Pages

02 August 2008

Speak up!

Kalau ada yang bilang saya itu orangnya cerewet (baca : aktif berbicara), saya tidak akan membantah.
Berbagai julukan saya terima untuk itu, bawel, murai, dll. Saya sangat hafal betul, cerita tentang masa kecil saya, saat anak seusia saya masih cadel bilang sakit perut dengan atit eyut, saya justru sudah bisa berceloteh, panjang dan jelas.

Celoteh itu tersalurkan sejak saya kecil, komunikasi di rumah sangat membangun kerpibadian saya, lalu saya diikutkan kader mubaligh cilik waktu masih SD, menjadi orator. Berbagai lomba pidato saya ikuti dan Alhamdulillah hampir selalu menang. Sedikit dewasa, saya mulai jadi pengurus OSIS, kembali, kecerewetan saya tersalurkan. Setelah itu, mengikuti berbagai lomba debat. Lagi, speak up! Begitu saya menyukai dunia tulis, saya menyalurkan kecerewetan itu dalam bentuk tulisan, walau lebih banyak untuk diri sendiri. Kemudian, menjadi penyiar radio selama empat tahun. Kembali, bawel, murai.

Satu hal yang saya sadari, saya menemukan kenikmatan ketika berbicara, untuk satu-dua orang atau untuk banyak orang. Syukur-syukur ketika saya bicara, orang mendapat pengetahuan, mendapat pencerahan, termotivasi, atau sekedar menjadi terhibur.
Dan satu hal yang juga saya sadari adalah, karena aktif berbicara, bisa jadi saya dibenci.

Belum lagi, peribahasa : air beriak tanda tak dalam, sedikit bekerja banyak bicara, tong kosong nyaring bunyinya. Saya mati-matian untuk tidak seperti itu. Saya hanya buka mulut ketika apa yang akan saya sampaikan itu betul-betul saya ketahui. Saya hanya buka mulut ketika diminta untuk itu, saya benar-benar menahan diri untuk tidak nyeletuk sembarangan. Tapi terkadang itu saja tidak cukup.

Kecerewetan saya pun tergabung dengan sikap perfectionist. Maunya semuanya berjalan lancar, sempurna, in it way. Akhirnya terkadang (atau selalu) saya menjadi rekan kerja yang menyebalkan.

Saya sadar betul, tak ada alat yang bisa membaca pikiran kita, yang tanpa perlu kita bicara, apa yang kita inginkan bisa diketahui orang lain. Nah, bagaimana kalau kita mengetahui sesuatu, dan orang lain tidak tahu tapi ingin cari tau, apa kita harus diam saja.

Rekan sesama reporter bertanya tentang fraksi di DPRD Padang, pada rekan yang lain (bukan pada saya). Waktu itu saya masih dua bulan jadi "pemburu berita". Rekan yang ditanya menjawab (dan saya tahu persis jawabannya itu salah, karena menyangkut angka bukan analisa). Dari jawaban tersebut mereka mengembangkan percakapan dan melahirkan banyak kesalahan-kesalahan baru. Tidak tahan dengan hal tersebut, saya 'nyeletuk' : Loh, bukannya Fraksi itu jumlahnya segitu, kalau fraksi itu cuma sekian kursi, dan seterusnya.
Alhasil, sesudah itu, salah satu rekan mengomentari, saya terlalu "Show Up".

Begitu juga pada rapat-rapat evaluasi, dimana ada wadah untuk mengeluarkan uneg-uneg. Apa dengan diam, pimpinan tau apa yang saya pikirkan? Apa dengan tidak berbicara, ide-ide saya akan dimengerti?

Tetapi belakangan, kembali 'kecerewetan' saya menjadi sebuah minus. Kritik yang saya lontarkan dianggap sebagai bentuk 'kepongahan' saya. Bahwa tidak hanya saya yang hebat, bahwa semua juga berpikir, bahwa kalau selalu saya yang benar, orang lain akan membenci.

Banyak orang tak tau siapa yang dihadapi di depannya, sampai orang tersebut buka mulut. Ini saya kutip beberapa tahun lalu.
Saya mengartikannya secara bebas, kita tidak tahu karakter seseorang sebelum ia berbicara.

Terima kasih, untuk pembicaraan hari-hari belakangan. Kedepan, saya akan bener-benar mengendalikan diri, untuk sedikit bicara banyak kerja (how? ini dunia komunikasi, idealnya banyak bicara dan lebih banyak kerja, bukan?)

Tapi satu hal, saya mensyukuri anugrah "kecerewetan" ini, dengan cara saya sendiri.