Pages

23 December 2008

civil servant

mohon doa restu ya!

saat ini hanya sedang menikmati aktivitas yang esok hari mungkin akan sangat dirindukan!

Beginning Nu Life

tarik nafas, kali ini agak dalam!
ini kado hari ibu untuk mama dan kado ultah untuk papa
ada syukur, tentu!
tak kan pernah ada yang sia-sia
akan seperti apa? kita lihat saja!

dan sekarang, nikmati waktu tersisa, untuk deadline, dunia yang bergegas, mobilitas tingkat tinggi, kepanikan yang menyenangkan!


semuanya, mohon doa restu

saya hanya aktor, sudah ada sutradara agung yang membuat skenario

apapun perannya, akan saya lakoni dengan hati!

21 December 2008

I've been trying...

… lalu jika ini semua tidak berakhir bahagia, 
setidaknya kita menginginkannya berakhir indah …

… lalu jika kita tidak bisa berteman, 
setidaknya kita ingin dikenang sebagai teman baik saja …

lalu jika itu semua tidak menjadi nyata dan sia-sia, 
silahkan salahkan aku, karena aku yang tak mampu...

but I’ve been trying,
and then crying!

19 December 2008

Dan...

Seseorang, empat tahun lalu pernah berkata :
” Kalo jalan, jangan liat ke belakang, nanti kamu nabrak yang di depan loh! ”

Waktu itu, dia ada di belakang saya, masih terlihat bayangannya, masih tercium aromanya dan tentu kami masih dalam satu ruang tarikan nafas, dan saya pun mengerti, seseorang yang ada di depan saya, akan saya tabrak kalau saya masih tetap melihat ke belakang!

Akhirnya saya melangkah, tidak lagi melihat ke belakang, terkadang sesekali menunduk, dan  tapi kemudian tetap berjalan!
 
Dan kali ini?




PS : Buat Dree, ada yang tak sempat terucap sepanjang empat tahun ini : terima kasih!

18 December 2008

Ini tentang CINTA


Kemaren malam dapat sms dari seorang teman (karena belum minta ijin, namanya saya rahasiakan). Awalnya mau curhat, tapi gak jadi, karena tiba2 dia ganti topik.
Dia berbagi kebahagiaan, bahwa beberapa hari sebelumnya, dia dan pacarnya (yang juga teman saya) baru aja beli wedding rings.

Lama saya memilih kata membalas smsnya. Ikut berbahagia tentu, tapi sms-nya itu, memukul saya, telak, tepat di ulu hati!

Pasangan ini, dulunya, menurut saya adalah pasangan 'aneh'. Hubungan mereka sebelumnya adalah teman dekat dan teman baik, dalam satu kelompok kecil pertemanan kuliah. Solid dan solider. Tapi, lambat laun, sang pria semakin menunjukkan ketertarikannya, perhatian lebih, tentu kebaikan yang tidak tergantikan, dan berhasil meluluhkan sang perempuan, singkat kata mereka jadian.

Tapi mereka sering banget berantem, untuk hal-hal kecil, gak jelas dan gak penting, bahkan pernah tanpa alasan. Ketika salah seorang curhat pada saya dan teman dekat saya pada waktu itu, kami sering geleng2 kepala, tidak mengerti, dan sering menasehati bahwa pencapaian hubungan pada usia kita saat ini, tidak lagi akan seperti yang sedang mereka lalui. Entahlah, rasanya mereka terlalu childish dan hubungan mereka seperti hubungan tanpa orientasi yang jelas!

Tapi saya salah! Keliru dan benar-benar bodoh! Kali  ini saya akui , bahwa saya benar-benar tidak ada apa-apanya dibanding mereka berdua!

Banyak pertengkaran mereka lalui, putus sambung, bahkan pernah, salah seorangnya menyerah karena sadar hubungan mereka tidak akan kemana2 (dan waktu itu, semuanya karena alasan yang tidak jelas!).

Tapi, mereka bertahan, dan sebentar lagi, menjadi pemenang!

Ternyata tak perlu orang-orang hebat untuk menciptakan cinta yang hebat. Yang dibutuhkan hanyalah orang biasa dengan cinta yang sederhana. Cukup dengarkan hati lalu jalani! Maka ketika telah dilalui, kita akan menjadi orang-orang luar biasa dengan cinta yang lebih luar biasa lagi!

Buat P dan A, selamat!
Ade salut sama kalian.
Both of U guys give me another meaning of love ,  loving and being loved!

11 December 2008

Malaikat

karena kau tak lihat, terkadang malaikat
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
namun kasih ini silakan kau adu
malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya
(Dewi Lestari-Malaikat Juga Tahu)

Entah kenapa, seperti musik-musik Sheila On 7, karya-karya Dewi Lestari atau lebih akrab dipanggil Dee, selalu ‘mengusik’ hari-hari yang saya jalani. Kata mengusik dalam tanda kutip ini saya maksudkan sebagai bentuk bahwa seolah takdir saya begitu ‘ngeh’ dengan karya2nya.
Mulai dari lagu-lagu yang dia ciptakan baik yang dinyanyikan RSD maupun Marcel, lalu Supernova, pertama, kedua lanjut ketiga, lalu Filosofi Kopi-nya, dan terakhir, karya yang masih saya impikan : rectoverso, (karena belum sampai ke Padang, dan kalau pun dititip sama temen-temen yang di Jakarta atau Bandung, harganya agak mahal, gak enak ngerepotin mereka. Dipastikan mereka nolak duit yang saya kasi kalau minta tolong beliin).

Singkat kata, ketika karya Dee muncul, saya nikmati, dan selalu berhasil memberi persepsi baru pada kisah yang sedang saya jalani. Selalu saja, ada penggalan puisi, kalimat atau liriknya yang menginspirasi dan berhasil mengajak saya melihat warna lain dari perjalanan saya sendiri.

Tentang Rectoverso )* , saya sudah mendengar dan membaca penggalannya. Dan saat ini, salah satu lagunya, Malaikat Juga Tahu (lagunya sudah beredar di radio dan klipnya sudah bisa ditonton) benar-benar menguatkan saya. Liriknya sederhana tetapi maknanya, benar-benar ‘berbicara’ langsung pada diri.

kupercaya diri, cintakulah yang sejati

)* Arti Rectoverso, baru benar-benar saya mengerti sejak mengikuti lokakarya jurnalistik Bank Indonesia, padahal dalam blognya, Dee sudah menjelaskan apa arti rectoverso.
Perhatikan uang kertas seratus ribu, ada tanda air yang bagian depan dan belakangnya berbeda tapi saling melengkapi dan kemudian menjadi gambar utuh, nah itulah rectoverso!

01 December 2008

Sepatu Baru dan Menerima Apa Adanya

Pertama kali liat, saya sudah naksir. Saya lirik sebentar, dan coba saya hiraukan karena ingin nyari yang sedikit 'rumit'. Its so simple, baik modelnya, bentuknya, maupun harganya.
Tapi sesudah berkeliling, nyoba cari sana-sini, tidak ada yg cocok. Apalagi untuk ukuran kaki saya yang begitu imyut ini (35 bo!), jarang banget ada sepatu yang sempurna. Akhirnya saya kembali ke konter sepatu putih ini.
 




Ukurannya ternyata 36. Saya minta yg ukurannya 35, mbaknya bilang gak ada. Saya coba, walopun agak kegedean, tapi karena pinggirnya karet, sepatunya gak kececer dibawa jalan yang artinya : muat kok!
Saya putuskan untuk beli, saya minta barang yang lain, karena barang yang dipajang itu udah agak kumal, karena sering dipegang dan dicoba orang, dan mbaknya bilang sepatu itu tinggal satu-satunya.  The one and only. ketika saya minta, pasangannya yg satu lagi dikeluarkan (yg dipajang cuma yang kanan), oh tidaak, beda bangeeet, sangat mencolok karena warnanya putih.
Teman saya yang menemani bilang, jangan deh de, belang! Saya diam, dia nyuruh saya pikir lagi dan menawarkan diri untuk menemani saya nyari sepatu yg lain. Tapi saya putuskan tetap membelinya.

