Pages

31 May 2008

Sehari Tanpa Tembakau


31 Mei adalah hari anti tembakau sedunia.
Simpelnya gini : sehari aja gak ngerokok apa salahnya sih?
Cuma satu hari, 24 jam!!!
Kalo kita liat kuantitas, apalah artinya satu hari dari 365 hari lainnya. Tapi tujuan dari ini semua adalah, menarik perhatian dunia dalam sehari, memberi tahu apa bahaya nikotin bagi tubuh.

Saya frustasi setiap akan mebahas nikotin dan rokok. Sefrustasinya saya menyuruh orangtua laki-laki saya berhenti merokok atau setidaknya mengurangi konsumsi nikotin. Kayaknya semua orang udah tau, bahkan perokok berat sekalipun, tahu apa bahaya merokok dan bagaimana dalam setiap isapan, aneka racun menggrogoti tubuhnya.

Nikotin, adalah penyebab kematian kedua di dunia. Dalam setahun, 3,5 juta jiwa meninggal karena bahaya tembakau.

Tapi seperti yang orang tua saya bilang, takdir itu di tangan Tuhan, bukan di tangan nikotin. Atau teman dekat saya yang langsung bercerita tentang nenek-nenek yang dia temui ---- berumur satu abad lebih, yg masih sehat dan lincah padahal perokok berat sejak muda ---- setiap saya berbicara tentang bahaya merokok.

Saya frustasi, menyatakan perang terhadap nikotin, apalagi setelah saya nonton film "Thank You For Smoking". Saya meradang ketika tau, jutaan orang di negeri kita, bergantung hidup dari industri rokok, saat tau, pendapatan cukai terbesar adalah cukai rokok, saat tahu, sepuluh persen kebutuhan hidup dihabiskan untuk membeli rokok, bahkan rumah tangga yang berpendapatan kurang dari sepuluh ribu sehari juga melakukan hal yg sama.

Akhirnya saya bosan sendiri, memberi tau bahaya rokok pada bapak dan teman-teman saya yg merokok. Saya bosan sendiri mlototin orang yang merokok di tempat umum. Saya bosan sendiri mengibaskan tangan pada orang yang merokok di sebelah saya!


Yang saya lakukan akhirnya cuma bilang pada diri sendiri, saya tidak akan pernah merokok.
Yang saya lakukan cuma bernafas sesedikit mungkin ketika ada orang merokok di sebelah saya.
Jika benar, hari ini seluruh umat dunia tidak menyentuh tembakau, sehari ini saja, apa yang akan terjadi? Apakah cukup membantu?

09 May 2008

DaeRaH WaJiB SeNYuM

Ngobrol-ngobrol sama pimpinan wilayah sebuah bank yang menaungi empat provinsi, saya jadi gak habis pikir. Bapak itu bilang, yang paling sulit dia terapkan pada karyawannya untuk memberikan layanan prima adalah tersenyum.

Yap, benar. Tersenyum. Diulang dengan huruf besar biar dramatis : TERSENYUM.

Wah, kok bisa ya? Apa susahnya sih tersenyum pada orang yang berinteraksi dengan kita? Bahkan, pimpinan tadi terpaksa mendiklat karyawannya di setiap akhir pekan, mengajarkan cara untuk tersenyum. Ya ampuuun, buat tersenyum aja ada diklat khusus?

Lalu, saya merefleksikannya pada diri sendiri. Apa saya sudah tersenyum pada setiap orang yang berinteraksi dengan saya?

Sopir angkot? Satpam kantor? Kurir paket? Tetangga ? Kenalan lama yang ketemu di jalan, PRT rumah temen yang menyuguhi minum, mas-mas bakso,waaaah, banyak sekali.

Pantas rasanya, sebuah bank terkenal mendiklat khusus karyawannya untuk tersenyum.
Simpel, tapi bermakna. Apa sih sulitnya, menarik bibir beberapa sentimeter ke samping, mungkin perlu perlihatkan sedikit gigi, keluarkan sedikit sapaan, dan lihat apa dampaknya.

Ayo, kita tersenyum!
Jadikan wilayah-wilayah publik sebagai daerah wajib senyum. Rumah sakit, bank, terminal, pertokoan, kantor Samsat, tempat wisata, kantor dan bahkan matahari pagi!!!

Yup, mulai aktivitas pagi dengan tersenyum dan bersenandung : Kau cantik hari ini, dan aku suka!!! Hehehe