Pages

22 April 2008

Murah Gak Pake Tapi?

Coba perhatikan sebuah iklan seluler.
Belakangan 'dia' meraja, ada simbolnya dimana-mana.
Juga iklan di televisi, yang menghantam semua seluler lain, dengan model "tapi-tapinya".
Yang ini, tapinya itu, yang itu tapinya ini.
Nah, dia sendiri yang mengklaim dirinya : Murah gak pake tapi.

Hm.. Sayang, saya bukan pengusaha seluler.
Kalau iya, pasti saya akan nyeletuk :
Murah, tapi sinyalnya payah!!!
Lah, kan masih pake tapi?
Piye iki? Baa ko?

Huff... Bener gak sih ada yang murah gak pake tapi?

Benarkah kalau tidak karena Kartini, perempuan Indonesia tidak akan seperti sekarang?

Saya sepakat dengan dirayakannya hari lahir Kartini sebagai hari pemberdayaan perempuan, hari emansipasi, hari kesetaraan gender atau apalah namanya. Saya menikmati gaung perempuan di setiap tanggal 21 April. Alasannya jelas, tidak seperti yang dikatakan teman saya bahwa saya seorang feminist, tetapi alasannya adalah, karena saya seorang perempan, maka saya menikmati setiap hal yang membahas perempuan.
Ada satu hal yang membuat saya mengernyit, membantah dan tidak sepakat. Tetapi ketika saya mewacanakan ketidaksepakatan itu, orang-orang pun heran : Anda berada di posisi mana sih? Apa anda memperjuangkan perempuan atau malah sebaliknya?. Satu hal itu adalah : Kalau tidak karena Raden Ajeng Kartini, perempuan Indonesia tidak akan seperti sekarang.

Kalimat seperti itu selalu muncul di setiap tanggal 21 April, diiringi kilasan profil perempuan zaman sekarang. Pilot perempuan, astronot perempuan, politisi perempuan, militer perempuan sampai tukang parkir, sopir angkot dan ojek perempuan.
Memang, kita akui, Kartini telah berjuang untuk kaum hawa pada zamannya.  Benar, bahwa Ia cukup berani mengkritik sistem pendidikan dan sosial terhadap perempuan lewat tulisannya pada waktu itu. Tetapi benarkah, tanpa Kartini, kaum perempuan akan tetap tertinggal? 

Sebelum saya pribadi mengemukakan opini pribadi saya, yang harus dicatat bahwa sejarah adalah konsensus. Sejarah adalah kesepakatan. Dan sejarah dibuat oleh orang yang berkuasa. Pada waktu sejarah tentang Kartini dibicarakan, pemegang kekuasaan adalah kaum lelaki.

Kalau kartini surat-suratan, Cut Nyak Dien udah jadi panglima perang, Kristina Marta Tiahahu telah ikut bertempur melawan penjajah, Bundo Siti Manggopoh sudah punya strategi perang yang jitu. Jauh sebelum Kartini, telah banyak perempuan yang memperjuangkan kaumnya dengan langkah lebih konkrit, bukan dengan 'mengeluh', 'curhat' yang kemudian jadilah, habis gelap terbitlah terang. Bahkan setelah itu Rohana Kudus menjadi jurnalis dan mendidik perempuan untuk berdaya dengan usaha sendiri.

Saya salut sama Raden Ajeng Kartini, tapi saya tidak sepakat, kalau dikatakan tanpa Raden Ajeng, perempuan Indonesia tidak akan seperti sekarang. Andai tanggal lahir Rohana Kudus dipopulerkan, tentu kita akan pakai baju kurung rame-rame di tanggal tersebut!

Selamat Ulang Tahun Raden Ajeng Kartini!