Sampai di rumah, saya pandangin sepatunya. Diliatin dengan pencahayaan kamar saya yg gak begitu terang beda yg kanan dan yg kirinya terlihat jelas. Ketika saya poto dengan kamera hp saya yg berresolusi rendah aja, bedanya tetap terlihat. Yg kiri putih bersih, tanpa ada kerutan dan goresan, yg satu agak kekuningan, dengan beberapa lipatan bekas dicoba orang. Tapi saya tidak menyesal!
Ada hal yang saya sadari ketika memandang sepatu baru saya, nilai itu yang ingin saya bagi dalam postingan kali ini. Bahwa ketika kita mencintai sesuatu, kita akan menerima apa adanya.
Mungkin saya punya uang untuk membeli sepatu lain yang lebih mahal, mungkin besok saya punya waktu untuk mencari ke toko lain, sepatu-sepatu yang sama simpel, sama murahnya, sama nyamannya tetapi tidak 'cacat'. Bisa saja! 
Membeli sepatu tentu tidaklah sama dengan cinta. Tidak sebanding dan tentu tidak perlu dibandingkan. Tapi, tak bisakah mencintai semudah membeli sepatu? Ketika kita mencintai, kita akan menerima kekurangan, akan menutupinya, melengkapinya, sehingga kekurangan itu tidak terlihat sebagai sesuatu yang cacat.
Mungkin tak mudah, tapi menurut saya, yang dibutuhkan hanyalah sedikit ruang di hati, untuk menerima, apa adanya, tidak menuntut lebih. Karena kita mencintai, karena kita sendiri yang memilih dan memutuskan untuk mencintai!

30 November 2008

seragam ijo lumut itu...


Ketika saya menulis postingan ini, rekan-rekan saya sedang berjuang, demi masa depan.
Saya berdecak kagum ketika tadi pagi jam 8 sampai di salah satu lokasi ujian, melihat kenyataan peserta untuk satu formasi diikuti 450 orang, padahal yang akan diterima hanya 2 orang.

Apa yg ditawarkannya, sehingga semua orang, termasuk saya, berbondong2 merebut tempat di sana?
Saya hanya temukan satu jawaban : kemapanan!
Dan satu jawaban itu menggiring kita pada banyak pemahaman.

Aneka diskusi tak cukup, aneka motivasi masih saja kurang, kita memang butuh sebuah jaminan, bahwa hidup akan baik-baik saja ke depan, bahwa kita takut menghadapi ketidaknyamanan akibat ketidakstabilan. 
Dan itu yang dijanjikannya, seragam ijo lumut itu!

NB : sekedar info, saya tidak lulus tes wawancara akhir cpns untuk formasi dosen di UNP, tapi saya bersyukur masuk 5 besar dari saingan untuk jurusan saya! Mungkin warna ijo lumut belum cocok untuk saya! Hehe

29 November 2008

kau memanggilku malaikat


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:arswendo atmowiloto
Saya mengagumi Arswendo sejak nonton keluarga cemara, setelah itu, membaca bukunya yang berjudul (kalau tidak salah) mengarang itu mudah, dan kekaguman saya bertambah ketika tahu beliau menjadi juri pada lomba penulisan cerpen di sebuah majlah remaja, dan karya saya beliau 'menangkan'.

Lama tidak membaca karya beliau, beberapa minggu lalu main ke toko buku, ada beberapa buah novel bertuliskan nama Arswendo di cover, salah satunya adalah buku ini.

Bercerita tentang sesosok malikat yang job descriptionnya berkaitan dengan maut, menemui mereka yang akan dijemput hingga menemani mereka di alam transisi.
Ada banyak karakater menarik dalam novel ini, si kecil Di, seorang istri yang tabah dan manut, sampah masyarakat hingga gadis lugu yang dibunuh sesudah diperkosa. Masing-masing karakter hidup dan punya ciri khas, semacam punya kesan berbeda untuk hal yang sama dan seharusnya menakutkan : maut.

Juga aneka puisi yang ditulis bapaknya Di, untuk anak semata wayangnya yang mempunyai Vlek di paru-paru, salah satunya :

“selamat pagi, Di
mari kita lanjutkan mimpi semalam
sebelum kita terbenam lagi
dalam pelangi”

Novel ini bagi saya termasuk kategori filsafat serius, semacam sebuah novel yang harus dibaca perlahan dan berulang kali, dan memberi kita pemahaman baru setelah menyelesaikannya.

Membaca novel ini, membuat saya melihat warna lain dari kematian. Sang Malaikat mengingatkan saya pada sosok malaikat dalam film City of Angel, malaikat yang tergoda, malaikat yang mampu merasa.

Hm.. sepertinya paling asyik membca novel ini sembari mendengarkan lagu Malaikat Juga Tahu-nya Dewi Lestari !!

Setuju?

27 November 2008

Pagi yang menakjubkan!

pulang larut tadi malam, membaca lembar-lembar masa lalu, larut lagi,..., bangun pagi mendengarkan duta-ku bersenandung, ngantor dan membaca lembarmu,...,

haruskah larut lagi?


katanya waktu adalah obat paling mujarab

26 November 2008

Endless Pain


romantisme picis melenakan saraf

candu hormonal merusak integritas hati

dan lalu terkapar

sakau sekarat 

berkalikali 

butuh berapa rotasi matahari lagi?



Bukankah waktu adalah obat paling mujarab?

19 November 2008

16 November 2008

Being Normal in Sunday Morning




Tadi malam, janjian sama duo reporter cewek nan tangguh : Vivi dan Iyut, minggu pagi ini jogging barengan. Awalnya, kita bertiga sempat pesimis, karena pulang ngantor pasti udah larut dan pagi-pagi, biasanya kita suka bangun agak kalah sama matahari (hee, bangun telat maksudnya). Apalagi hari minggu, meski agak nyantai, kita tetap kerja. Dan biasanya pagi minggu suka dimanfaatkan untuk tidur agak panjang dari pagi-pagi biasanya. Jadilah sebuah kesepakatan ngumpul di GOR jam 6 pagi.

Tadi pagi sempat gerimis, saya bangun dengan malas-malasan. Saya telpon Iyut, dia abis sholat subuh, telpon Vivi, udah selesai dan tinggal berangkat. Mendengar itu, saya juga siap-siap. Huff.. padahal baru jam 5. 30 loh. Sepertinya mereka semangat banget. Mungkin karena belakangan kita sering mengeluh, perut yang udah mulai ndut, pantat yang udah mulai melebar, disebabkan satu hal, pulang ngantor udah jam sepuluh malam, abis tu nyampe di rumah langsung makan malam dan tiduur!! Gimana gak endut coba?!

Dan jadilah, kita bertiga jogging mengelilingi GOR pagi tadi (dari rumah, tetep, pake motor,hee). Saya mulai mengingat, kapan saya terakhir kali jogging, ternyata lebih dari dua tahun yang lalu. Padahal cuma itu olahraga yang saya mahir, tidak seperti vivi yang memang sering ikut kompetisi Aerobik. Habis jogging, kami ikut senam massal di depan stadion. Lumayan, keringatan, dan rasanya semua otot berhasil digerakkan. Abis itu, kami bertiga sarapan. Nyantai-nyantai sebentar, diteruskan pulang ke rumah masing-masing dan siap-siap lagi ke kantor buat liputan.

