Pages

31 March 2008

BoYS WiLL Be BoYS

Yup, boys will be boys, man gotta do what man gotta do!!

Siapapun mereka, bagaimanapun cara mereka berpikir bahkan sematang apapun kepribadian mereka, mereka tetap dan akan selalu berpikir bahwa mereka pendonor tulang rusuk yang 'mengizinkan' kaum saya ada. Mereka tetap akan berpikir bahwa semua permasalahan dunia ini ada di pundak mereka, bahkan, mereka menganggap merekalah yang akan menanggung semua kemelut dan semua kerumitan hidup.

Aku mungkin lupa, seberapa matang pun kamu, seberapa kagum pun aku dengan kepribadianmu, kamu tetaplah lelaki Habibi.
Boys will be boys, dont U?


Aku tidak akan meminta maaf.


Aku tidak akan meminta maaf.

Semuanya menumpuk dan membuncah, meledak dan berkeping.
Satu yang kusadari bahwa aku bagian dari hegemoni patriarkhi yang rumit ini. 
Bahwa aku dan kamu dibesarkan dalam konstruksi gender yang timpang.
Aku lupa bahwa kamu adalah makhluk maskulin yang mendonorkan tulang demi kehidupan kaumku.

Aku lupa bahwa kamu dan kaummu masih menguasai dunia, masih membuat sejarah dan masih akan punya alasan membenarkan semua ‘ketimpangan’ yang harus aku terima karena aku perempuan.

Aku memang lupa bahwa kamu lelaki dan untuk lupaku itu, kali ini aku tidak akan meminta maaf!!!

Maafkan aku karena kali ini aku tidak akan meminta maaf!

21 March 2008

Pribadi Yang Sulit


Kalo ada yang suka sama yang namanya peperangan, pasti orang itu punya "kelainan jiwa". Kalau ada yang fun dengan situasi konflik, pasti orang itu agak psycho. Kalau ada yang tidak nyaman dengan kedamaian, maka tempat baginya mungkin di Planet Mars. 

Karena yang namanya damai, tenang, aman, nyaman dan lancar adalah hal yang diinginkan semua orang.
Lalu, kenapa masih ada orang yang suka ribet sendiri dengan urusan orang lain yang tidak harus dia urusin?
Apa yang dia nikmati, jika akhirnya situasi jadi kisruh, gak tenang, dan penuh konflik.

Kok ada ya, orang yang bangga dengan kepribadiannya yang sulit.    

Apa enaknya dibenci orang? 
Apa untungnya dijauhi orang?
Orang yang selalu berprasangka buruk tentang orang lain, apa dia punya ketenangan batin?

Ilmu psikologi populer saat ini selalu menekankan bagaimana pentingnya emotional quotient dan bagimana soft skill bisa mendukung kesuksesan. Tapi ternyata saya masih menemukan orang-orang yang merasa bahwa dirinya bisa hidup sendiri, bahwa kesuksesan yang dia peroleh sekarang akan terus melesat dan dia tidak akan butuh bantuan siapapun di lingkungannya termasuk saya. Orang-orang seperti itu hadir di sekitar saya, membuat gerah dan seperti bisul : sakit, gatal, nyeri dan nunggu meradang.

Saya punya senior di tempat kerja yang benar-benar punya kepribadian sulit. Sampai saat ini, dia bahkan tidak pernah memulai percakapan lebih dulu. Jika ditanya dia hanya akan menjawab satu atau dua patah kata. Beberapa usulan saya dalam rapat dia mentalkan seolah saya ini orang goblok yang tidak berpikir. Bahkan, ketika atasan menyuruh kami bekerja dalam tim, dia dengan tegas menolak, pada detik itu juga dan di depan mata kepala saya.

Saya frustasi, bertanya-tanya dalam hati, cara pendekatan apalagi yang bisa saya lakukan supaya relationship saya dengannya ke depannya bisa aman sentausa, karena bagaimanapun, kami satu tim di tempat kerja.
Tapi rekan-rekan lain bilang, dia memang seperti itu, tipe kepribadian yang sulit, dan saya, disarankan untuk tidak lagi bersusah payah mendekati dia supaya lebih akrab.

Akhirnya saran itu saya ikuti. Saya menghindari dia seperti dia menghindari saya. Dia diam, saya juga tidak akan memulai percakapan.
Dia merasa tidak ada urusan dengan saya, saya pun lebih show off, saya juga bisa. Berkali-kali dia meremehkan saya. Berkali itu juga saya bicara dengan diri sendiri, bahwa dia hanya masuk lebih dulu, memulai start lebih awal dari pada saya. Cerita akan berbeda kalau kami sama-sama melakukan start. Belum tentu akan seperti sekarang.

