Pages

11 February 2008

14 Februari : Not A Pinky Day

Saya punya moment special yang terjadi tanggal 13 dan 14 Februari.
Tidak, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Santo Valentinus yang lahir pada hari itu, yang memperjuangkan hak untuk menikah bagi prajurit perang dan akhirnya dianggap sebagai pahlawan kasih sayang dan hari lahirnya diperingati orang sebagai hari valentine berabad setelah ia hidup.
Saya jadi tidak bisa merayakan moment special tersebut karena banyak orang ternyata juga punya moment spesial bahkan sengaja ingin membuat moment spesial di hari yang sama.
Padahal saya sangat ingin merayakan moment spesial saya (yang-sekali lagi-tak ada hubungannya dengan Valentine Day) sebagai bentuk penghargaan saya terhadap kejadian spesial pada hari itu dan hari-hari yang telah saya jalani sesudah kejadian tersebut.
Akhirnya, ketika saya nekat ingin mengistimewakan hari tersebut dengan aktivitas yang beda dari hari-hari biasa yang saya lakukan, beberapa orang berkomentar, ada yang mengaitkannya dengan agama, ada juga yang penuh binar mengatakan bahwa saya ternyata tipe romantis dan peduli dengan hari kasih sayang, padahal, sekali lagi saya tekankan dengan agak nyinyir, bahwa saya tidak merayakan valentine, bahwa saya hanya mengenang moment spesial dalam hidup saya yang kebetulan, yap, kebetulan terjadi pada tanggal itu.
Dulu, waktu jaman masih pake seragam, saya pernah menanti tanggal 14 Februari. Ada banyak coklat yang saya berikan dan saya terima untuk dan dari orang-orang spesial. Agenda pada hari itu biasanya makan-makan spesial plus nonton spesial, berdua atau rame-rame sama para sahabat. Tiba-tiba saja saya menjadi begitu menyukai warna pink yang dijadiin ikon Vday.
Tetapi semakin lama, saya semakin sadar bahwa apa yang saya lakukan hanyalah sebuah kelatahan ABG, kebutuhan untuk punya kesamaan dengan orang lain, keinginan untuk menegaskan eksistensi dengan berkata dalam hati “saya tidak ketinggalan dengan irama kalian” ketika saya mengucapkan selamat hari valentine kepada teman-teman saya. Padahal tanpa perlu ada tanggal 14 Februari saya telah nyatakan betapa saya menyayangi teman-teman saya dengan tindakan.
Beberapa hari yang lalu, teman saya pamit. Dia akan meninggalkan Kota Padang untuk seterusnya, karena kewajiban untuk belajar di kota ini telah dia tuntaskan, dan ia harus kembali ke keluarga untuk segera berbakti. Saya sedih, karena tidak bisa menikmati hari-hari terakhir dengannya. Padahal dia adalah temen yang baik, yang selalu membuat saya tertawa lepas, yang selalu nyambung dengan pola pikir saya yang agak rumit dan aneh, yang bersedia menemani saya berjalan kaki seharian mengitari kota Padang ketika saya patah hati. Beberapa jam sebelum ia pergi, saya menelponnya, karena sangat tidak mungkin lagi untuk bertemu sebelum ia berangkat. Hampir 2 jam kami ngobrol ngalor ngidul, tentang apapun. Tentang waktu pertama kali bertemu, tentang pikiran kami masing-masing mengenai apa yang telah kami lewati bahkan tentang masa depan. Teman saya itu menghibur saya dengan lagu yang nanti akan saya kenang ketika saya mulai cengeng malam itu. Dan saya merasa hari itu adalah hari kasih sayang antara saya dengannya.
Saya juga punya sahabat baik yang berada jauh dari saya. Tidak ada yang tidak ia ketahui tentang saya, bahkan tanpa perlu saya bercerita ia akan segera memahami. Ia selalu ada untuk saya bahkan dalam ketidakadaannya. Dan ketika ia menyatakan bahwa dia akan selalu berada di samping saya seburuk apapun kondisi saya, maka saya merasakan hari itu adalah hari kasih sayang.
Saya sering berantem gak jelas dengan kakak saya yang jarak umur kami hanya satu tahun. Pernah di suatu ketika kami saling tidak menyapa berhari-hari. Sampai pada waktu hari ulang tahun saya. Dia diam saja ketika pagi itu keluarga sudah mengucapkan selamat. Saya sedih tapi pura-pura tidak ambil pusing. Di kampus, pada siang harinya, HP saya berbunyi, ada reminder yang diaktifkan. Ketika saya cek, remindernya berupa kalimat “ happy bday sistah!!!”
Rupanya kakak saya membuat reminder di hp saya ketika saya tidur, sengaja dia set untuk berbunyi pada saat saya di kampus ketika jauh dari dia karena kami sedang tidak saling menyapa pada saat itu. Saya terharu, dan bagi saya hari itu adalah hari kasih sayang.
Pada suatu ketika, saya bangun kesiangan padahal saya punya agenda yang sangat penting pada pagi itu, saya berencana melewatkan sarapan karena waktunya sangat mepet. Ketika saya berkemas, mama saya ke kamar membawakan sarapan, beliau menyuapi saya ketika saya sisiran, bedakan, pake sepatu dan membenahi tas. Harusnya saya malu, masih disuapi padahal sudah berumur kepala dua. Tapi tidak, bagi saya hari itu adalah hari kasih sayang.
Hari-hari seperti itu mewarnai hidup saya, hari kasih sayang, dan tidak terjadi pada tanggal 14 Februari saja. Setiap hari bahkan setiap saat. Tidak hanya saya, kita semua selalu dikelilingi kasih sayang, setiap kesempatan.
Anak punk yang nolongin nenek-nenek nyebrang, kucing liar yang dikasih makan sama mbak-mbak mahasiswa, om-om yang memelankan laju mobilnya ketika pejalan kaki nyebrang, ibu-ibu pegawai yang memberi recehan pada pengemis, pelayan toko yang mengucap terima kasih kepada pembeli, cowok yang memberi ibu-ibu tempat duduk di biskota, perasaan haru ketika melihat keadaan korban bencana, teman yang meminjamkan catatan, mereka yang mendengarkan curahan hati kita, pacar yang menemani di banyak kesempatan, saudara yang selalu mewarnai rumah dengan keceriaan, orang tua yang tidak pernah berhenti memberikan kasih sayangnya, setiap hari, setiap saat : hari kasih sayang.
Jika demikian, masihkah kita memerlukan hari valentine untuk diproklamirkan sebagai hari kasih sayang? Toh tanpa perlu diberi bunga, coklat dan kartu, saya tahu saya menyayangi dan disayangi oleh teman, sahabat dan keluarga.
Tak ada yang perlu diekspos besar-besaran tanggal 14 Februari ini karena setiap hari kita menjalani hidup dengan itu, tak peduli apakah kita sedang sedih atau bahagia. Kenapa harus menjadi merah jambu ketika dengan hitam pun kita bisa membuat orang lain lega karena kehadiran kita. Kenapa butuh pengakuan seremonial serentak pada satu hari saja jika tindakan kita setiap hari bisa membawa kedamaian walaupun berskala kecil.
Saya ingin mengutip apa yang pernah disampaikan Dee dalam blognya, bahwa hari ini sama spesialnya dan sama biasanya dengan hari lain. Yap, toh kita hidup dengan cinta dan dikelilingi kasih sayang, di setiap detiknya.

