Pages

26 June 2008

Kite Runner


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Khaled Hosseini
Kata Mas Didik : kamu kalo baca buku ini, rasanya ada orang yang meremas-remas jantungmu dari dalam, menonjok dada berulang-ulang, dan rasa sakitnya gak bisa lagi diekspresikan dengan tangis.

Maka, saya baca lah, berulang-ulang, sampai novelnya lecek (penerbitnya gak merhatiin kualitas jilid novelnya), dan nagis berulang-ulang, ditonjok terus dari dalam!! Sakit, tetapi melegakan.

Novel ini ditulis oleh orang Afganistan yang gede di Amerika, bersetting Afganistan dan seperti buku-buku lain yang bercerita tentang kebenaran dalam lingkaran fiksi, buku ini sempat heboh di Afganistan, padahal harusnya mereka bangga, ini buku jadi best seller internasional, dan jadi novel Afgan pertama yang diterbitkan ke dalam bahasa Inggris.

Becerita tentang tokoh Amir, hubungan emosionalnya dengan Baba, persahabatan dan pengkhianatan, seorang anak kaya yang menggunakan kekuatan pengetahuan dan kekuasaan atas anak pembantu dan sekaligus sahabatnya Hassan. Hasrat untuk menjadi anak terbaik Babanya yang tidak sudi berbagi ruang bahkan dengan orang yang sangat mencintainya dibalut rasa cemburu, iri hati dan kegelisahan, menuntun Amir kecil melukai Hassan dengan sadar. Sejalan dengan waktu, Amir tidak pernah sungguh-sungguh lepas dari masa kecil dan rasa bersalah terhadap Hassan. Rangkaian kejadian yang memaksa dia dan Baba meninggalkan tanah kelahiran, menjadi pengungsi di negeri asing, memulai hidup baru di Amerika dan keengganan untuk kembali berhubungan dengan Afganistan.

Kekuatan novel berada pada hubungan emosional sarat rasa cemburu yang berkelindan dengan rasa sayang antara Amir dan Hasan, yang akhirnya terungkap adalah saudara se ayah. Konflik muncul hanya karena hal kecil, layang-layang biru, dan rasa ingin diakui Baba, tapi ini semua berujung pada pencarian jati diri.

Setting novel yang menceritakan kondisi sosial politik Afganistan pada waktu itu, konflik suku Pashtun dan Hazara benar-benar memberi kita pengetahuan tentang negeri yang saat ini masih memiriskan. Dan anda mungkin benar-benar akan merasa ditonjok dari dalam ketika mengetahui, Amir dengan mata kepalanya sendiri, dalam diam dan tidak berbuat apa-apa, melihat Hassan 'diperkosa' dengan menjijikkan, padahal itu semua demi layang-layang biru yang akan diperuntukkan untuk Baba, atas nama Amir, dengan kebanggaan penuh.

Saya, tidak akan bercerita lebih banyak lagi, tiap lembar adalah pengetahuan dan kebijaksanaan, tiap petualangannya memberi arti dan makana baru bagi hidup, tiap tokohnya punya karakter, berwatak dan tentu terlihat begitu penting dan hidup.

Novel ini sudah difilmkan, tentu dengan berbagai kontroversi. Tapi saya sarankan, lebih baik baca novelnya lebih dahulu, sama seperti film-film yang diadaptasi dari novel, kehebatan deskripsinya tidak tergambarkan pada filmnya.

Yang paling saya suka, kutipannya : Untukmu, keseribu kalinya

NB : saya suka cover asli novelnya, cover versi Indonesianya juga bagus, pokoknya keren lah! hee

25 June 2008

huaaaaaaaaah

ketika berkata pada diri sendiri untuk tidak banyak mengeluh, semua beban dan tekanan terwujud dalam bentuk jerawat.
yap, jerawat. numbuh satu dua tiga dan semakin banyak. haha, saya semakin dewasa ternyata.
kan kata orang tua kalo udah ada jerawat berarti udah dewasa.

oke, postingan kali ini tidak akan bercerita tentang jerawat tetapi saya ingin berbagi tentang tekanan.