Di Jalan Sudirman yang masih sepi, Iyut bilang, "serasa hidup normal, ya de? Bangun pagi, jogging, sarapan di gor dan bisa bawa motor sesantai ini."
Saya mengiyakan, dan terdiam. Padahal baru kemaren saya bikin postingan betapa 'tidak normal'nya hidup saya dan rekan-rekan lain sesama reporter. Dan aktivitas kami pagi ini, menghadirkan kesimpulan baru, betapa untuk 'hidup normal' itu begitu mudah.

So, siang ini, ketika saya mengetik postingan ini, saya baru pulang liputan, dengan badan agak pegel-pegel dan tentu semangat baru sisa senam aerobik massal. Minggu depan, kami janjian lagi untuk jogging, melakukan hal-hal normal sebisa kami.

NB: Vivi barusan pamit mau nonton Laskar Pelangi di bioskop sama yayangnya, setelah sebelumnya agak stress takut gak bisa nonton lagi kali ini, karena sebelumnya selalu batal karena ada liputan mendadak. Satu aktivitas normal lagi, kan?
Dan saya, menulis postingan ini ditemani musik gak jelas di luar sana, bikin saya ngerasa agak normal lah untuk siang ini.

Hidup normaaal!!!

15 November 2008

The Biografier



Saya biarkan ia menulis sesukanya.
Ia masukkan tulisan itu dalam satu postingan di blog rumah kami (belakangan ia lebih sibuk mengurus itu ketimbang mengurus blognya sendiri).
Sebelumnya, ia telah menyampaikan maksudnya, saya pikir ia bercanda, ternyata tulisan itu jadi juga.

Ia sebut itu biografi, ia beri judul dengan nama belakang saya. Ada angka di sana, dalam artian, tulisan itu akan bersambung. Entah itu disebut biografi, atau apa, tapi dari banyak fakta tentang saya yang ia kemukakan, begitu banyak opini pribadi, berkelindan dengan keresahannya terhadap hidup dan kehidupan.

Ah, saya biarkan saja, bahkan dengan banyak keberatan.

Dua malam, yang lalu, ia mengirimkan sms, meminta saya mengirimkan foto, katanya untuk biografi itu. Entah foto mana yang dimaksudnya, foto saya sedang bekerja, atau foto narsis melihat kamera dengan senyum sumringah dengan angle terbaik. Saya iyakan, tapi belum saya kirim. Tampaknya ia tak sabar dan 'menyolong' foto di friendster saya.

Menurut saya, ia penulis jenius, coba baca karya-karyanya yang berserakan di media lokal dan nasional, ia juga fotografer ulung, ia pemahat kata dan ia juga perayu ulung, namun ia saudara terbaik yang saya punya di 'rumah', bersanding dengan nama-nama lain yang pernah melangkah di laman hati dan tentu meninggalkan jejak.

Kami sesama anak suku, yang dibesarkan mitos sari toka dan batang tutuau, pernah berpeluk tangis di hari yang seharusnya bahagia. Kami pernah bermimpi tentang Taman Ismail Marzuki hingga Broadway dan Sidney Opera House. Kami pernah berbagi renungan sel abu-abu mulai dari hal remeh seperti tren fashion hingga filosofi Tuhan. Apa saja, sampai malam itu.
Entah apa dan siapa, ada yang retak malam itu, dan kami terlalu egois untuk kembali berbagi kisah.
Tapi saya yakin, dia dan saya tidak akan kemana-mana, dan ternyata benar, buktinya masih saya simpan sampai saat ini :

Aku sayang kamu, Ade. Aku ingin bertemu, tapi aku tahu kamu sibuk dalam lingkaran jam. Aku tahu jarak itu kian jauh saja terbentang. Salam, Faiz.(Dia buat namanya di akhir sms, dia pikir nomornya tidak lagi saya simpan)


Meski saya merasa tertinggal jauh dari perjalanannya yang mungkin lebih rumit dari rutinitas saya, saya yakin, saya dan dia, ya, kami, masih seperti dulu. Rina yang manis dan Azis Manuel Lawalata, yang akan makan dari piring yang sama, masih akan rindu dengan taburan sari toka di sepanjang sungai dan masih akan meributkan remeh temeh dunia.

Terima kasih, Faiz Ketjil!!!

NB : foto insert diambil tahun 2004, sebelum Tsunami Aceh , pementasan DarkPark Peksimida. Kiri ke kanan : aku, Fadhli Ompong dan Faiz Ketjil.

Masih, perihal waktu!


Di depan meja kasir, saya tercenung, ketika harus membayar denda 58 ribu rupiah untuk tiga buah VCD film yang tidak sempat saya tonton. Uang segitu bahkan bisa membeli satu film original.

Ini bukan soal uang, tapi soal sesuatu yang tidak lagi saya punya : waktu untuk diri sendiri. Terbayang tumpukan buku di samping tempat tidur yang dari saya beli sampai sekarang belum tersentuh sama sekali. Bahkan ada yang belum dibuka segelnya. Saya hanya bernafsu untuk membeli tapi langsung terkapar tak berdaya begitu sampai di rumah sepulang kerja. Kamar yang tak sempat dibereskan, arisan yang absen diikuti berkali-kali,  undangan ulang tahun dan baralek yang tidak terpenuhi, acara keluarga yang terabaikan, pertunjukan yang terlewatkan, ah begitu banyak!

Saya menikmati pekerjaan saya, mobilitas tinggi, di bawah tekanan deadline, bertemu banyak orang, terus meng-upgrade diri dan yang terpenting tidak membosankan. Di samping semua hal menantang tadi, saya harus rela kehilangan waktu untuk diri sendiri. Rutinitas saya berbeda dengan rutinitas pekerjaan lain. Kami hanya mengenal jam masuk dan tidak punya jam pulang, kami tidak kenal libur, tujuh hari dalam seminggu, tak ada istilah tanggal merah atau hari besar, semuanya adalah hari kerja. Untuk saat ini, It was so fun and funtastic!!

Keluhannya, ya itu tadi, saya tidak punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal di luar pekerjaan. Tak ada waktu lagi untuk menikmati jalan kaki di bawah gerimis, tak ada waktu untuk menyisiri rak-rak buku di Gramedia dengan santai dan tidak terkejar waktu, tak ada waktu untuk mendesain ulang kamar sendiri, tak ada waktu untuk ngrumpi di dapur dengan sang bunda, tak ada waktu untuk  diri sendiri!!

Saya tidak menyesal dan tidak ingin menyesali. Terkadang di umur sekarang saya hanya ingin ikut arus, membiarkannya mengalir, sampai nanti saya buntu di di persimpangan. Pada saat itu, saya hanya ingin punya waktu lebih untuk diri sendiri, melakukan banyak hal yang sangat ingin saya lakukan, karena bahkan satu detik yang lalu saja tidak bisa dijemput.

07 November 2008

Hari-Hari Pelangi

Alhamdulillah, saya mengubah persepsi dan saya temukan warna-warni!

Minggu ini begitu pelangi :

menit ke menit, berganti jam tanpa saya sadar, lalu hari bergulir, terus, mobilitas tingkat tinggi, ban bocor dua kali sehari, diselingi hujan, aneka diskusi, buku-buku (Padang Book Fair selalu berhasil 'menguras' setengah gaji saya), pengumuman menggembirakan, euphoria sesaat berganti kecemasan, silaturahmi yang tersambung kembali, kegundahan yang tidak terbukti, rasa sakit yang tergantikan keikhlasan.

Saya sudah usaha maksimal, dan saatnya ikhtiar digantikan tawakkal. Tak kan pernah ada yang sia-sia bukan?


01 November 2008

Aksesoris



Kenapa aksesoris menjadi hal penting dalam dunia fashion?

