Pages

06 February 2008

CIVIL SERVANT (BACA : PELAYAN PUBLIK)

Ada "keasyikan" tersendiri kalau terlibat dalam penelitian kualitatif dgn metode pengumpulan data wawancara mendalam.
Kita bakal ketemu banyak org cerdas dan berdiskusi dgn beliau2 itu membuat kita jadi punya perspektif baru dan terkadang tercerahkan.
Biasanya informan adalah aktifis, birokrat dan para publik figur sesuai dgn kapabilitas masing2.
Yg paling colorful dari semua proses wawancara adalah mewawancara para birokrat. Mereka (sebagian besar) tidak seperti para aktivis yg bersedia wawancara di rumah. Jadi jelas harus ke kantor. Nah, warna warni itu dimulai dari sini.
Pertama, hadapilah front desk dengan 3S. Di sini saya biasanya akan bertemu satpam berkumis atau mbak2 cantik. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan saya akan di suruh menghadap sekretariat atau bagian umum atau bagian humas.
Nah, di sini, saya akan ditanya2 banyak hal. Wah, sebelum mewawancara saya diwawancara lbh dulu.
= Dari mana? Mau ngapain? Buat skripsi ya?
+ Dari ---, mau ----, bukan, ini risert ilmiah yg independen.
= Alah, bilang aja mau ngambil data buat skripsi, ga usah boong deh, masih kuliah kan? eh, kok udah skripsi aja ya, kan masih kecil kayaknya.
(surat tugas saya di tangannya tidak kelihatan -ada nama saya plus gelar sarjana dan jabatan sebagai peneliti-, badan saya yg kecil di seberang meja malah keliatan, peribahasa baru)

di kantor yg lain,
= Masukin surat dl ya dek, nanti baru di disposisi, jadi nanti akan jelas ke bagian mana.
+ saya sudah janji mau wawancara hr ini sm pimpinan, buk. janji dibuat langsung oleh beliau via telpon kemaren.
+ Wah, tidak bisa begitu, adek harus ke bagian ini dulu, baru bagian itu, trus dari sana dpt rekomendasi dl baru nanti di masukkan ke list jadwal, lalu hubungi sekretarisnya, nanti dari sana...
= tapi buk, saya sdh diiyakan oleh pimpinan ibuk
+ gak bisa begitu...bla bla bla
(akhirnya all day saya di kantor itu, di ping pong, padahal pimpinan mereka sdh mengiyakan utk wawancara pd pagi hari)

di dinas yg lain,
+ wah, pimpinan sedang rapat
= saya tunggu aja ya buk
+ rapatnya selesai malam mungkin
= kalo gt saya kembali lagi besok
esoknya,
+ pimpinan ke luar
= saya tunggu aja
+ bakal lama mungkin
= gak apa2 buk (sampai sore menunggu, bolak-balik menanya apa pimpinan udh kembali ke kantor, tetap pimpinannya gak ada)
esoknya lagi,
+ kok tiap hari sih kesini, adek ini jualan apa kok betah banget? kan sudah ada tulisan di depan tdk menerima  promosi apapun.
( hohoho, jd saya dikira sales dan dia ngebuang waktu saya 3 hari dan berlagak jd pahlawan buat atasannya supaya si bos tdk ngebuang waktunya mendengar penawaran 'barang yg akan saya jual". Jadi buat apa saya berkoar ttg lembaga saya dan ngasih liat surat tugas yg rujukannya menteri dalam negeri? Padahal saya datang berblazer casual, pake sepatu dan dengan senyum hangat.Hm..para sales promotion trnyata cukup fashionable)

di tempat lain,
= Kami ndak bisa diwawancarai dek, kerja kami banyak (sambil menukar saluran  infotainment tv di dekat meja kerjanya)
+ Saya mau wawancara kepala bagian  buk
= ya, beliau lebih banyak lagi kerjanya, kerja  dinas ini untuk masyarakat banyak tau, jangan karena adek sendiri   kerja beliau jd
terhalang.
(saya bersikeras menunggu sampai kabag tidak sibuk lagi, selagi menunggu, beliau melintas, langsung saya cegat  dan..
+ sibuk pak kabag ? saya dari... mau...utk penelitian...
= oh, ya silahkan. silahkan ke ruangan saya
+ Tidak menggangu kan pak?
= Oh, tidak. Kebetulan kemaren baru saja selesai rakor, hari ini agak longgar.(See, Mrs sibuk-kerja-untuk-masyarakat-yg-sedang-nonton?)

Masih banyak lg warna-warni yg saya temui. Bahkan pernah saya hampir menangis saking putus asanya. waktu lbh banyak terbuang karena dipingpong, padahal wawancaranya bisa jadi 10 menit. Ada yg curiga, ada yg bertanya bodoh : kenapa harus ada wawancara dan penelitian, ada yg bersikeras saya wartawan terselubung, ada yg mengatakan saya panitia acara dengan proposal pengajuan dana.
OUGH...
Semua akan terobati jika informan kooperatif, cerdas dan responsif, jika tidak? Ya sudah lah. Tapi sebelum saya ketemu mereka saya harus banyak tersenyum dan istighfar dalam hati.
Let's see, mereka, bapak dan ibuk PNS itu berusia rata2 40an. sudah jd PNS selama belasan tahun dengan rata2 berijasah  SMA dan diterima di kantor itu dengan atau tanpa rekruitmen yg jelas. Oke, mereka hanya menjalankan tugas, tp tolong, jadilah org yg ngerti dgn tugasnya. masa ketika saya minta struktur organisasi kantornya dibilang itu rahasia. Pun dengan APBD dan anggaran SKPD terkait, saya dibilang tidak berhak dan tidak punya kepentingan dengan dokumen itu. Hello, itu duit rakyat dan anda digaji dengan duit rakyat untuk melayani rakyat (termasuk saya, rakyat yg sedang meneliti apakah pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan benar?)
warna-warni itu menjadi cerah ketika saya bertemu birokrat yg tau apa fungsi lembaga penelitian yg independen. beliau segera mondar mandir mencarikan data apa saja yg saya butuhkan, tak jarang saya di antar keluar oleh beliau yg membuat heran para civil servant yg tadi mewawancara saya. Ada jg yg penasaran mengintip ke ruangan pimpinannya mendengar gelak tawa kami yg membicarakan kondisi politik saat ini.

Hhh, saya gak yakin ada civil servant yg akan membaca ini. Tapi, ini sedikit keluhan saya untuk mereka, yg dicemburui banyak org (ingin seperti mereka) punya gaji tetap dengan pekerjaan sedikit (mereka yg menonton infotainment atau menjemput anak sekolah ketika jam kerja, bahkan ada yg sempat ke pasar utk belanja dapur hari ini pd jam kerja)

Maaf jika ada yg tidak berkenan. Tapi saya jauh lebih tidak berkenan.