Awalnya, saya memaklumi, itu kepribadiannya. Saya akan mengerti dan harus mengerti. Tapi pada suatu pagi, saya harus mengubah persepsi saya tentang dia : ini bukan tipe pribadi yang sulit, tapi tipe pribadi yang tidak akan pernah bisa matching dengan kepribadian saya.
Pagi itu, saya meradang. Dia - Yang Namanya Tak Boleh Disebutkan - yang awalnya saya kira tidak akan mengusili saya, karena nama saya pun belum pernah ia ucapkan, ternyata melakukan sesuatu yang bagi saya benar-benar telah melanggar pagar yang saya buat. Saya pikir dia tidak peduli dengan sepak terjang saya, tapi ternyata dia seorang pengamat ulung, memanfaatkan situasi, dan ketika saya tidak ada, dia "menggonggong" dengan fasihnya, seolah dia tahu banyak tentang saya.

Jelas saya marah. Saya tidak pernah mengusilinya, berusaha untuk tidak ikut campur urusannya, karena dia - menurut orang2 - adalah tipe pribadi yang sulit. Tapi ketika saya diusili dengan indahnya di belakang saya, apa harus, kepribadiannya itu saya maklumi lagi?
 

Wah, semut diinjak saja menggigit. Apalagi saya !



14 March 2008

PEMBUNUHAN KARAKTER


Saya punya seorang fans. Sebenarnya wajar jika seorang penyiar radio punya fans. Tapi yang satu ini agak aneh. Dia menelpon saya satu kali sehari. Jika tidak saya angkat, dia akan menelpon terus, sampai call register HP saya menunjukkan angka puluhan kali missed calls. Dia juga akan menelpon on air di semua program, dan dengan gamblangnya dia akan on air-kan "keakraban" kami, padahal sekalipun saya tidak pernh bertemu dia, ngobrol pun bahkan hanya 30 detik, dan saya tidak pernah membalas semua smsnya. Tapi bagi dia dan dunianya, saya adalah 'kekasihnya'. Sms darinya penuh kata cinta. 

Awalnya bagi saya itu tidak masalah, tetapi lama kelamaan, dia semakin offense dan ketika dia on-air di radio (siapapun penyiar yg siaran pd waktu itu), dia selalu menyebut nama saya dengan kata sayang dan dengan nuansa kepemilikan : Ade-Ku Sayang. Awalnya bagi saya lagi-lagi tidak masalah. Tetapi jika hal itu dia lakukan berualang kali, setiap hari, setiap waktu, dan diumumkan di radio saya dengan kemungkinan didengar orang-orang sekota Padang, jelas saya meradang. Apalagi akhir-akhir ini dia agak nyeleneh dengan omongan aneh seperti : Engkau milikku slamanya, ingin bercinta denganmu, dan lain-lain sebagainya, jelas saja saya akan naik pitam.


Beberapa teman saya sudah protes, bahkan beberapa pendengar juga sudah menyampaikan tanggapan mereka, entah mereka fans saya juga atau tidak. Umumnya mereka tidak suka dengan cara oknum fans tersebut. Cara yang dia lakukan bisa saja mencemarkan nama baik saya (wah, apa iya seserius itu? Atau mungkin dia cuma menutup kemungkinan peluang saya dilirik laki-laki lain. Hee ) Tapi yang paling penting, dia telah membunuh karakter saya, terlepas dari apakah usahanya itu berhasil atau tidak.

Character assasination atau usaha pembunuhan karakter tidak saja menyangkut fitnah dan menyebarkan berita bohong tentang seseorang. Ini semua menyangkut pencitraan tentang diri seseorang dari orang lain.


Jika fans saya itu selalu mengumbar 'kecintaannya' melalui radio, maka itu berarti dia berusaha mencitrakan kepada orang banyak apa yang dia - mungkin - rasakan terhadap saya, dan secara tidak langsung, dia juga akan mencitrakan kepribadian saya kepada orang lain. Jika benar kami sangat akrab sampai harus dipublikasikan, maka ini berubah menjadi sebuah kemesraan yang diumbar. Tetapi jika saya bahkan tidak pernah bertemu dengannya, dan dia mencitrakan kepada orang banyak tentang betapa dekatnya kami, maka itu jelas pencitraan yang salah. Dan inilah yang disebut oleh teman saya dengan pembunuhan karakter ( Padahal saya masih ragu, benarkah sebuah karakter bisa dibunuh, dan jika berhasil dibunuh, apakah karakter itu akan mati?)