Ia menjadi benda wajib, harganya pun terkadang sama dan bahkan melebihi harga fashion itu sendiri.
Aksesoris sudah menjadi industri tersendiri dalam industri fashion. Makanya tak jarang kita lihat ada orang yang jadi tajir karena sukses sebagai desainer aksesoris.Berbagai bentuk, fungsi, warna dan modifikasi, tapi intinya cuma satu : memberi 'warna' pada fashion.

Kembali ke pertanyaan awal, kenapa aksesoris menjadi begitu penting, dan saya menemukan jawabannya : karena manusia bosan dengan sesuatu yang monoton.

Monoton dengan fashion yang itu-keitu-saja (bukankah trend fashion selalu seperti siklus dengan modifikasi?), maka terciptalah aksesoris, aneka rupa tapi memberi nuansa tersendiri pada pakaian yang kita kenakan

Sesimpel itukah menghilangkan kemonotonan?

Ternyata jawabannya iya! 

Kita cuma perlu aksesoris untuk menghilangkan kemonotonan. Hidup ini jelas tak hanya tentang kita dan apa yang kita mau.
 
Kita ingin hidup penuh warna, tidak membosankan, tidak monoton dan tentu dengan banyak pengalaman. Tetapi terkadang hidup yang seperti itu sangat tidak nyaman. Maka tak jarang jika menginginkan kenyamanan maka kita harus memasuki sesuatu yang stabil, roll in their way!
Dan bisakah kestabilan dicapai tanpa rutinitas yang tidak kontinyu?

Wah, rumit juga! Saking rumitnya, kadang kita tak berani keluar jalur, takut untuk buat warna lain dalam diri, takut dengan sesuatu di luar jalur karena takut menghadapi sesuatu yang tak terduga, karena sesuatu yang berbeda, tak sama dan  diluar rutinitas adalah hal yang tidak aman.

Tapi coba pikirkan lagi, tidak bisakah kita menganggap 'hal lain' itu sebagai aksesoris hari?
Rutinitas mungkin tak bisa ditinggalkan, tapi cara kita menjalaninya itu yang kita ibaratkan sebagai seorang fashionable yang sangat trendy, dengan 'aksesoris' agar tak bosan dengan penampilan, agar tak monoton dan tentu semakin enak dilihat.

Paham? Mungkin belum.
Begini saja, jika pergi kerja biasanya saya lewat Jalan Sudirman lalu masuk Jalan Bagindo Azis Chan belok kiri masuk ke Jalan Proklamasi, dan sampai. Maka ketika suatu hari saya ingin 'tampil lebih funky', saya gunakan aksesoris hari : berangkat ke kantor lewat Jalan Ratulangi belok ke Pattimura lalu masuk A. Yani, lewati simpang Olo Ladang, liat pantai di pagi hari ketemu kapal nelayan yang mulai menepi kemudian lewat Jalan Samudra belok di Hayam wuruk, masuk ke kawasan jalan Gereja, masuk lewat simpang dekat Nurul Iman ke Jalan Bagindo Azis Chan, belok kanan ke Jalan Proklamasi dan sampai di kantor.
Wah, memang butuh sedikit pengorbanan, sama seperti uang ekstra yang kita keluarkan untuk membeli aksesoris. Tapi apa yang saya dapatkan sebagai kompensasi : (hari) saya yang 'trendi'.

Jikalau demikian, tentu aksesoris (hari) tak lagi menjadi sesuatu yang tidak penting, ia adalah hal yang wajib, agar tampilan (hari) saya selalu beda, padahal (rutinitas) fashion saya itu-keitu-saja.


P.S : Hari ini saya bahagia sekali, karena tadi malam, saya habiskan energi untuk memutuskan akan pakai aksesoris apa untuk hari ini, mencoba fleksibel dangan standar pakem 'rutinitas' saya. mendobrak apa yang saya sebut wajib dikenakan atau tidak. Dan hasilnya luar biasa : (hari) saya trendy sekali!!

 


27 October 2008

So, dont give up!!!

Mereka yang buntu karena masa lalu, takut akan masa depan lalu mengabaikan hari ini, tidak pantas menerima hal seberharga kehidupan

( Jalaluddin Rumi)

L


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Romance
Author:Kristy Nelwan



Saya gak sengaja menemukan buku ini di toko buku.
Niatnya pengen beli novel ringan aja (dalam artian tidak tebal dan agak ngepop), namun begitu liat stoknya tinggal 3 biji, saya langsung putuskan weekend kali ini saya baca novel ini.

Yang terlihat : covernya bagus, classy dan gak ada embel-embel logo metropop atau chicklit dan sejenisnya. Saya juga suka jenis kertasnya, dan yang paling menarik justru judulnya, cuma satu huruf : L (pikiran pertama, duh, penulisnya pelit nih, hehe, kidding)

Saya suka background tokohnya, produser di sebuah TV Lokal. Guweh banget kan? Haha
Karena itu saya memutuskan tidak berhenti sebelum menyelesaikan novelnya. Mungkin karena penulis adalah insan TV, jadi rutinitas di TV begitu fasih di gambarkan, apalagi semua masalah yang biasanya dihadapain oleh karyawan TV lokal (eh, saya gak curhat ya!)

Novel ini bercerita tentang cewek bernama Ava Torino yang player banget (hal ini ter-excuse dari betapa jeniusnya dia), mengoleksi pacar dengan nama depannya sesuai abjad, A sampai Z. dan kemudian niatnya, ingin ditutup dengan the last love yang harus bernama L. Gila aja kan? 26 pria dan umumnya diatas rata-rata.

Tidak begitu jelas digambarkan, apa hebatnya si Ava ini, sampai dia begitu mudah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi rasanya saya cukup terpuaskan dengan dia yang asyik banget, baik sama semua orang dan tentu jenius dengan caranya sendiri. Tapi kok rasanya karakter seperti itu harusnya dilengkapi dengan wajah yang cantik banget atau aura yang begitu memukau agar dia yang bisa dengan begitu mudah dapet dan buang cowok jadi logis. Maksud saya, cewek yang standar gak akan mudah berbuat seperti itu, atau setidaknya butuh waktu agak lama lah.

Saya suka karakter Ava, tapi saya lebih suka karakter Rei. Jauh sebelum sakit nya terungkap, saya udah bisa nebak, nama depan Rei pasti ada huruf L nya. Dan terbukti benar kan. Tapi biar gitu, saya tetep aja dibikin gemas dengan bagaimana cara dia menutup suratnya dengan menuliskan nama lengkapnya yang berawal huruf L. Tapi yang jadi celah bagi saya, kenapa berbulan-bulan kerja satu kantor, satu divisi bahkan dengan ruang yang hampir bersebrangan, Ava gak tau nama lengkap Rei?
Satu lagi, menurut saya alangkah bagusnya penulis mengkaitkan selingkuhnya Ludi dengan ketiadaan kontak fisik antara dia dan tunangannya. Saya mikir dari awal, pasti Ludi ini ntar gak bakal jadi merit sama Ava, karena Ava bakal nemuin sesuatu yang paling gak bisa diterima, dan gak worth it dengan kesetiaan Ava. Saya malah menduga kalau Ava bakal nge-gap Ludi lagi selingkuh sama cowok, and its mean : Ludi is Gay, dan rasanya itu jadi lebih masuk akal.

Di luar dari itu, saya benar-benar salut sama novel ini, idenya ngajak kita berpikir di luar kotak. Salut untuk penulisnya!

Novel ini saya selesaikan jam dua dini hari. Dengan mewek tentunya. Haha, saya udah nangis sejak bagian Rei dirawat. Parah banget kan?

Saya suka pilihan kalimat bijaknya (bakal saya kutip), yang gak nyinyir dan ngena banget.

