Pages

14 March 2008

PEMBUNUHAN KARAKTER


Saya punya seorang fans. Sebenarnya wajar jika seorang penyiar radio punya fans. Tapi yang satu ini agak aneh. Dia menelpon saya satu kali sehari. Jika tidak saya angkat, dia akan menelpon terus, sampai call register HP saya menunjukkan angka puluhan kali missed calls. Dia juga akan menelpon on air di semua program, dan dengan gamblangnya dia akan on air-kan "keakraban" kami, padahal sekalipun saya tidak pernh bertemu dia, ngobrol pun bahkan hanya 30 detik, dan saya tidak pernah membalas semua smsnya. Tapi bagi dia dan dunianya, saya adalah 'kekasihnya'. Sms darinya penuh kata cinta. 

Awalnya bagi saya itu tidak masalah, tetapi lama kelamaan, dia semakin offense dan ketika dia on-air di radio (siapapun penyiar yg siaran pd waktu itu), dia selalu menyebut nama saya dengan kata sayang dan dengan nuansa kepemilikan : Ade-Ku Sayang. Awalnya bagi saya lagi-lagi tidak masalah. Tetapi jika hal itu dia lakukan berualang kali, setiap hari, setiap waktu, dan diumumkan di radio saya dengan kemungkinan didengar orang-orang sekota Padang, jelas saya meradang. Apalagi akhir-akhir ini dia agak nyeleneh dengan omongan aneh seperti : Engkau milikku slamanya, ingin bercinta denganmu, dan lain-lain sebagainya, jelas saja saya akan naik pitam.


Beberapa teman saya sudah protes, bahkan beberapa pendengar juga sudah menyampaikan tanggapan mereka, entah mereka fans saya juga atau tidak. Umumnya mereka tidak suka dengan cara oknum fans tersebut. Cara yang dia lakukan bisa saja mencemarkan nama baik saya (wah, apa iya seserius itu? Atau mungkin dia cuma menutup kemungkinan peluang saya dilirik laki-laki lain. Hee ) Tapi yang paling penting, dia telah membunuh karakter saya, terlepas dari apakah usahanya itu berhasil atau tidak.

Character assasination atau usaha pembunuhan karakter tidak saja menyangkut fitnah dan menyebarkan berita bohong tentang seseorang. Ini semua menyangkut pencitraan tentang diri seseorang dari orang lain.


Jika fans saya itu selalu mengumbar 'kecintaannya' melalui radio, maka itu berarti dia berusaha mencitrakan kepada orang banyak apa yang dia - mungkin - rasakan terhadap saya, dan secara tidak langsung, dia juga akan mencitrakan kepribadian saya kepada orang lain. Jika benar kami sangat akrab sampai harus dipublikasikan, maka ini berubah menjadi sebuah kemesraan yang diumbar. Tetapi jika saya bahkan tidak pernah bertemu dengannya, dan dia mencitrakan kepada orang banyak tentang betapa dekatnya kami, maka itu jelas pencitraan yang salah. Dan inilah yang disebut oleh teman saya dengan pembunuhan karakter ( Padahal saya masih ragu, benarkah sebuah karakter bisa dibunuh, dan jika berhasil dibunuh, apakah karakter itu akan mati?)


Jika demikian maka mungkin saya juga pernah membunuh karakter orang lain dan mungkin juga berkali-kali dibunuh karakternya oleh orang lain. Berapa kali kita menilai orang dari penampilan, dan penilaian itu membuat kita berprasangka untuk kemudian kita sampaikan ke orang lain tanpa crosschek terlebih dahulu? Berapa kali juga kita memberi penilaian yang salah tentang orang lain padahal kita belum habiskan banyak waktu untuk mengenalnya, dan penilaian awal tu membuat kita punya jarak dengan orang yang kita nilai?
Hhh, entahlah. Mungkin dalam keseharian, kita adalah pembunuh berdarah dingin tanpa kita sadari.

Ada beberapa orang dengan kepribadian sulit di tempat kerja saya yang baru. Senior dan bahkan atasan. Banyak hal telah saya lakukan untuk mendekati mereka, sekedar senyum, ngajak ngobrol, melempar candaan ringan dan segala bentuk komunikasi. Tapi akhirnya saya pun menyerah. Bayangkan, telah satu bulan kami bekerja sama, dia bahkan tidak hapal nama saya yang cuma tiga huruf. 


Damn!! Tapi yah mau bagaimana lagi, life goes on. Trus ada juga yang sok pinter banget, gak mau menerima masukan, merasa paling pinter, paling berpengalaman, padahal cuma beda beberapa bulan. Trus.. ah, penuh keluhan jadinya. Tapi orang-orang seperti merekalah yang membuat saya takut, ngeri, karena merekalah para pembunuh berdarah dingin itu, menilai saya bahkan jauh sebelum saya berkiprah, memberikan judgement bahkan sebelum saya berbuat. Dan jika demikian, maka seperti apapun pencitraan yang akan saya beri, akan jadi sia-sia buat mereka.

Tapi toh, saya tidak percaya, saya akan jadi empty begitu mereka membunuh karakter saya, karena -sekali lagi- saya mempertanyakan benarkah karakter bisa dibunuh, jika bisa apakah akan mati total, dan jika iya, apakah si korban akan benar-benar tidak punya karakter?


Jika jawabannya kembali iya, maka saya harus bisa menyiapkan banyak karakter cadangan dengan prinsip mati satu tumbuh seribu.