Jika demikian maka mungkin saya juga pernah membunuh karakter orang lain dan mungkin juga berkali-kali dibunuh karakternya oleh orang lain. Berapa kali kita menilai orang dari penampilan, dan penilaian itu membuat kita berprasangka untuk kemudian kita sampaikan ke orang lain tanpa crosschek terlebih dahulu? Berapa kali juga kita memberi penilaian yang salah tentang orang lain padahal kita belum habiskan banyak waktu untuk mengenalnya, dan penilaian awal tu membuat kita punya jarak dengan orang yang kita nilai?
Hhh, entahlah. Mungkin dalam keseharian, kita adalah pembunuh berdarah dingin tanpa kita sadari.

Ada beberapa orang dengan kepribadian sulit di tempat kerja saya yang baru. Senior dan bahkan atasan. Banyak hal telah saya lakukan untuk mendekati mereka, sekedar senyum, ngajak ngobrol, melempar candaan ringan dan segala bentuk komunikasi. Tapi akhirnya saya pun menyerah. Bayangkan, telah satu bulan kami bekerja sama, dia bahkan tidak hapal nama saya yang cuma tiga huruf. 


Damn!! Tapi yah mau bagaimana lagi, life goes on. Trus ada juga yang sok pinter banget, gak mau menerima masukan, merasa paling pinter, paling berpengalaman, padahal cuma beda beberapa bulan. Trus.. ah, penuh keluhan jadinya. Tapi orang-orang seperti merekalah yang membuat saya takut, ngeri, karena merekalah para pembunuh berdarah dingin itu, menilai saya bahkan jauh sebelum saya berkiprah, memberikan judgement bahkan sebelum saya berbuat. Dan jika demikian, maka seperti apapun pencitraan yang akan saya beri, akan jadi sia-sia buat mereka.

Tapi toh, saya tidak percaya, saya akan jadi empty begitu mereka membunuh karakter saya, karena -sekali lagi- saya mempertanyakan benarkah karakter bisa dibunuh, jika bisa apakah akan mati total, dan jika iya, apakah si korban akan benar-benar tidak punya karakter?


Jika jawabannya kembali iya, maka saya harus bisa menyiapkan banyak karakter cadangan dengan prinsip mati satu tumbuh seribu.

09 March 2008

Angkot Oh Angkot

Sejak punya kerjaan baru yang mengharuskan saya bekerja dengan mobilitas tinggi, saya jadi tambah sering naik angkot. 
 
Apa sih jadinya kota Padang tanpa angkot? Pasti Ribet banget. Beda sama kota Jakarta yang angkutan umumnya hanya 10 persen dari jumlah kendaraan di sana. Padang adalah kota angkot. Jumlahnya banyak, berwarna-warni, penuh inovasi dan jadi barometer musik, karena musik angkot bener-bener mewakili musik populer kota padang.
 
Dalam sebuah diskusi, Pak Yusrizal KW pernah 'curhat' tentang derita beliau sebagai konsumen angkot. Apa yang beliau alami ternyata saya alami juga dan para angkoters se-kota Padang.
Angkotnya boleh keren, warna-warni, wangi, dengan pernak-pernik boneka lucu, ada permennya segala malah, tapi kalo semua orang mengeluh?

Ugal-ugalan dan musik keras, rawan copet, itulah angkot di Kota Padang Tercinta Kujaga dan Kubela ini.
Sopir angkot ngegas, ganti persneling, menikung, belok, ngerem, berhenti, idupin musik dengan satu mood : Sesuka hati.
Rasanya pengen banget nyuruh dia pindah duduk dibelakang dan kita gantiin dia jadi sopir di depan, setidaknya sampai tempat tujuan kita.
Apa tunggu korban lebih banyak lagi baru mau tertib?

Saya mau ngajak para angkoters sekota Padang, mari kita ngedidik supir angkot untuk memperhatikan kenyamanan penumpang. Caranya mudah, tapi akan dianggap aneh untuk pertama kali dan gak akan ngaruh kalo cuma saya yang melakukan :
  • Jangan naik angkot yang sudah terlihat ugal-ugalan sebelum kita stop.
  • Jangan naik angkot yang berkaca gelap
  • Jangan naik angkot yang musiknya udah terdengar dari jarak 300 meter
  • Ini yg paling penting, kalo udah terlanjur naik angkot ugal-ugalan, kominikasikan sama sopirnya ttg keinginan kita, demi sebuah kenyamanan. Kalo dia gak mau ngabulin, minta dia nurunin kita, dan JANGAN BAYAR ONGKOSNYA. lebih baik ganti, naik angkot yang lain.
Kalo semua penumpang kayak gitu, saya yakin gak ada lagi angkot ugal-ugalan di Padang.
Saya udah ngobrol2 sama Pak Syaharman Zanhar, Ketua YLKI Sumbar, beliau bilang, kita bisa kok ngaduin sopir angkot ke YLKI secara tertulis, karena kita adalah konsumen yang dilindungi UU konsumen.
Kalo udah kayak gt, sama seperti pembeli adalah raja, maka penumpang jugalah raja.