Satu lagi yang pantas dipuji adalah, sebenarnya secara garis besar novel-novel kontemporer sering mengusung tema yang sama : percintaan para lajang yang sukses, karir yang menjanjikan dan tentu keseharian sang tokoh yang look so glam. Tapi novel ini, melihat warna lain dari tema homogen tersebut.

Bravo Kristy Nelwan!!!

08 October 2008

J O D O H

lelaki baik untuk perempuan baik. 

itu kata Sang Pemilik Takdir, dan aku tidak meragukannya. 

entah siapa yang tidak cukup baik diantara kita. 

entahlah!

01 October 2008

HaPPY iDuL FiTRi

Alhamdullillah, akhirnya pertempuran usai sudah. Gak tau hasilnya gimana, setidaknya saya sudah berusaha maksimal, menjalani Ramadhan kali ini.
Buat semuanya, Selamat Hari Raya Idul Fitri ya, mohon maaf lahir batin.

Sebulan berpuasa, saatnya introspeksi. Ramadhan kali ini, agak lebih berat dari Ramadhan2 sebelumnya, hampir sama beratnya dengan Ramadhan tahun lalu dimana saya menyelesaikan skripsi dan kompre sekaligus di bulan Ramadhan. Belum lagi gempa di awal dan gempa2 susulan hampir setiap hari.
Ketika lafadz takbir menggema tadi malam, saya merenungi apa yang saya lewati pada Ramadhan kali ini. Entahlah, saya mungkin benar-benar sedang diuji. Tapi InsyaAllah, saya tak meragukan, bahwa Allah tidak akan pernah 'iseng' dengan jalan hidup saya, bahwa dari semua yang saya alami, tidak akan ada yang sia-sia.

Lebaran kali ini, saya tetap kerja. Ambil libur gantian dengan temen2 yang orang tuanya ada di luar Padang. Agak sedih juga sih, karena mama, kakak dan adek saya pulang kampung (gak mungkin mereka gak mudik hanya karena nungguin saya libur pada h plus tiga). Untung ada papa. Jadilah kami lebaran berdua saja, plus tante dan om dan sepupu2 saya yang datang ke rumah.
Tadi pagi, saya liputan Sholat Ied di gubernuran. Karena kepentingan gambar (gambar paling bagus itu, saat imam takbir tujuh kali dan lima kali) maka saya tidak ikut sholat. Abis salam2an sama pak gub dan pak wako, saya ketemu seorang bapak, yg tadinya menjajakan koran untuk alas sholat. Ngobrol sebentar, saya terharu. Jauh2 datang dari Lubuk Alung, Alhamdulillah, dapat seratus ribu.
Abis itu, saya pulang dulu. Sungkem sama keluarga besar, dan tentu, makan ketupat.
And then, saya ke rumah sakit. Ngeliput mereka yang merayakan lebaran di sana karena sedang sakit atau merawat keluarga. Dada saya sesak, karena semua yang saya wawancara pasti menangis, bercerita tentang perasaan mereka merayakan hari kemenangan di rumah sakit.

Demikian laporan saya untuk hari ini, kita kembali ke studio

24 September 2008

Saya yang puitis

Dari dulu saya hobi menulis, lebih tepatnya, menulis untuk diri sendiri. Lain kali saya bikin postingan tentang hobi saya yang satu itu. Waktu SMP dan SMU, saya terkenal dengan Ade Yang Puitis. Maksudnya, dulu saya suka bikin puisi, sampai punya buku khusus untuk itu malah.
Waktu itu, bagi saya puisi adalah diary, buku harian yang menyembunyikan wujud, tapi menelanjangi jiwa.
Beberapa hari lalu, sewaktu insomnia saya kambuh, saya buka-buka lagi buku-buku puisi tersebut, saya sampai takjub!
Wah, saya memang puitis ternyata! Haha ( narsis, again! )
Menurut ukuran saya, semua itu rasanya tak mungkin lagi saya tulis sekarang. Lalu saya mulai melihat tanggal ketika puisi-puisi itu dibuat, yang bisanya saya cantumkan di bawah tulisan.
Yang saya sadari adalah, kenapa saya begitu puitis di kala itu adalah : momentnya dan timing-nya.
Dulu, saya langsung menulis apa yang saya pikirkan dan rasakan. Saya tak membiarkan momentnya hilang bahkan dalam putaran jam. Tak heran, dulu saya menulis ketika pelajaran kimia, ketika menunggu ganti jam pelajaran, ketika rapat osis, tengah malam, dan bahkan habis mandi mau pergi sekolah.
Dan ketika saya petakan lagi, saya jadi produktif menulis puisi ketika saya sedang sangat tertarik dengan sesuatu ( atau seseorang? ) atau ketika saya sedang sangat sedih ( seperti ketika dikhianati teman atau habis putus sama pacar ).

Hm...betapa naik atau turunnya grafik hidup secara drastis bikin seseorang jadi kreatif ya!

Moment itu yang belakangan jarang saya manfaatkan, ketika hati saya berada di titik terbawah saking lukanya atau sedang melambung tinggi hingga puncak maksimal, saya membiarkannya, paling banter saya hanya tertawa atau menangis, setelah itu, hidup jalan terus!!!

Mungkin saya orang yang merugi untuk hal ini, karena saya sadar betul, hidup penuh warna ini bisa lebih bermakna ketika kita mengapresiasinya dengan bentuk lain, seperti sebuah lukisan bagi seorang seniman lukis atau tulisan bagi seorang penulis. Tulisan ini bikin saya malu hati sendiri, karena saya tau yang dimaksud adalah saya.

Saya pernah bermimpi, suatu saat, ketika saya telah berumah tangga, lalu suami saya melarang saya bekerja, maka saya akan menjadi penulis. Haha, impian muluk yang sangat mungkin diwujudkan. Tapi seorang teman bilang, kenapa tidak dari sekarang?

Ah, saya mungkin tidak lagi puitis. Atau saya butuh jatuh cinta lagi atau justru harus patah hati lagi, supaya jadi puitis lagi?
Haha, saya tidak tahu. Tapi saya masih mau berusaha, dan mungkin sekarang sedang menunggu moment di hidup saya, yang siapa tau datang besok pagi atau tidak akan pernah hadir sama sekali.

23 September 2008

The Rose Drawing Alley

http://azmiwings.com
Blognya Nina, rekan ngerumpi sampe pagi yang Englishnya kayak Bengawan Solo, hee, mengalir sampe jauh ya Jeung!

21 September 2008

CaNTiK

Hari ini dpat sms. Pagi buta pas sahur. Gak tau dari siapa, tapi isinya membuatku tercenung, dan masih merenunginya hingga siang.



Isi smsnya :

Wanita cantik melukiskan kekuatan lewat masalahnya,
tersenyum saat tertekan,
tertawa di saat hatinya menangis,
tawakal di saat terhina,
mempesona karena mengampuni.
Wanita cantik mengasihi tanpa pamrih,
dan bertambah kuat dalam doa dan pengharapan.
Pesan ini dikirim khusus untuk setiap wanita tercantik kepunyaan ALLAH SWT,
Amin...


Mungkin ini hanya keisengan seseorang (pengirimnya sedang ditelusuri). Mungkin ini hanya satu dari sekian sms-send-to-many. Mungkin orang itu mengirim ke semua perempuan yang dikenalnya. Apapun, saya tetap 'ngaruh' dengan sms yang satu itu.

Untuk anda yg mengirimkannya, terima kasih. Saya jadi punya satu perspektif lagi tentang perempuan dan kekuatannya menghadapi kehidupan. Inspirasi ini akan saya pertahankan!

