semua otot berhasil digerakkan. Abis itu, kami bertiga sarapan. Nyantai-nyantai sebentar, diteruskan pulang ke rumah masing-masing dan siap-siap lagi ke kantor buat liputan.

Di Jalan Sudirman yang masih sepi, Iyut bilang, "serasa hidup normal, ya de? Bangun pagi, jogging, sarapan di gor dan bisa bawa motor sesantai ini."
Saya mengiyakan, dan terdiam. Padahal baru kemaren saya bikin postingan betapa 'tidak normal'nya hidup saya dan rekan-rekan lain sesama reporter. Dan aktivitas kami pagi ini, menghadirkan kesimpulan baru, betapa untuk 'hidup normal' itu begitu mudah.

So, siang ini, ketika saya mengetik postingan ini, saya baru pulang liputan, dengan badan agak pegel-pegel dan tentu semangat baru sisa senam aerobik massal. Minggu depan, kami janjian lagi untuk jogging, melakukan hal-hal normal sebisa kami.

NB: Vivi barusan pamit mau nonton Laskar Pelangi di bioskop sama yayangnya, setelah sebelumnya agak stress takut gak bisa nonton lagi kali ini, karena sebelumnya selalu batal karena ada liputan mendadak. Satu aktivitas normal lagi, kan?
Dan saya, menulis postingan ini ditemani musik gak jelas di luar sana, bikin saya ngerasa agak normal lah untuk siang ini.

Hidup normaaal!!!

15 November 2008

The Biografier



Saya biarkan ia menulis sesukanya.
Ia masukkan tulisan itu dalam satu postingan di blog rumah kami (belakangan ia lebih sibuk mengurus itu ketimbang mengurus blognya sendiri).
Sebelumnya, ia telah menyampaikan maksudnya, saya pikir ia bercanda, ternyata tulisan itu jadi juga.

Ia sebut itu biografi, ia beri judul dengan nama belakang saya. Ada angka di sana, dalam artian, tulisan itu akan bersambung. Entah itu disebut biografi, atau apa, tapi dari banyak fakta tentang saya yang ia kemukakan, begitu banyak opini pribadi, berkelindan dengan keresahannya terhadap hidup dan kehidupan.

Ah, saya biarkan saja, bahkan dengan banyak keberatan.

Dua malam, yang lalu, ia mengirimkan sms, meminta saya mengirimkan foto, katanya untuk biografi itu. Entah foto mana yang dimaksudnya, foto saya sedang bekerja, atau foto narsis melihat kamera dengan senyum sumringah dengan angle terbaik. Saya iyakan, tapi belum saya kirim. Tampaknya ia tak sabar dan 'menyolong' foto di friendster saya.

Menurut saya, ia penulis jenius, coba baca karya-karyanya yang berserakan di media lokal dan nasional, ia juga fotografer ulung, ia pemahat kata dan ia juga perayu ulung, namun ia saudara terbaik yang saya punya di 'rumah', bersanding dengan nama-nama lain yang pernah melangkah di laman hati dan tentu meninggalkan jejak.

Kami sesama anak suku, yang dibesarkan mitos sari toka dan batang tutuau, pernah berpeluk tangis di hari yang seharusnya bahagia. Kami pernah bermimpi tentang Taman Ismail Marzuki hingga Broadway dan Sidney Opera House. Kami pernah berbagi renungan sel abu-abu mulai dari hal remeh seperti tren fashion hingga filosofi Tuhan. Apa saja, sampai malam itu.
Entah apa dan siapa, ada yang retak malam itu, dan kami terlalu egois untuk kembali berbagi kisah.
Tapi saya yakin, dia dan saya tidak akan kemana-mana, dan ternyata benar, buktinya masih saya simpan sampai saat ini :

Aku sayang kamu, Ade. Aku ingin bertemu, tapi aku tahu kamu sibuk dalam lingkaran jam. Aku tahu jarak itu kian jauh saja terbentang. Salam, Faiz.(Dia buat namanya di akhir sms, dia pikir nomornya tidak lagi saya simpan)


Meski saya merasa tertinggal jauh dari perjalanannya yang mungkin lebih rumit dari rutinitas saya, saya yakin, saya dan dia, ya, kami, masih seperti dulu. Rina yang manis dan Azis Manuel Lawalata, yang akan makan dari piring yang sama, masih akan rindu dengan taburan sari toka di sepanjang sungai dan masih akan meributkan remeh temeh dunia.