06 February 2008

CIVIL SERVANT (BACA : PELAYAN PUBLIK)

Ada "keasyikan" tersendiri kalau terlibat dalam penelitian kualitatif dgn metode pengumpulan data wawancara mendalam.
Kita bakal ketemu banyak org cerdas dan berdiskusi dgn beliau2 itu membuat kita jadi punya perspektif baru dan terkadang tercerahkan.
Biasanya informan adalah aktifis, birokrat dan para publik figur sesuai dgn kapabilitas masing2.
Yg paling colorful dari semua proses wawancara adalah mewawancara para birokrat. Mereka (sebagian besar) tidak seperti para aktivis yg bersedia wawancara di rumah. Jadi jelas harus ke kantor. Nah, warna warni itu dimulai dari sini.
Pertama, hadapilah front desk dengan 3S. Di sini saya biasanya akan bertemu satpam berkumis atau mbak2 cantik. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan saya akan di suruh menghadap sekretariat atau bagian umum atau bagian humas.
Nah, di sini, saya akan ditanya2 banyak hal. Wah, sebelum mewawancara saya diwawancara lbh dulu.
= Dari mana? Mau ngapain? Buat skripsi ya?
+ Dari ---, mau ----, bukan, ini risert ilmiah yg independen.
= Alah, bilang aja mau ngambil data buat skripsi, ga usah boong deh, masih kuliah kan? eh, kok udah skripsi aja ya, kan masih kecil kayaknya.
(surat tugas saya di tangannya tidak kelihatan -ada nama saya plus gelar sarjana dan jabatan sebagai peneliti-, badan saya yg kecil di seberang meja malah keliatan, peribahasa baru)

di kantor yg lain,
= Masukin surat dl ya dek, nanti baru di disposisi, jadi nanti akan jelas ke bagian mana.
+ saya sudah janji mau wawancara hr ini sm pimpinan, buk. janji dibuat langsung oleh beliau via telpon kemaren.
+ Wah, tidak bisa begitu, adek harus ke bagian ini dulu, baru bagian itu, trus dari sana dpt rekomendasi dl baru nanti di masukkan ke list jadwal, lalu hubungi sekretarisnya, nanti dari sana...
= tapi buk, saya sdh diiyakan oleh pimpinan ibuk
+ gak bisa begitu...bla bla bla
(akhirnya all day saya di kantor itu, di ping pong, padahal pimpinan mereka sdh mengiyakan utk wawancara pd pagi hari)