hidup siapa sih yang tidak punya tekanan? biasanya, kita akan lega luar biasa kalau bisa lepas dari tekanan dengan usaha sendiri. tapi apa yang terjadi kalau seseorang hidup selalu dalam tekanan? bayang efek psikologi seperti apa yang dialami seseorang yang tumbuh dalam cacian, hinaan, target muluk, cita-cita tinggi dan keinginan akan penghargaan.

huaah, kok jadi rumit gini ya?
intinya, apa saya mulai merasa tertekan? kerjaan lancar dengan sandungan di sana-sini. keluarga baik-baik saja dan semuanya berjalan seperti biasa. lalu apa yang membuat saya tertekan dan saking beratnya jadi jerawatan?

mungkin cita-cita. cita-cita yang tidak bisa saya ekspos, yang selalu saya pikirkan terakhir sebelum tidur dan menjadi hal pertama yang saya pikirkan begitu saya bangun.
siapa yang meragukan kekuatan cita-cita? jangankan jerawat, rotasi bumi aja bisa ditahan jika ada cita-cita untuk itu.

so, chayooo ade!!!
untuk cita-cita!!!
juga untuk jerawat!!!



19 June 2008

Make Up dan Menjadi Dewasa

Haha… saya benar-benar dibuat terbahak, ternyata foto saya yang baru dikomentarin banyak orang. Hee, reaksinya macam-macam. Mungkin karena saya dulunya anti dandan. Ketika saya harus tampil all out, biasanya saya memanfaatkan mama atau peralatan lenong kakak saya.

Satu hal yang saya sadari ketika memasukkan lamaran di tempat kerja sekarang adalah persoalan performance, dan itu berujung pada make-up dan dandan. Dua hal yang luput dari keseharian saya sejak dulu. Malah saya mengutip Dee : make-up hanya untuk orang yang jelek dan merasa jelek. Dan saya tidak jelek dan tidak merasa jelek, karena itu saya tidak pernah pakai make up. 

Saya cinta kulit coklat pekat saya yang tidak perlu pemutih, saya cinta bibir maroon kehitaman saya yang tak perlu lipstik, saya suka pipi saya yang Alhamdulillah jarang dihinggapi jerawat dan tak perlu blush on, mata saya yang tak perlu eye shadow dan alis saya yang tak perlu dicukur.

Saat proses seleksi, ketidakbiasaan saya berdandan ternyata terbaca oleh pihak manajemen. Saya pun jujur. Ketika saya dinyatakan lulus, hal pertama yang ditekankan pimpinan adalah, bagaimanapun ini adalah dunia visual, dimana performance adalah hal pertama yang dinilai. Dan saya dibuat berjanji untuk tidak lagi minjam lipstick mama.

Dan, tarrraaaaa… Sekarang silahkan periksa tas saya.
Ada peralatan make up lengkap, walopun lebih banyak tidak digunakan. Karena itu, masih banyak yang protes ketika melihat saya on cam dengan wajah polos, berminyak dan hitam mengkilat (hahaha, guweh banget lah pokoknya)

Adanya make up lengkap di tas saya tidak serta merta merubah pandangan saya akan make up dan berdandan. Saya masih suka kerepotan, dan dandan satu jam sebelum jadwal. Saya masih risih liat orang yang menghabiskan banyak waktunya untuk penampilan fisik. Saya tetap tidak pede, ketika ada banyak warna di wajah saya. 

Tapi yah mau gimana lagi, teman-teman. Hidup jalan terus. Saya dituntut dewasa dengan salah satu standarnya, ya itu tadi, penampilan. Mau tidak mau, suka tidak suka.

Buat yang udah komentar foto saya yang baru di Friendster, makasih.
Foto itu yang saya gunakan untuk melamar di tempat kerja sekarang. Saat ini, rambut saya lebih pendek lagi, haha, kepentingan dandan, again!

Buat Zaky, foto itu gak pake make up malah. Pernah denger yang namanya photo shop? Nah salah satunya adalah yang terjadi pada foto itu. Hahaha. 
Untuk semua, saya masih seperti dulu, suka jalan kaki, suka panas-panasan, suka lupa nyisir rambut.

