Pages

16 December 2007

Kemah Bakti Mahasiswa : Antara Tradisi & Regulasi

Kemah Bakti Mahasiswa (selanjutnya disingkat KBM) merupakan salah satu dinamika kehidupan kampus yang terdiri dari rangkaian kegiatan outdoor yang dikoordinir oleh mahasiswa untuk mahasiswa. Tak jelas asal muasalnya kapan kegiatan ini pertama kali jadi bagian kehidupan kampus. UGM sebagai perguruan tinggi tertua di Indonesia telah akrab dengan acara ini pada pada tahun 1960-an. Awalnya acara ini dikemas sebagai acara ‘fun’ pelepas stress sesudah ujian akhir semester. Kemudian dalam perkembangannya ditambah dengan agenda turun ke masyarakat dalam rangka aplikasi ilmu, gotong royong bersama, pemberian sumbangan dan lain-lain. Karena itu namanya menjadi Kemah Bakti Mahasiswa.
Kemudian acara ini mengalami perkembangan. Tidak lagi di akhir semester tapi dilakukan di awal tahun ajaran baru. Kesibukan mahasiswa bertambah pada masa ini, tak hanya bayar SPP, mengurus Kartu Rencana Studi dan Kartu Hasil Studi serta mencari pembimbing akademik tapi juga mempersiapkan KBM bagi mahasiswa lama dan mempersiapkan diri untuk mengikuti KBM bagi mahasiswa baru. Tujuan acara ini pun mengalami perubahan yaitu sebagai pintu gerbang mahasiswa baru masuk kedalam pergaulan lingkungan jurusan dan menjadi anggota lembaga mahasiswa tingkat jurusan. Agenda acara diformat sedemikian rupa agar mahasiswa baru peserta KBM mengenal kehidupan kampus yang berbeda dengan lingkungan mereka sebelumnya yaitu lingkungan SMA. Panitia pelaksana mensosialisasikan kepada mahasiswa baru tentang pentingnya acara ini. Hal ini dilengkapai dengan janji-janji bahwa acara ini membawa dampak yang cukup signifikan dalam gerak, langkah, kreativitas, daya kritis, kepekaan sosial, dan sudut pandang mereka sebagai generasi intelektual. Panitia pun menambahkan apa akibatnya bagi anak baru jika tidak mengikuti acara ini yaitu tidak bisa bergabung dalam lembaga mahasiswa tingkat jurusan. Akibat lainnya adalah, adanya semacam sanksi sosial dalam pergaulan yang akan mereka terima jika mereka tidak mengikutinya (hal ini tentu saja disampaikan dengan ‘cara cerdas’) karena salah satu tujuan utama acara ini adalah keakraban dengan senior. Jika diperhatikan lagi sanksi sosial yang diberikan berupa pengucilan dari pergaulan tidak akan sama dampaknya pada setiap mahasiswa baru yang tidak ikut KBM. Ada individu yang tidak mengikuti KBM, pada awalnya memang mendapat perlakuan pengucilan dari mahasiswa jurusannya. Tetapi karena ia tipe pribadi yang ramah, supel dan pintar membawakan diri, akhirnya eksistensinya pun diakui di kalangan mahasiswa lain, apalagi jika ia mahasiswa pintar yang senang membagi ilmu pada orang lain dengan sering berdiskusi. Tetapi ada juga mahasiswa yang mengikuti KBM, tetapi dalam kesehariannya hanya mengenal ruang kuliah dan tempat kos, bahkan sampai ia diwisuda yang mengenalnya hanyalah teman seangkatannya. Jadi KBM jelas bukanlah satu-satunya cara untuk membina hubungan akrab dan harmonis antara mahasiswa lama dengan mahasiswa baru.
Dalam pelaksanaan KBM, ada satu program yang tak pernah luput diadakan tiap tahunnya. Perekrutan mahasiswa baru masuk ke dalam lembaga mahasiswa tingkat jurusan punya ritual khusus yang sudah dikemas sedemikian rupa. Bagian ini identik dengan jurit malam walaupun ada sebagian kecil jurusan yang tidak memasukkan acara jurit dalam ritualnya. Tetapi dengan beraneka ragam nama dan metode, acara jurit menjadi agenda utama. Pada bagian ini kekerasan dilegalkan, walaupun tidak dalam bentuk penyiksaan. Kekerasan yang berupa hardikan dan gertakan atau akting panitia dalam setiap penyelenggaraan KBM sebenarnya bertujuan mengingatkan dan menanamkan tanggung jawab terhadap tugas yang mereka emban sebagai anggota masyarakat nantinya. Dengan perumpamaan bahwa hidup di luar sana jauh lebih berat dari pada KBM, membuat push-up dan scot jump berkali-kali, merangkak di tanah, direndam di sungai dan dibentak-bentak menjadi kecil dan tak ada artinya. . Mahasiswa lama  berpendapat, tanpa mengikuti jurit, kualitas mahasiswa baru akan melempem. Tentu saja, kualitas yang dimaksud bukan kualitas berdasar pencapaian akademik, melainkan kualitas mental, nyali, dan kepekaan mahasiswa baru terhadap fenomena-fenomena sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang terjadi di sekitar mereka.