di dinas yg lain,
+ wah, pimpinan sedang rapat
= saya tunggu aja ya buk
+ rapatnya selesai malam mungkin
= kalo gt saya kembali lagi besok
esoknya,
+ pimpinan ke luar
= saya tunggu aja
+ bakal lama mungkin
= gak apa2 buk (sampai sore menunggu, bolak-balik menanya apa pimpinan udh kembali ke kantor, tetap pimpinannya gak ada)
esoknya lagi,
+ kok tiap hari sih kesini, adek ini jualan apa kok betah banget? kan sudah ada tulisan di depan tdk menerima  promosi apapun.
( hohoho, jd saya dikira sales dan dia ngebuang waktu saya 3 hari dan berlagak jd pahlawan buat atasannya supaya si bos tdk ngebuang waktunya mendengar penawaran 'barang yg akan saya jual". Jadi buat apa saya berkoar ttg lembaga saya dan ngasih liat surat tugas yg rujukannya menteri dalam negeri? Padahal saya datang berblazer casual, pake sepatu dan dengan senyum hangat.Hm..para sales promotion trnyata cukup fashionable)

di tempat lain,
= Kami ndak bisa diwawancarai dek, kerja kami banyak (sambil menukar saluran  infotainment tv di dekat meja kerjanya)
+ Saya mau wawancara kepala bagian  buk
= ya, beliau lebih banyak lagi kerjanya, kerja  dinas ini untuk masyarakat banyak tau, jangan karena adek sendiri   kerja beliau jd
terhalang.
(saya bersikeras menunggu sampai kabag tidak sibuk lagi, selagi menunggu, beliau melintas, langsung saya cegat  dan..
+ sibuk pak kabag ? saya dari... mau...utk penelitian...
= oh, ya silahkan. silahkan ke ruangan saya
+ Tidak menggangu kan pak?
= Oh, tidak. Kebetulan kemaren baru saja selesai rakor, hari ini agak longgar.(See, Mrs sibuk-kerja-untuk-masyarakat-yg-sedang-nonton?)

Masih banyak lg warna-warni yg saya temui. Bahkan pernah saya hampir menangis saking putus asanya. waktu lbh banyak terbuang karena dipingpong, padahal wawancaranya bisa jadi 10 menit. Ada yg curiga, ada yg bertanya bodoh : kenapa harus ada wawancara dan penelitian, ada yg bersikeras saya wartawan terselubung, ada yg mengatakan saya panitia acara dengan proposal pengajuan dana.
OUGH...
Semua akan terobati jika informan kooperatif, cerdas dan responsif, jika tidak? Ya sudah lah. Tapi sebelum saya ketemu mereka saya harus banyak tersenyum dan istighfar dalam hati.
Let's see, mereka, bapak dan ibuk PNS itu berusia rata2 40an. sudah jd PNS selama belasan tahun dengan rata2 berijasah  SMA dan diterima di kantor itu dengan atau tanpa rekruitmen yg jelas. Oke, mereka hanya menjalankan tugas, tp tolong, jadilah org yg ngerti dgn tugasnya. masa ketika saya minta struktur organisasi kantornya dibilang itu rahasia. Pun dengan APBD dan anggaran SKPD terkait, saya dibilang tidak berhak dan tidak punya kepentingan dengan dokumen itu. Hello, itu duit rakyat dan anda digaji dengan duit rakyat untuk melayani rakyat (termasuk saya, rakyat yg sedang meneliti apakah pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan benar?)
warna-warni itu menjadi cerah ketika saya bertemu birokrat yg tau apa fungsi lembaga penelitian yg independen. beliau segera mondar mandir mencarikan data apa saja yg saya butuhkan, tak jarang saya di antar keluar oleh beliau yg membuat heran para civil servant yg tadi mewawancara saya. Ada jg yg penasaran mengintip ke ruangan pimpinannya mendengar gelak tawa kami yg membicarakan kondisi politik saat ini.

Hhh, saya gak yakin ada civil servant yg akan membaca ini. Tapi, ini sedikit keluhan saya untuk mereka, yg dicemburui banyak org (ingin seperti mereka) punya gaji tetap dengan pekerjaan sedikit (mereka yg menonton infotainment atau menjemput anak sekolah ketika jam kerja, bahkan ada yg sempat ke pasar utk belanja dapur hari ini pd jam kerja)

Maaf jika ada yg tidak berkenan. Tapi saya jauh lebih tidak berkenan.