Cheers!!!
:)


15 June 2008

A goodbye note for friends of mine

Satu persatu sahabat pergi, dan takkan pernah kembali
(Iwan Fals)
Ibarat ada siang dan ada malam, begitu juga dengan pertemuan. Pasti ada perpisahan. Teman yang dulu menuntut ilmu di kota ini, harus meninggalkan dunia nyamannya, beranjak hadapi dunia real, kemanapun itu.
Satu persatu sahabat pergi, mungkin tidak akan kembali. Kecuali ada kesempatan untuk bersinggungan takdir, atau nanti, pada suatu ketika, kami akan menyingsingkan sedikit waktu, rehat dari rutinitas, untuk saling mengunjungi, menyambung silaturrahim dan berbagi cerita yang tak sempat dibagi.
enulis postingan ini, seorang teman, yg menyebalkan tapi selalu siap jadi tempat curhat saya, sedang berada dalam perjalanan menuju kota di provinsi tetangga. Saya ingin mengantarkannya sampai ke travel, tapi saya yakin, saya masih cengeng menghadapi perpisahan. 
Ah, terlalu banyak serpihan cerita yang mereka bawa ke tempat mereka berjuang untuk masa depan. Bandung, Jakarta, Bogor, Jambi, Batam, Pekanbaru, mention it!!! Mereka membawa cerita tentang kami, tentang kota ini, tentang setiap jejak langkah yang masih saya hitung hingga saat ini.
Kota ini mungkin tidak menjanjikan. Atau teman saya telah bosan dengan rutinitas di tiap jengkal kota yang telah kami jejaki. Atau kemudaan mereka 'tergiur' dengan tantangan di tempat lain. Atau, ah terlalu banyak perkiraan. Saya yakin, mereka adalah orang-orang dengan pertimbangan matang.
Apapun teman, selamat berjuang!!
Kecengengan saya dititikberatkan keegoisan karena ingin selalu dikelilingi kalian semua, sebagai tempat labuhan kelelahan rutinitas hari. 
Sukses untuk kita semua. Aaamiinn...

 

09 June 2008

CLeoPaTRa

Minggu lalu, ada orang yang menyebut saya cleopatra lagi, (kali ini lebih ke orientasi fisik).
Sebelum itu, orang terakhir yg memanggil saya Cleopatra sudah 'menyerah' menyebut saya begitu. Karena terbukti saya tidak terlalu 'Cleopatra'.
Haha, udah lama banget rasanya gak mendengar kata cleopatra lg.
Mungkin karena saya sudah 'kapok' untuk menjajah. Dua tahun belakangan, saya lebih nyaman di posisi sudut, mengamati, menganalisa, lebih aman dan tidak beresiko.
Atau mungkin karena saya sudah berlabuh dari pelayaran dengan kapal kertas buta arah. Entah.

Cleopatra.
Buku terakhir yang saya baca tentang legendanya, menyebutkan kalau dia ternayata sangat tidak menarik secara fisik. Setidaknya tidak seperti apa yang menjadi standar cantik bagi banyak orang. Cleopatra itu hitam dan gemuk.
Jadi apa yg divisualkan oleh film tentang ratu mesir ini, tentang kecantikan dan daya tariknya adalah sebuah kekeliruan.
Yang menonjol dari seorang Cleopatra harusnya bukan kecantikannya, tetapi power-nya, kekuasaannya, keinginan 'menjajah', dan tentu petualangannya (arti konotatif dan denotatif).

Oke, enough tentang Cleopatra.
Dia memang istimewa, inner beauty-nya selalu disebut, kebijaksanaannya dibicarakan, analisanya tajam, visinya luas, otaknya encer, karismanya kuat, dan ambisinya melegenda.
Tapi ketika banyak orang mengaitkan saya dengan Cleopatra (yang maksudnya mungkin memuji?), saya justru berkonotasi negatif.
Separah itu kah saya? Apakah saya penjajah? Atau saya seorang petualang? Keinginan menguasai?
Entah.

Tapi, hari-hari terakhir saya bergeming. Kok kali ini, saya ingin 'mengacau' ya? Kalau sebelumnya saya hanya pengamat dan terkadang menganalisa sendiri, kali ini rasanya saya ingin jadi pemain.
Ada 'kenyamanan' yang mengusik dan rasanya perlu saya usik. Keambiguan sosok yang membuat tanya. Apa saya memang cleopatra, mengusik, dan jika berhasil, kembali bertualang?
Entah.

