Pages

21 March 2008

Pribadi Yang Sulit


Kalo ada yang suka sama yang namanya peperangan, pasti orang itu punya "kelainan jiwa". Kalau ada yang fun dengan situasi konflik, pasti orang itu agak psycho. Kalau ada yang tidak nyaman dengan kedamaian, maka tempat baginya mungkin di Planet Mars. 

Karena yang namanya damai, tenang, aman, nyaman dan lancar adalah hal yang diinginkan semua orang.
Lalu, kenapa masih ada orang yang suka ribet sendiri dengan urusan orang lain yang tidak harus dia urusin?
Apa yang dia nikmati, jika akhirnya situasi jadi kisruh, gak tenang, dan penuh konflik.

Kok ada ya, orang yang bangga dengan kepribadiannya yang sulit.    

Apa enaknya dibenci orang? 
Apa untungnya dijauhi orang?
Orang yang selalu berprasangka buruk tentang orang lain, apa dia punya ketenangan batin?

Ilmu psikologi populer saat ini selalu menekankan bagaimana pentingnya emotional quotient dan bagimana soft skill bisa mendukung kesuksesan. Tapi ternyata saya masih menemukan orang-orang yang merasa bahwa dirinya bisa hidup sendiri, bahwa kesuksesan yang dia peroleh sekarang akan terus melesat dan dia tidak akan butuh bantuan siapapun di lingkungannya termasuk saya. Orang-orang seperti itu hadir di sekitar saya, membuat gerah dan seperti bisul : sakit, gatal, nyeri dan nunggu meradang.

Saya punya senior di tempat kerja yang benar-benar punya kepribadian sulit. Sampai saat ini, dia bahkan tidak pernah memulai percakapan lebih dulu. Jika ditanya dia hanya akan menjawab satu atau dua patah kata. Beberapa usulan saya dalam rapat dia mentalkan seolah saya ini orang goblok yang tidak berpikir. Bahkan, ketika atasan menyuruh kami bekerja dalam tim, dia dengan tegas menolak, pada detik itu juga dan di depan mata kepala saya.

Saya frustasi, bertanya-tanya dalam hati, cara pendekatan apalagi yang bisa saya lakukan supaya relationship saya dengannya ke depannya bisa aman sentausa, karena bagaimanapun, kami satu tim di tempat kerja.
Tapi rekan-rekan lain bilang, dia memang seperti itu, tipe kepribadian yang sulit, dan saya, disarankan untuk tidak lagi bersusah payah mendekati dia supaya lebih akrab.

Akhirnya saran itu saya ikuti. Saya menghindari dia seperti dia menghindari saya. Dia diam, saya juga tidak akan memulai percakapan.
Dia merasa tidak ada urusan dengan saya, saya pun lebih show off, saya juga bisa. Berkali-kali dia meremehkan saya. Berkali itu juga saya bicara dengan diri sendiri, bahwa dia hanya masuk lebih dulu, memulai start lebih awal dari pada saya. Cerita akan berbeda kalau kami sama-sama melakukan start. Belum tentu akan seperti sekarang.

Awalnya, saya memaklumi, itu kepribadiannya. Saya akan mengerti dan harus mengerti. Tapi pada suatu pagi, saya harus mengubah persepsi saya tentang dia : ini bukan tipe pribadi yang sulit, tapi tipe pribadi yang tidak akan pernah bisa matching dengan kepribadian saya.
Pagi itu, saya meradang. Dia - Yang Namanya Tak Boleh Disebutkan - yang awalnya saya kira tidak akan mengusili saya, karena nama saya pun belum pernah ia ucapkan, ternyata melakukan sesuatu yang bagi saya benar-benar telah melanggar pagar yang saya buat. Saya pikir dia tidak peduli dengan sepak terjang saya, tapi ternyata dia seorang pengamat ulung, memanfaatkan situasi, dan ketika saya tidak ada, dia "menggonggong" dengan fasihnya, seolah dia tahu banyak tentang saya.

Jelas saya marah. Saya tidak pernah mengusilinya, berusaha untuk tidak ikut campur urusannya, karena dia - menurut orang2 - adalah tipe pribadi yang sulit. Tapi ketika saya diusili dengan indahnya di belakang saya, apa harus, kepribadiannya itu saya maklumi lagi?
 

Wah, semut diinjak saja menggigit. Apalagi saya !