Pages

26 July 2008

TaK HaNYa HiTaM DaN PuTiH


Qulil Haqqa walau kaana muron
Sampaikanlah yang benar itu sekalipun pahit!

Entahlah, apa ini sebuah pencapaian lain dalam karir jurnalistik saya yang baru seumur jagung, seuprit ujung kuku.
Semakin hari dunia semakin "tak hanya hitam dan putih".



Foto ini adalah foto yang diambil ketika saya ingin mengabadikan situasi abu-abu yang entah.
Banyak orang yang menghalangi, lengan saya dicekal, seorang bundo kanduang malah menasehati saya untuk tidak memecahbelah umat.Beberapa orang menghalangi saya mengambil gambar, padahal inilah fakta sebenarnya, apa yang terlihat, apa yang didengar dan apa yang terrangkum oleh lensa saya.
Yang lebih parah, bahkan ada rekan wartawan yang mengatakan bahwa saya hanya anak kecil yang tidak tau apa yang sedang terjadi. Padahal saya hanya ingin memberi tahu publik, inilah pemimpin kita, yang anti kritik, yang arogan,yang menurut saya sangat kekanakan, berdebat di luar forum, tidak ingin diceramahi.

Saya kecewa, dengan pemimpin di kota ini. Saya kecewa dengan mereka yang mengaku peduli, yg dulu lantang, langsung "mengkeret" ketika disembur dengan ledakan emosional. Mereka malah menenangkan dan mengambil hati sang pemimpin kembali, yang semakin jumawa, berkoar tentang kebaikan yang sudah dia lakukan.
Tetapi, saya lebih kecewa lagi, ketika rekan-rekan wartawan menodong saya, mengatakan bahwa saya akan memojokkan diri sendiri pada keadaan sulit, bahwa tindakan saya akan membahayakan perusahaan media saya, bahwa saya tidak tau apa-apa.
Ketika media bungkam, siapa lagi yang akan bersuara?

Malam ketika berita itu diturunkan, saya diperintahkan atasan untuk langsung pulang ke rumah dan mematikan handphone hingga besok pagi. Satu sms ancaman saya terima keesokan paginya.
Saya hanya merasa bahwa idealisme adalah hal terakhir yang harus dipertahankan di dunia abu-abu ini. Idealisme saya mengajak saya tak takluk selama saya berada di jalan yang benar meski nyali saya sempat mengerucut.