Terima kasih, Faiz Ketjil!!!

NB : foto insert diambil tahun 2004, sebelum Tsunami Aceh , pementasan DarkPark Peksimida. Kiri ke kanan : aku, Fadhli Ompong dan Faiz Ketjil.

Masih, perihal waktu!


Di depan meja kasir, saya tercenung, ketika harus membayar denda 58 ribu rupiah untuk tiga buah VCD film yang tidak sempat saya tonton. Uang segitu bahkan bisa membeli satu film original.

Ini bukan soal uang, tapi soal sesuatu yang tidak lagi saya punya : waktu untuk diri sendiri. Terbayang tumpukan buku di samping tempat tidur yang dari saya beli sampai sekarang belum tersentuh sama sekali. Bahkan ada yang belum dibuka segelnya. Saya hanya bernafsu untuk membeli tapi langsung terkapar tak berdaya begitu sampai di rumah sepulang kerja. Kamar yang tak sempat dibereskan, arisan yang absen diikuti berkali-kali,  undangan ulang tahun dan baralek yang tidak terpenuhi, acara keluarga yang terabaikan, pertunjukan yang terlewatkan, ah begitu banyak!

Saya menikmati pekerjaan saya, mobilitas tinggi, di bawah tekanan deadline, bertemu banyak orang, terus meng-upgrade diri dan yang terpenting tidak membosankan. Di samping semua hal menantang tadi, saya harus rela kehilangan waktu untuk diri sendiri. Rutinitas saya berbeda dengan rutinitas pekerjaan lain. Kami hanya mengenal jam masuk dan tidak punya jam pulang, kami tidak kenal libur, tujuh hari dalam seminggu, tak ada istilah tanggal merah atau hari besar, semuanya adalah hari kerja. Untuk saat ini, It was so fun and funtastic!!

Keluhannya, ya itu tadi, saya tidak punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal di luar pekerjaan. Tak ada waktu lagi untuk menikmati jalan kaki di bawah gerimis, tak ada waktu untuk menyisiri rak-rak buku di Gramedia dengan santai dan tidak terkejar waktu, tak ada waktu untuk mendesain ulang kamar sendiri, tak ada waktu untuk ngrumpi di dapur dengan sang bunda, tak ada waktu untuk  diri sendiri!!

Saya tidak menyesal dan tidak ingin menyesali. Terkadang di umur sekarang saya hanya ingin ikut arus, membiarkannya mengalir, sampai nanti saya buntu di di persimpangan. Pada saat itu, saya hanya ingin punya waktu lebih untuk diri sendiri, melakukan banyak hal yang sangat ingin saya lakukan, karena bahkan satu detik yang lalu saja tidak bisa dijemput.

07 November 2008

Hari-Hari Pelangi

Alhamdulillah, saya mengubah persepsi dan saya temukan warna-warni!

Minggu ini begitu pelangi :

menit ke menit, berganti jam tanpa saya sadar, lalu hari bergulir, terus, mobilitas tingkat tinggi, ban bocor dua kali sehari, diselingi hujan, aneka diskusi, buku-buku (Padang Book Fair selalu berhasil 'menguras' setengah gaji saya), pengumuman menggembirakan, euphoria sesaat berganti kecemasan, silaturahmi yang tersambung kembali, kegundahan yang tidak terbukti, rasa sakit yang tergantikan keikhlasan.

Saya sudah usaha maksimal, dan saatnya ikhtiar digantikan tawakkal. Tak kan pernah ada yang sia-sia bukan?


01 November 2008

Aksesoris



Kenapa aksesoris menjadi hal penting dalam dunia fashion?

