Pages

20 December 2007

Tentang Idul Adha dan Pengorbanan

Kampus pada H minus 1 Idul Adha masih rame. Mungkin karena aktivitas perkuliahan tidak diliburkan. Gema Idul Adha memang tidak sehebat Idul Fitri. Bahkan ada anak muda yg tidak tau (dan tidak peduli) bilang bahwa seharusnya kita tidak perlu merayakan Idul Adha, kan itu lebarannya orang naik haji. Haha, ketauan banget waktu kecilnya gak ikut TPA.

Takbir telah bergema sehabis Maghrib.
Adalah aku dan seorang teman bernama Fajri, menghabiskan senja itu sambil menikmati masa2-pengangguran-setelah-wisuda dengan ngobrol ngalor ngidul dan terdampar di sebuah warung bakso di Pasar Baru. Mahasiswa Unand masih lalu lalang.

Sebuah keributan dari ruko di sebelah (yang adalah sebuah warnet) mengusik perhatian. semua orang terlihat tertarik dgn apa yg terjadi. Kami berdua tertawa2, dan membahas bahwa pada kejadian2 seperti ini, semua org kompak, punya satu titik perhatian, peduli. Kalau tidak salah dalam Ilmu Sosiologi interaksi semacam ini disebut kerumunan (crowd).
Aku dan Fajri masih belum menunjukkan minat dgn keributan di sebelah padahal semua orang, bahkan yg di jalanan telah membentuk sebuah kerumunan yg cukup besar sampe membuat kemacetan. Kami berdua baru tertarik ketika terdengar suara kaca pecah dan suara perempuan berteriak. Teriakannya berupa lafadz Al-Quran. "Ada mahasiswa kesurupan", begitu keterangan ibuk di kasir.

Kami segera bergabung dan merengsek ke barisan depan. Maka, si pembuat kerumunan terlihat. Seorang cewek
cukup cantik, berjilbab hitam bunga2, sedang berteriak2, mengucapkan banyak hal. Dia memandang sekeliling, matanya tajam. Tak ada yang berani mendekatinya. Semua orang terpaku di tempatnya, saling berbisik, tersenyum bahkan tertawa2. Dia semakin menggila saat ada cowok yang berusaha memegang tangannya. setelah itu dia kembali berceloteh, terduduk, masih dengan tatapan liar dan asing.

Ada yang aneh, benar2 ada yg aneh malam itu. Bukan, keanehan bukan pada cewek yg bisa dipastikan adalah mahasiswa Unand itu. Aku pernah beberapa kali melihat orang kesurupan, bahkan pernah lebih parah. Dan cewek itu (Aduhai, aku tidak mengenalnya apalagi mengetahui namanya) bukanlah termasuk kesurupan yg parah yg bisa mencelakai banyak orang. Dia hanya berdiri, berbicara di depan semua orang selayaknya berorasi.

Yang aneh adalah kerumunan itu. Mereka menikmati pemandangan yg sedang mereka lihat, seolah itu hiburan yg tidak biasa. Mereka, yah mereka hanya bisa berbisik, dan tertawa satu sama lain, seolah2 itu adalah topeng monyet dan si monyet sedang melakukan hal konyol.

Tidak ada yang menolong, bahkan berniat menolong. Tidak ada yg tergerak untuk membawa cewek itu ke tempat yg aman, tidak di jalanan, tidak di tonton banyak orang. Tidak ada yang bertanya dimana rumahnya. Semuanya, tukang ojek, sopir angkot, pemilik warung, mbak2 jilbab lebar, mahasiswa yg menenteng diktat, abang2 berkaca mata, ibuk2 menggendong anak, pasangan yg bergenggaman tangan, semuanya hanya menonton dan menikmati tontonan ini. Apa mereka masih akan menikmati ini jika yg di depan itu adalah adik, kakak, teman atau bahkan pacar mereka?

Akhirnya kami segera berlari ke mesjid yg terdekat, mencari Gharin (yg jaga mesjid) atau mungkin ustadz yg bisa saja ada di mesjid karena memang sdg takbiran. Kami pikir, hanya itu yg bisa kami lakukan untuk membantu.
Tapi kami ternyata sama seperti kerumunan itu, tidak bisa melakukan apa2, saat Gharin mesjid yg bersarung dan memakai kopiah haji itu hanya menanggapi laporan kami dgn dingin, dan bahkan menyuruh seorang tukang yg sedang memperbaiki lantai luar mesjid untuk melihat cewek yg kesurupan itu. Kami mendesaknya, dia menyebutkan sebuah nama yg katanya bisa menangani orang yg kesurupan, seolah2 kami mengenal semua penduduk pasar baru dan dgn mudah bisa mencari org yg dia maksud.
Benar2 tak ada yg bisa dilakukan. Aku dan Fajri pulang dgn berprasangka baik, bahwa pasti ada yg akan segera menolongnya, pasti bukan kami saja yg  'terusik'  dgn tontonan itu.

Menelusuri jalan pulang, takbir masih bergema di kejauhan. Seekor kucing kurus minum dari lubang di tengah jalan yg masih menyisakan air hujan. Dia minum dgn waspada walaupun jalanan cukup lengang. Sudah jam 21.30. Sebuah motor melaju, hampir saja menabraknya. Untunglah dia segera mengelak. Darahnya pasti tadi berhenti mengalir dan segera berkumpul di jantung. Dia hanya kucing yg ingin minum kemudian dimaki oleh pengendara motor. "Kuciang P****K"

Ah, Malam Idul Adha-ku kacau. Tak ada pengorbanan.
Oh ya, Selamat Idul Adha untuk semua.