Saya mengamatinya. Mencoba detail. Ingin mengusik dan membuat terusik. Tapi ini tidak seperti sebelumnya, dan tidak seperti yang anda bayangkan.

Hhh, lagi, entahlah. Saya masih menimbang-nimbang, masih mereka-reka dan mengukur. Kali ini mungkin sebagai jenderal perang, atau sebagai kepala 'pemerintahan'. Atau sebagai perempuan? Seperti Cleopatra?


07 June 2008

CRIMECORP COMPANY

http://www.crimecorp-net.blogspot.com/
Blognya Bang Ari, Editor News Padang TV.
Orangnya pendiam, tapi pemikirannya dahsyat.

Musim yang entah

Maaf, lama tak singgah. Multiply-ku lebih menggoda, lebih banyak warna, lebih populis, lebih girly dan lebih guweh banget, Hahaha.

Lama tak berkabar. Sebuah nama perusahaan media elektronik lokal ku panggul kemana pergi. Bukan radio seperti dulu, ini lebih 'serius', lebih menguras energi dan lebih ber-efek untuk orang banyak.
Ini termasuk dalam jajaran pekerjaan idaman. Being a journalist. 
Tapi ketika ideologi terkadang diremehkan, rimba Jambi, pedalaman Kalimantan 
atau bekas tsunami Aceh kembali membayang.

Entah, belakangan aku merasa semakin berwarna, semakin membiru.
Tapi terkadang juga merasa semakin tak jelas warnanya.
Teman-teman diskusi absurd hilang satu persatu. Butuh waktu sedikit lebih lama kali ini untuk mencerna.
Hanya saja, Alhamdulillah, Terimakasih Tuhan, untuk solliloquy yang tak lelah bekerja ini.

Ada rutinitas yang hilang. Rak buku masih setia dijambangi, tapi mereka tertumpuk di sudut bantal, menunggu sempat untuk dijamah. Bayangkan, ada yang sudah 2 bulan dibeli, belum dibuka segelnya sampai sekarang.
Capek? Iya. Mengeluh? Tidak. Ini semua menyenangkan, meski banyak yang mengganjal.

Ingin bertahan di sini, ingin juga sekolah lagi, ingin kembali jadi diri sendiri, ingin...
Ah fitrah manusia, banyak ingin.
Im jus a human being!!!

04 June 2008

RaDiKaLiSMe, iNiKaH SoLuSiNYa?

Perhatian semua orang tersedot oleh Tragedi Monas saat ini.
Apalagi mereka yang masih meraba-raba, seperti apakah Islam itu.
Dan dengan cara yang tepat kita tunjukkan pada dunia, inilah kita.
Inikah kita?

Inikah kepribadian kita? Kasar, brutal dan barbar?
Inikah kepribadian orang-orang yang mengumandangkan takbir di setiap aksinya?
Bukankah mereka yang dipukuli itu juga muslim? Masihkah setiap muslim bersaudara? Ataukah muslim yang bersaudara hanyalah muslim yang berada dalam satu bendera?

Seberapa ideal sih diri kita untuk men-judge orang lain lebih buruk, hanya karena kita tidak berada dalam satu organisasi?
Seberapa pantas diri kita untuk bisa bilang si Anu masuk surga, si Itu masuk neraka?
Bukankah Islam itu rahmat untuk semua?

Lalu, menjadi legalkah tindakan kekerasan yang dilakukan ketika aksi brutal itu diiringi takbir?

Apa karena dahi kita lebih hitam, jenggot kita lebih panjang, celana kita lebih gantung dan jilbab kita lebih lebar, itu berarti kita lebih baik dari yang lain?

Siti Aisyah pernah ditanya para sahabat, apakah Rasul pernah memukuli :
" Rasulullah SAW tidak pernah memukul perempuan meski pembantu sekalipun. Beliau tidak pernah menggunakan kedua tangan mulianya untuk memukuli siapapun"

Lalu, apa kita lebih baik dari Baginda Rasulullah SAW?