11 September 2008

-Mojok With Pien-

http://vinnamelwanti.wordpress.com
Blog keren milik kak vinna, korlipnya padang ekspres, satu dari sedikit perempuan muda yang mengabdikan diri jadi jurnalis

07 September 2008

Send-to-many Messages

Gak tau kenapa, belakangan jadi hari ngirim-sms-sent-to-many sedunia. Ada doa untuk melancar rezeki, ada doa keselamatan sampai ada ucapan 'kamulah teman terbaikku. Yang gak enak itu adalah ujungnya, yaitu : kirimkan lagi ke sepuluh orang atau kirimkan kepada semua teman-teman kamu. Dan bagian paling-paling gak enak itu adalah : kalau tidak, maka kamu akan sial, akan ada keberuntungan jika kamu mengirimkan, atau tunggu aja, kamu akan mendapat anugrah tak terkira dalam waktu dekat, atau lagi : jika aku temanmu maka kirimkan balik sms ini.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah melihat siapa pengirimnya. Setelah itu saya akan hapus sms tersebut. Setiap datang lagi, bahkan dengan berbagai versi, saya hapus lagi.
Bukannya saya pelit pulsa untuk mengirimkan lagi ke banyak orang, tapi percayalah itu pekerjaan sia-sia.

Oke, mari kita bahas satu persatu.
Ada sms tentang bagaimana hari kiamat akan datang, lalu kita diingatkan bahwa kita sudah harus kembali instrospeksi diri, beribadah dan jangan hanya memikirkan duniawi saja. Pesannya bagus.
Ingat pesan berantai tentang penjaga makam Rasulullah? Pesannya juga bagus tapi endingnya yang bikin saya jengah. Sebarkan pesan ini pada yang lain (masih bisa diterima, ini adalah syiar kebenaran), kalau tidak, lihat saja dalam waktu dekat akan ada kesialan atau bencana yang menimpa anda ( ini yang tidak bisa saya terima).
Lalu semua orang berbondong ke foto copi terdekat menggandakan pesan tersebut (dulu) atau segera isi pulsa sebanyak-banyaknya untuk mengirimkan lagi sms tersebut ke semua nomor di phonebook, bukan karena kiamatnya sudah dekat, bukan karena mimpi penjaga makam Rasul tapi karena takut kesialan akan menimpa.

Hellooo, apakah karena tidak mengirimkan sms itu kita akan sial, akan dapat bencana? Kita akan berdosa jika tidak menyuarakan kebenaran, itu benar. Tapi kita akan terhindar dari bencana karena mengirimkan kembali sms tersebut ke banyak orang. Saya bukan ustadzah, mualim atau pun hafidzah, tapi saya tahu pasti bahwa sikap seperti itu adalah bentuk lain dari syirik. Saya terbuka untuk diajak berdebat soal ini.

Kemudian, sms (atau email dan pesan di friendster) yang menyebutkan tentang teman adalah segalanya. Kirimkan sms ini ke seluruh teman yang kamu sayangi, lihat berapa yang dikirimkan kembali kepadamu, jika lebih dari sepuluh, maka berarti kamu adalah teman yang disayangi.
Saya tidak pernah menanggapi yang seperti ini.
Of course I love my friends, and with their own way I know they love me too.
Sahabat saya dari SMA dulu suka sekali dengan tetek bengek seperti ini, dan dia tidak pernah menerima kiriman sms balik dari saya, lalu tidak serta merta lantas dia berkesimpulan saya tidak menyayangi dia kan?
Cinta kasih dan kepedulian itu priceless, bukan seharga satu sms send-to-many, yang bahkan oleh operator seluler terkadang jadi gratis. Apa dengan mendapat satu sms berarti itu sudah mewakili rasa sayang? Atau kalau seseorang tidak membalas sms "hari persahabatan sedunia" saya berarti orang itu berhak saya benci karena berarti dia tidak sayang saya?

Yang paling miris adalah waktu peringatan hari ibu, ada email yang menceritakan bagaimana mengharukannya kasih seorang ibu, lalu diakhir email, ada pesan untuk mengirimkan email tersebut kepada orang lain. Sekali lagi, kalau pesan untuk menghargai ibu, itu sangat saya hargai. tapi embel-embel dibawah email : jika kamu mengirimkan ke sepuluh orang, kamu tidak sayang dengan ibumu, kalau seratus orang, kamu cukup sayang ibumu, kalau ke seribu orang berarti kamu sangat mencintai ibumu, dan kalau kamu mengabaikan pesan ini dan tidak memforwardnya, berarti kamu membenci ibumu.

Tebak yang saya lakukan, saya menghapus email tersebut dan tidak mengirimkannya kembali kesatu orang pun, lalu apa serta merta saya menjadi anak durhaka?

31 August 2008

MaRHaBaN Yaa RaMaDHan!!!

Alhamdulillah, dikasih panjang umur sama Allah, masih diizinkan mengecap nikmat Ramadhan. Walopun kali ini agak beda dari Ramadhan sebelumnya. Kerja di media, bikin saya gak punya hari libur, meski dulu waktu di radio juga kayak gini, tapi kali ini rasanya lebih gimanaa gitu. Yang kebayang adalah liputan berbuka, tarawih hingga sahur. Waaah, harus fit luar biasa nih.

Tadi pagi, saya menggantikan mama yg lagi sakit belanja dapur ke pasar. H minus satu Ramadhan, Pasar Raya Padang justru sepi. Saya liput sekalian. Ternyata keramaian terjadi di tempat-tempat yang sudah diduga, dimana lagi kalo bukan di tempat pemandian Lubuk Minturun (salah satu pemandian umum di Kota Padang).

Jadi heran. rasanya udah banyak buya dan ustadz ngasih tau tradisi balimau justru merusak awal Ramadhan itu sendiri. Mungkin mereka yang menghabiskan hari terakhir sebelum puasa di tempat rekreasi harus punya alasan khusus, selain memanfaatkan momen mandi bareng, biar gak dianggap 'bikin dosa' sebelum puasa.

Seperti kebiasaan di keluarga saya, mungkin.
Tau yang namanya bunga rampai? Yang terdiri dari aneka bunga beraroma wangi, yang biasanya digunakan untuk balimau ( disiramin ke kepala). Meski tidak substantif dengan penyucian diri menyambut Ramadhan, Mama saya yang bijaksana memadukan unsur tradisional menjadi kebiasaan penuh makna. Bunga rampai jadi benda wajib di keluarga saya setiap jelang Ramadhan. Sesuatu yang mungkin "tidak substantif", jadi penuh makna.
Kami tentu harus saling bermaaf-maafkan. Anak harus minta maaf pada orang tua, adik pada kakak. Dengan media bunga rampai, kami menunjukkan rasa sayang dan pemaafan masing-masing. Yaitu dengan saling mengusap rambut anggota keluarga yang lain (ya dengan bunga rampai tadi), dan tentu sembari meminta maaf. Jika saya lagi musuhan dengan kakak saya, maka mau tidak mau kami akan berdamai karena gak mungkin mengusap rambut dengan cemberut dan tanpa rasa sayang.

Eniwei, saya sadar, saya tak luput dari kesalahan. Saking banyaknya kesalahan saya, rasanya tak cukup ditebus dengan ngirim SMS puitis sembari di selipin kalimat mohon maaf lahir batin ya.
Bukan berarti saya gak pengen sungkem dengan semua orang di awal Ramadhan kali ini, tapi rasanya itu semua akan lebih berarti ketika saya dengan segenap kesadaran penuh berusaha berhati-hati dalam setiap tindak tanduk, berjanji gak akan nyakitin orang, berusaha gak punya musuh dan akan mempertimbangkan setiap langkah.

Selamat menunaikan ibadah puasa ya. Saya, Ade Alifya, mohon maaf lahir dan batin!!!

