Pages

27 October 2008

So, dont give up!!!

Mereka yang buntu karena masa lalu, takut akan masa depan lalu mengabaikan hari ini, tidak pantas menerima hal seberharga kehidupan

( Jalaluddin Rumi)

L


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Romance
Author:Kristy Nelwan



Saya gak sengaja menemukan buku ini di toko buku.
Niatnya pengen beli novel ringan aja (dalam artian tidak tebal dan agak ngepop), namun begitu liat stoknya tinggal 3 biji, saya langsung putuskan weekend kali ini saya baca novel ini.

Yang terlihat : covernya bagus, classy dan gak ada embel-embel logo metropop atau chicklit dan sejenisnya. Saya juga suka jenis kertasnya, dan yang paling menarik justru judulnya, cuma satu huruf : L (pikiran pertama, duh, penulisnya pelit nih, hehe, kidding)

Saya suka background tokohnya, produser di sebuah TV Lokal. Guweh banget kan? Haha
Karena itu saya memutuskan tidak berhenti sebelum menyelesaikan novelnya. Mungkin karena penulis adalah insan TV, jadi rutinitas di TV begitu fasih di gambarkan, apalagi semua masalah yang biasanya dihadapain oleh karyawan TV lokal (eh, saya gak curhat ya!)

Novel ini bercerita tentang cewek bernama Ava Torino yang player banget (hal ini ter-excuse dari betapa jeniusnya dia), mengoleksi pacar dengan nama depannya sesuai abjad, A sampai Z. dan kemudian niatnya, ingin ditutup dengan the last love yang harus bernama L. Gila aja kan? 26 pria dan umumnya diatas rata-rata.

Tidak begitu jelas digambarkan, apa hebatnya si Ava ini, sampai dia begitu mudah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi rasanya saya cukup terpuaskan dengan dia yang asyik banget, baik sama semua orang dan tentu jenius dengan caranya sendiri. Tapi kok rasanya karakter seperti itu harusnya dilengkapi dengan wajah yang cantik banget atau aura yang begitu memukau agar dia yang bisa dengan begitu mudah dapet dan buang cowok jadi logis. Maksud saya, cewek yang standar gak akan mudah berbuat seperti itu, atau setidaknya butuh waktu agak lama lah.

Saya suka karakter Ava, tapi saya lebih suka karakter Rei. Jauh sebelum sakit nya terungkap, saya udah bisa nebak, nama depan Rei pasti ada huruf L nya. Dan terbukti benar kan. Tapi biar gitu, saya tetep aja dibikin gemas dengan bagaimana cara dia menutup suratnya dengan menuliskan nama lengkapnya yang berawal huruf L. Tapi yang jadi celah bagi saya, kenapa berbulan-bulan kerja satu kantor, satu divisi bahkan dengan ruang yang hampir bersebrangan, Ava gak tau nama lengkap Rei?
Satu lagi, menurut saya alangkah bagusnya penulis mengkaitkan selingkuhnya Ludi dengan ketiadaan kontak fisik antara dia dan tunangannya. Saya mikir dari awal, pasti Ludi ini ntar gak bakal jadi merit sama Ava, karena Ava bakal nemuin sesuatu yang paling gak bisa diterima, dan gak worth it dengan kesetiaan Ava. Saya malah menduga kalau Ava bakal nge-gap Ludi lagi selingkuh sama cowok, and its mean : Ludi is Gay, dan rasanya itu jadi lebih masuk akal.

Di luar dari itu, saya benar-benar salut sama novel ini, idenya ngajak kita berpikir di luar kotak. Salut untuk penulisnya!

Novel ini saya selesaikan jam dua dini hari. Dengan mewek tentunya. Haha, saya udah nangis sejak bagian Rei dirawat. Parah banget kan?

Saya suka pilihan kalimat bijaknya (bakal saya kutip), yang gak nyinyir dan ngena banget.

Satu lagi yang pantas dipuji adalah, sebenarnya secara garis besar novel-novel kontemporer sering mengusung tema yang sama : percintaan para lajang yang sukses, karir yang menjanjikan dan tentu keseharian sang tokoh yang look so glam. Tapi novel ini, melihat warna lain dari tema homogen tersebut.

Bravo Kristy Nelwan!!!

08 October 2008

J O D O H

lelaki baik untuk perempuan baik. 

itu kata Sang Pemilik Takdir, dan aku tidak meragukannya. 

entah siapa yang tidak cukup baik diantara kita. 

entahlah!

01 October 2008

HaPPY iDuL FiTRi

Alhamdullillah, akhirnya pertempuran usai sudah. Gak tau hasilnya gimana, setidaknya saya sudah berusaha maksimal, menjalani Ramadhan kali ini.
Buat semuanya, Selamat Hari Raya Idul Fitri ya, mohon maaf lahir batin.

Sebulan berpuasa, saatnya introspeksi. Ramadhan kali ini, agak lebih berat dari Ramadhan2 sebelumnya, hampir sama beratnya dengan Ramadhan tahun lalu dimana saya menyelesaikan skripsi dan kompre sekaligus di bulan Ramadhan. Belum lagi gempa di awal dan gempa2 susulan hampir setiap hari.
Ketika lafadz takbir menggema tadi malam, saya merenungi apa yang saya lewati pada Ramadhan kali ini. Entahlah, saya mungkin benar-benar sedang diuji. Tapi InsyaAllah, saya tak meragukan, bahwa Allah tidak akan pernah 'iseng' dengan jalan hidup saya, bahwa dari semua yang saya alami, tidak akan ada yang sia-sia.

Lebaran kali ini, saya tetap kerja. Ambil libur gantian dengan temen2 yang orang tuanya ada di luar Padang. Agak sedih juga sih, karena mama, kakak dan adek saya pulang kampung (gak mungkin mereka gak mudik hanya karena nungguin saya libur pada h plus tiga). Untung ada papa. Jadilah kami lebaran berdua saja, plus tante dan om dan sepupu2 saya yang datang ke rumah.
Tadi pagi, saya liputan Sholat Ied di gubernuran. Karena kepentingan gambar (gambar paling bagus itu, saat imam takbir tujuh kali dan lima kali) maka saya tidak ikut sholat. Abis salam2an sama pak gub dan pak wako, saya ketemu seorang bapak, yg tadinya menjajakan koran untuk alas sholat. Ngobrol sebentar, saya terharu. Jauh2 datang dari Lubuk Alung, Alhamdulillah, dapat seratus ribu.
Abis itu, saya pulang dulu. Sungkem sama keluarga besar, dan tentu, makan ketupat.
And then, saya ke rumah sakit. Ngeliput mereka yang merayakan lebaran di sana karena sedang sakit atau merawat keluarga. Dada saya sesak, karena semua yang saya wawancara pasti menangis, bercerita tentang perasaan mereka merayakan hari kemenangan di rumah sakit.

Demikian laporan saya untuk hari ini, kita kembali ke studio