Pages

24 September 2008

Saya yang puitis

Dari dulu saya hobi menulis, lebih tepatnya, menulis untuk diri sendiri. Lain kali saya bikin postingan tentang hobi saya yang satu itu. Waktu SMP dan SMU, saya terkenal dengan Ade Yang Puitis. Maksudnya, dulu saya suka bikin puisi, sampai punya buku khusus untuk itu malah.
Waktu itu, bagi saya puisi adalah diary, buku harian yang menyembunyikan wujud, tapi menelanjangi jiwa.
Beberapa hari lalu, sewaktu insomnia saya kambuh, saya buka-buka lagi buku-buku puisi tersebut, saya sampai takjub!
Wah, saya memang puitis ternyata! Haha ( narsis, again! )
Menurut ukuran saya, semua itu rasanya tak mungkin lagi saya tulis sekarang. Lalu saya mulai melihat tanggal ketika puisi-puisi itu dibuat, yang bisanya saya cantumkan di bawah tulisan.
Yang saya sadari adalah, kenapa saya begitu puitis di kala itu adalah : momentnya dan timing-nya.
Dulu, saya langsung menulis apa yang saya pikirkan dan rasakan. Saya tak membiarkan momentnya hilang bahkan dalam putaran jam. Tak heran, dulu saya menulis ketika pelajaran kimia, ketika menunggu ganti jam pelajaran, ketika rapat osis, tengah malam, dan bahkan habis mandi mau pergi sekolah.
Dan ketika saya petakan lagi, saya jadi produktif menulis puisi ketika saya sedang sangat tertarik dengan sesuatu ( atau seseorang? ) atau ketika saya sedang sangat sedih ( seperti ketika dikhianati teman atau habis putus sama pacar ).

Hm...betapa naik atau turunnya grafik hidup secara drastis bikin seseorang jadi kreatif ya!

Moment itu yang belakangan jarang saya manfaatkan, ketika hati saya berada di titik terbawah saking lukanya atau sedang melambung tinggi hingga puncak maksimal, saya membiarkannya, paling banter saya hanya tertawa atau menangis, setelah itu, hidup jalan terus!!!

Mungkin saya orang yang merugi untuk hal ini, karena saya sadar betul, hidup penuh warna ini bisa lebih bermakna ketika kita mengapresiasinya dengan bentuk lain, seperti sebuah lukisan bagi seorang seniman lukis atau tulisan bagi seorang penulis. Tulisan ini bikin saya malu hati sendiri, karena saya tau yang dimaksud adalah saya.

Saya pernah bermimpi, suatu saat, ketika saya telah berumah tangga, lalu suami saya melarang saya bekerja, maka saya akan menjadi penulis. Haha, impian muluk yang sangat mungkin diwujudkan. Tapi seorang teman bilang, kenapa tidak dari sekarang?

Ah, saya mungkin tidak lagi puitis. Atau saya butuh jatuh cinta lagi atau justru harus patah hati lagi, supaya jadi puitis lagi?
Haha, saya tidak tahu. Tapi saya masih mau berusaha, dan mungkin sekarang sedang menunggu moment di hidup saya, yang siapa tau datang besok pagi atau tidak akan pernah hadir sama sekali.