Ia menjadi benda wajib, harganya pun terkadang sama dan bahkan melebihi harga fashion itu sendiri.
Aksesoris sudah menjadi industri tersendiri dalam industri fashion. Makanya tak jarang kita lihat ada orang yang jadi tajir karena sukses sebagai desainer aksesoris.Berbagai bentuk, fungsi, warna dan modifikasi, tapi intinya cuma satu : memberi 'warna' pada fashion.

Kembali ke pertanyaan awal, kenapa aksesoris menjadi begitu penting, dan saya menemukan jawabannya : karena manusia bosan dengan sesuatu yang monoton.

Monoton dengan fashion yang itu-keitu-saja (bukankah trend fashion selalu seperti siklus dengan modifikasi?), maka terciptalah aksesoris, aneka rupa tapi memberi nuansa tersendiri pada pakaian yang kita kenakan

Sesimpel itukah menghilangkan kemonotonan?

Ternyata jawabannya iya! 

Kita cuma perlu aksesoris untuk menghilangkan kemonotonan. Hidup ini jelas tak hanya tentang kita dan apa yang kita mau.
 
Kita ingin hidup penuh warna, tidak membosankan, tidak monoton dan tentu dengan banyak pengalaman. Tetapi terkadang hidup yang seperti itu sangat tidak nyaman. Maka tak jarang jika menginginkan kenyamanan maka kita harus memasuki sesuatu yang stabil, roll in their way!
Dan bisakah kestabilan dicapai tanpa rutinitas yang tidak kontinyu?

Wah, rumit juga! Saking rumitnya, kadang kita tak berani keluar jalur, takut untuk buat warna lain dalam diri, takut dengan sesuatu di luar jalur karena takut menghadapi sesuatu yang tak terduga, karena sesuatu yang berbeda, tak sama dan  diluar rutinitas adalah hal yang tidak aman.

Tapi coba pikirkan lagi, tidak bisakah kita menganggap 'hal lain' itu sebagai aksesoris hari?
Rutinitas mungkin tak bisa ditinggalkan, tapi cara kita menjalaninya itu yang kita ibaratkan sebagai seorang fashionable yang sangat trendy, dengan 'aksesoris' agar tak bosan dengan penampilan, agar tak monoton dan tentu semakin enak dilihat.

Paham? Mungkin belum.
Begini saja, jika pergi kerja biasanya saya lewat Jalan Sudirman lalu masuk Jalan Bagindo Azis Chan belok kiri masuk ke Jalan Proklamasi, dan sampai. Maka ketika suatu hari saya ingin 'tampil lebih funky', saya gunakan aksesoris hari : berangkat ke kantor lewat Jalan Ratulangi belok ke Pattimura lalu masuk A. Yani, lewati simpang Olo Ladang, liat pantai di pagi hari ketemu kapal nelayan yang mulai menepi kemudian lewat Jalan Samudra belok di Hayam wuruk, masuk ke kawasan jalan Gereja, masuk lewat simpang dekat Nurul Iman ke Jalan Bagindo Azis Chan, belok kanan ke Jalan Proklamasi dan sampai di kantor.
Wah, memang butuh sedikit pengorbanan, sama seperti uang ekstra yang kita keluarkan untuk membeli aksesoris. Tapi apa yang saya dapatkan sebagai kompensasi : (hari) saya yang 'trendi'.

Jikalau demikian, tentu aksesoris (hari) tak lagi menjadi sesuatu yang tidak penting, ia adalah hal yang wajib, agar tampilan (hari) saya selalu beda, padahal (rutinitas) fashion saya itu-keitu-saja.


P.S : Hari ini saya bahagia sekali, karena tadi malam, saya habiskan energi untuk memutuskan akan pakai aksesoris apa untuk hari ini, mencoba fleksibel dangan standar pakem 'rutinitas' saya. mendobrak apa yang saya sebut wajib dikenakan atau tidak. Dan hasilnya luar biasa : (hari) saya trendy sekali!!