Cheers


Pain

Luka di hati mungkin seperti bekas cincin di jari
Terlihat jelas membekas di awal,
tapi akan semakin mengabur ketika ia telah terbiasa
berdebu dan akrab dengan sinar mentari



Saya sakit, tapi tidak sekarat!




eh, slamat puasa

18 August 2008

Merdeka!



Trims untuk Sang Pengembara dari Utara dan rekan-rekan lain yang sudah mengajak mengibarkan bendera merah putih di internet, setidaknya membuktikan apa yang dikatakan opa-opa veteran tidak lah sepenuhnya benar.
Btw, beberapa hari terakhir saya meliput hal-hal yang berkaitan dengan hari kemerdekaan. Ketua Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Sumbar, bapak Djamaris Yunus bilang, perjuangan ingin bebas dari penjajahan dulu lebih dikarenakan keinginan untuk lebih sejahtera dan terlepas dari kebodohan. Nah, kalau sekarang, setelah 63 tahun Indonesia merdeka, masih ada yang harus berjuang mati-matian agar tetap makan dan tetap sekolah, berarti, rekan kita tersebut belumlah merdeka. Dan jelas, sebagai saudara sebangsa dan setanah air kita masih harus bergerak untuk mereka.

Beberapa hari yang lalu, saya juga mewawancara nelayan, pedagang kaki lima dan buruh, bertanya pada mereka, bagaimana mereka memandang kemerdekaan. Jawabannya memiriskan : bagaimana mau merdeka dek, buat nyari makan kami melaut, buat melaut butuh bahan bakar, mau beli bahan bakar, harganya mahal, terkadang langka. Kalaupun ada, kami gak boleh beli lebih banyak dari 10 liter. Apa itu yang disebut merdeka?
Saya hanya bisa terdiam ketika saya ditanya balik.

FYI, perayaan HUT RI di Kota Padang tidak begitu semarak. Libur agak panjang bikin banyak orang memilih berpiknik keluar kota. Ada juga sih beberapa perayaan yg diadakan di RT RW, tapi sebatas kegembiraan sorak sorai karena panjat pinang atau goyang dangdutan malam kesenian.

Btw, saya mendukung kebijakan Gubernur SUMBAR yang melarang pawai alegoris yang biasanya diadakan rutin setiap tahun, meski kebijakan ini prokontra. 

Mungkin, sudah saatnya kita tak lagi mementingkan sebuah seremonial. Termasuk pengibaran bendera merah putih tadi mungkin. Bisa jadi, bendera kita berkibar megah di depan rumah, tapi kita tak tau ada tetangga yang kelaparan. Atau kita jadi panitia peringatan HUT RI di komplek dan mengadakan malam kesenian, setelah itu acara diakhiri dengan mabuk2an bareng sebagai acara keakraban.

Mari berbuat lebih, untuk ulang tahun ibu pertiwi kali ini. Tak sekedar pengibaran bendera, tak hanya bikin gapura. Apa yang harus diperbuat, terserah anda. Anda adalah anak negeri yang pasti punya peran tersendiri. Kalau tidak, kita hanya akan jadi penumpang tak tahu diri dalam rumah yang bernama kemerdekaan ini, yang dulunya dibangun dengan darah dan airmata.

Merdeka!

16 August 2008

Yang Terhormat Nama Saya

Iseng-iseng, ngetik nama lengkap saya di google, ingin melihat seberapa populer nama tersebut(hee, narsis bgt ), seberapa banyak orang dengan nama yang sama dan mencek apa blog saya sudah bisa dicari di search engine.

Hasilnya adalah :
  • Thanks God, Nama saya belum ada duanya. Walopun nama depan saya pasaran (ADE), ketika ditambah nama belakang saya (ALIFYA), nama tersebut hanya akan merujuk saya sendiri. Hehe, thanks to my parent who given me nice name.
  • Ada orang yang namanya sama dengan nama pertama saya yang menulis kisah tentang seseorang yang bernama sama dengan nama kedua saya, dan dalam opini di google, ada orang yang memuji, betapa mengagumkannya sebuah nama yang digabung dari huruf pertama dengan huruf terakhir hijaiyah : like my last name : Alifya. Thanks to my parent again, I  U Both.
  • Yang muncul adalah komen saya di banyak blog, friendster saya dan blog saya yang lain.
  • Trus muncul juga artikel ini dari majalah Tasbih tentang pementasan teater yang pernah saya sutradarai dalam acara peringatan hari ibu tahun lalu dalam tajuk " Perempuan Tanpa Belenggu". Hee, saya baru tau ternyata Majalah Tasbih juga ada situsnya. Maaf ya Buk Emma.
  • Muncul juga nama saya beserta tempat tanggal lahir juga nama kampus saya dalam list orang-orang yang lulus seleksi administrasi buat jadi kuli republik (baca PNS).
  • Nama saya muncul dalam list WALHI, dalam daftar poling PP no 2 tahun 2008
  • Dan dari 648 hasil pencarian di google, yang lainnya adalah hanya penggalan nama depan saya atau nama belakang saya yang itu berarti bukan merujuk pada diri saya.

Begitulah sodara-sodara, kisah peredaran nama saya yang digabung dengan keisengan saya.


NB : Judul postingan diambil dari judul Cerpen Emha Ainun Najib, yang bukunya diilangin Bang Qodri dan Bang Rahman

tak ada ringtone hari ini*

tak ada ringtone hari ini.



tak jelas apa ini hukuman buat saya, karena ketika dulu saya ingin menghukum, saya tidak akan menghubungi seharian penuh.
jika ini hukuman, salah saya apa?
karena saya tidak tahu, saya mulai berasumsi.
apakah ini akan mengulang sejarah, bukankah sebelum peristiwa besar dulu kita juga memulainya dengan tak ada ringtone?
atau ini bentuk lain dari resolusi empat minggu yang lalu?

entah, saya bingung, tak tahu lagi mau curhat sama siapa, lalu saya memilih menulis di sini, tempat yang tidak akan pernah kamu singgahi.




*maaf, saya tak ingat, kalimat ini saya kutip dari mana ya?

10 August 2008

Baju Koruptor

Saya bergidik lihat cara kerja KPK belakangan. Keren banget. Satu persatu kasus korupsi terungkap, nama-nama yang tidak disangka-sangka mulai terdengar. Tertangkap tangan, penyadapan. Wah, pokoknya luar biasa. Pemberantasan korupsi di Hongkong yang hanya memakan waktu selama 3 tahun mulai terbayang.
Tapi ketika kita dihebohkan dengan baju koruptor, saya jadi miris.

Haha, kembali sebuah simbol lebih penting dari substansi. Lagi, pemikiran posmodernism salah kaprah kembali diaplikasikan dalam negara ini.

Dengan alasan ingin memberi efek jera pada koruptor, dengan dasar ingin mencabut keistimewaan yang didapat koruptor dari setiap persidangan hingga masa di tahanan dan penjara, sebuah baju koruptor dirancang, dan bahkan, para disainer berlomba-lomba merancang baju tersebut, yang katanya bukti kegeraman mereka terhadap para koruptor.

Saya berpikir, bukankah dengan demikian, para koruptor ini jadi semakin diistimewakan? Sidang dengan baju khusus? Rancangan disainer pula.

Apa tidak lebih baik efek jera dibuat dengan cara menghukum koruptor lebih berat dari sekedar hukuman maling ayam, semakin banyak negara dirugikan, semakin lama pula hukumannya, kalau perlu, beri hukuman sosial, menyapu jalan sambil diborgol, atau lebih ekstrim lagi, hukum potong tangan.
Bukankah dengan banyaknya pemberitaan di media, sudah mempublikasikan bahwa mereka koruptor, apa perlu dipakaikan lagi baju yang bertuliskan : saya koruptor loh!
Kalau rencana ini direalisasikan, berarti ada proyek pengadaan dong. Pakai uang siapa? APBN tentu. Bahannya? Oh, harus 100 cotton, biar nyaman dikenakan, dan menyerap keringat, karena kursi pesakitan itu agak sedikit menggerahkan. Rancangan desainer dengan model khusus, tidak bisa dibeli ditempat lain kecuali dipesan khusus.

HAHAHA, INI NEGERI SIMBOL, BUNG!!!!


07 August 2008

Telong-telong dan Keletihan

Hari ini Kota Padang berulang tahun. Yang ke 339.
Biasanya, malam sebelum 7 Agustus itu pemko mengadakan pawai telong-telong.
kalau tidak salah, telong tersebut artinya adalah cahaya api yang dinyalakan dari obor tetapi ada kertas yang menjaganya tetap hidup. Mirip seperti lampion.

Tadi malam, pulang dari kantor (yang juga heboh ngadain acara, sampai jalanan depan jadi macet), angkot yang saya naiki terpaksa muter-muter karena beberapa jalan di blokir. Akhirnya saya berhenti cukup jauh dan terpaksa jalan kaki sedikit ke rumah. Sepanjang jalan, saya bertemu beberapa arakan pawai telong-telong dari beberapa kecamatan (sayang, barisan antar kecamatan terpisah cukup jauh, jadi pawainya terlihat pendek).
Seingat saya, waktu saya jadi peserta pawai telong-telong ini, semuanya lebih heboh. Obor yang dipakai lebih banyak dan lebih meriah. Tapi yang berbeda kali ini adalah keikutsertaan rombongan barongsai. Yup, eksistensi mereka akhirnya diakui, mereka (etnis keturunan Tionghoa) juga ikut membangun Padang.

339 tahun, Kota ini sudah tua ternyata. Tapi tua-tua keladi. makin tua makin menjadi. Inilah, oma-oma yang bersolek. Jelang pilkada, kota ini semakin menggeliat. Saya sendiri, yang hampir tiap hari liputan ke KPU Padang, belum punya pilhan, tanggal 23 Oktober bakal nyoblos siapa (Beberapa calon terlihat cerdas, punya ide brilian dan tampak bijaksana. Tapi saya takut kecewa, dan golput pun bukanlah solusi. Kita lihat saja nanti)

Kota ini sepertinya tidak pernah letih. Tidak seperti saya, yang ketika bangun pagi, yang ada hanya semangat, tapi tubuh protes untuk diajak beraktivitas kembali, huff, ini dunia yang bergegas, dunia yang tak mengenal kata rehat. Saya suka dan menikmati, tapi tubuh pun mulai protes. Anehnya, kenapa saya belum sakit?

Beberapa hari lagi saya juga berulang tahun. Saya jelas tak ingin sakit pada hari itu. Semalam ibunda bertanya mau dibikinin apa ketiha harinya tiba. Mungkin Cake Labu kesukaan yang bikinnya repot banget atau cukup blackforest instant.


06 August 2008

BBBB ( Brain, Beauty, Behaviour, Bustard?)

Beberapa kali meliput pemilihan duta-duta wisata di kota ini, kota tetangga bahkan sampai tingkat provinsi bikin saya agak miris.

Ini tidaklah berbeda dengan pemilihan beauty pageant lainnya, yang katanya standarnya adalah Beauty, Brain, Behaviour atau lebih dikenal konsep 3B, dan Artika Sari Devi menambahkan dengan Brave.

Beauty, cantik. Apa sih standar cantik? Kulit putih, tinggi 170, kurus, rambut lurus, etc. Itu mungkin standar cantik media saat ini. Dulu? Orang dayak dianggap cantik kalo telinganya panjang, orang Uganda dianggap cantik kalo lehernya kayak jerapah, orang mesir cari istri itu yang gendut, karena cantik adalah gendut dan lambang kesuburan.
Lalu apa Beyonce itu gak cantik? Alicia Keys? Naomi Campbel, Dewi Hughes?

Berarti kita sepakat bahwa cantik itu relatif ( Pernah denger Nadine Chandrawinata Putri Indonesia 2006 waktu diwawancara pulang dari Miss Universe, dia bilang : cantik itu Alternatif. Hahaha). Tapi coba liat, dalam acara putri-putrian kayak gitu, pernahkah yang menang itu berkulit hitam, jerawatan, gendut dan pendek? Tidak Bukan? Berarti standar cantik yang dipakai adalah standar cantik kebanyakan.

Brain, otak, kecerdasan. Indonesia is a beautyfull City. Itu kata Nadine waktu disuruh juri Miss Universe untuk menjelaskan apa keunggulan Indonesia. City? Adek saya yang SD saja ngerti apa beda country dan city.
Atau dengar kan jawaban salah satu finalis Uda Uni (Pemilihan duta wisata di daerah saya), ketika juri bertanya, Bagaimana penerapan Kato Nan Ampek dalam pengembangan pariwisata Ranah Minang.
Dia memilih menjawab pakai bahasa Inggris, biar terkesan keren :
Thank you for the question. Kato Nan Ampek is Kato Mandaki, Kato Manurun, Kato Mandata dan Kato Malereng. Thank you.
Itu saja, hadirin bertepuk tangan dan dia pun menang!!!

Behaviour, kepribadian. Apa cukup masa karantina sekian hari untuk menilai kepribadian manusia yang pada dasarnya unik dan complicated? Saya, kalau ada di depan kamera dan tau sedang dinilai, pasti saya akan selalu senyum manis, tidak cemberut dan berusaha ramah.

Waktu itu, saya meliput final pemilihan duta wisata di satu kota. Acaranya diadakan malam hari dan di luar ruangan. Sepanjang acara saya tidak diberi duduk. Jadi karena saya harus buat berita yang menceritakan detail acara, saya memilih berdiri di depan dan kameramen saya biarkan mondar mandir. Lalu, seorang cowok, duta wisata juga, sekaligus panitia, menggunakan pakaian merah menyala (jenis warna adat yang banyak dipakai untuk acara seperti ini), wangi dan berselempang, berdiri tepat di depan saya, memunggungi dan nyaris tidak berjarak dan otomatis, sepatu pantovelnya yang ber-heel 3 cm menginjak kaki depan saya. Saya mendehem. Dia diam. Lalu bahunya saya colek. Saya bilang, maaf, permisi, kaki saya keinjak. Dengan pongahnya dia berkata, kalau nonton jangan disini. What The Hell!!! Inikah kepribadian yang dimaksud?

Saya bukan antipati dengan ini semua. Beberapa teman, malah saya support untuk ikut ajang ini. Saya juga mengenal beberapa di antara mereka. tapi saya juga tahu persis ada di antara mereka yang menang karena anak pejabat, ada yang diduga suka sesama jenis, ada yang hidupnya susah dan nyolong dulu untuk bisa mendaftar, atau ada yang sangat pongah dan merasa kota ini dia yang punya.

Sampai hari ini, ketika saya ditugaskan lagi meliput pemilihan-pemilihan seperti ini, saya belum bisa simpatik dengan mereka. Mungkin saya iri, katakanlah, mereka 'look so glam', tapi "ke-irian" ini tidak diikuti oleh keinginan ingin menjadi seperti mereka.

Beberapa diantara putri-putri itu ada yang saya kagumi. Angelina Sondakh dan Artika Sari Devi. Tapi untuk Sumbar, Padang ataupun kota-kota lain (setiap kota punya Uni-Uda (seperti abang none)). Saya masih miris melihat semuanya, mungkin karena saya sedikit banyak mengetahui karakter banyak orang yang terlibat disana. Miris melihat berapa APBD tersedot untuk itu dan miris melihat ini hanyalah seremonial, event tanpa substansi.

Mungkin, suatu saat, saya akan berubah pikiran. Mungkin!! No offense, dude!!!