            Banyak yang bisa dibawa pulang begitu KBM selesai dilaksanakan. Bagi mahasiswa baru biasanya pulang dengan perasaan senang karena sudah dilantik sebagai bagian mahasiswa jurusannya, sebagian juga merasa mendapat ilmu yang tidak mereka dapatkan di bangku kuliah. Bagi mahasiswa lama ada kepuasan tersendiri jika berhasil melaksanakan KBM karena lembaga mahasiswa tingkat jurusan punya generasi baru untuk melanjutkan perjuangan mahasiswa tingkat jurusan, dan yang paling utama, mahasiswa lama punya kebanggan tersendiri karena telah berhasil melanjutkan tradisi. Tradisi. Ini yang menjadi alasan utama kenapa KBM dari tahun ke tahun tak pernah dihilangkan. Ini juga jadi alasan ampuh untuk mempertahankan konsep acara yang terkadang tidak sesuai lagi dengan konteks kekinian mahasiswa. Dan kata-kata tradisi juga yang menjadi tameng mahasiswa lama untuk menjurit mahasiswa baru. Benarkah karena kita mempertahankan tradisi ? Apakah  itu bukan pelampiasan dendam karena sebelumnya kita juga diperlakukan seperti itu oleh senior kita ? Ini yang perlu kita bahas kembali.
Dan untuk mempertahankan tradisi inilah, mahasiswa Unand tetap mengadakan KBM walaupun surat edaran Rektor No. 1099/XIV/UNAND-06 dikeluarkan tahun lalu. dan dipertegas oleh surat edaran dari Dekan dan Ketua Jurusan masing-masing. Dalam edaran tersebut disebutkan bahwa sesudah BAKTI Universitas dan BAKTI Fakultas (lebih dikenal dengan nama Student Day) tak ada lagi acara-acara yang diadakan ditingkat fakultas/jurusan yang dimaksudkan sebagai ajang penyambutan dan perekrutan mahasiswa baru. Larangan menggonggong KBM berlalu. Hampir semua jurusan tetap mengadakan kegiatan ini walaupun diakali sebisa mungkin. Seperti penggantian nama kegiatan. Misalnya menjadi latihan dasar alam yang lebih terdengar ramah dan ilmiah yang dalam agendanya dikaitkan dengan mata kuliah, seperti latihan dasar kepenulisan dan teater pada jurusan Sastra Indonesia. Penghilangan kata-kata kemah, kemping dan sebagainya dalam publikasi juga dilakukan serta penggantian format dalam proposal dimana dihilangkan agenda perekrutan dan penyambutan mahasiswa baru (walaupun mungkin di lapangan tetap dilaksanakan) serta mengagendakannya agak lama sesudah BAKTI agar tidak ada kesan penyambutan mahasiswa baru.
FISIP UNAND adalah salah satu fakultas yang mahasiswanya tetap mempertahankan tradisi KBM. Edaran rektor diperkuat oleh edaran Dekan FISIP juga peringatan langsung dari ketua jurusan dan kunjungan PD III ke kelas-kelas bahwa KBM adalah kegiatan ilegal dan mahasiswa lama maupun baru akan mendapat sanksi jika tetap bersikeras mengadakannya. Dari tahun lalu, pada saat-saat tersebut, keadaan langsung berubah ricuh. Beberapa orang panitia pelaksana mundur dari kepengurusan. Mahasiswa baru pun berpikir ulang untuk ikut, karena takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan tak ada yang akan bertanggung jawab walaupun panitia telah berusaha menjelaskan bahwa pada masa sebelumnya acara ini pernah juga tidak diperbolehkan tapi karena mahasiswa bersikeras ternyata tidak terjadi apa-apa dan ancaman sanksi yang akan dikeluarkan hanyalah gertak sambal. Beragam opini muncul antar mahasiswa FISIP. Tawaran penggantian format dari pihak dekanat bahwa acara ini diganti menjadi kemah keakraban seluruh civitas akademika FISIP ditepis oleh panitia karena mempertahankan sebuah tradisi yang dipercayai selama bertahun-tahun sebagai acara paling sakral.
Tahun lalu, ketiga jurusan di FISIP tetap mengadakan KBM pada waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda pada tanggal 1-3 Desember 2006. Sociology on Camp diadakan oleh Jurusan Sosiologi, Inisiasi diadakan oleh Jurusan Antropologi dan Pengkaderan oleh Jurusan Ilmu Politik. Walaupun satu jurusan segera ganti format sehari sebelum acara karena para senior mereka yang dulu juga pernah jadi panitia menyatakan tidak bisa mengikuti KBM kali ini dan tidak bisa mendukung panitia karena sepertinya kali ini dekanat tidak main-main dengan ancamannya, ketiga KBM ini terselenggara dengan sukses. Tetapi pasca KBM, suasana ‘gerah’ kembali terjadi di FISIP. Dekanat dan pihak jurusan akan mengumumkan sanksi akademik yang akan disahkan oleh rektor. Ada diantara panitia yang awalnya ‘lantang’ mulai ciut. Satu jurusan yang ganti format dan tidak menyertakan anak baru dalam acara mereka mungkin agak aman. Oknum mahasiswa mulai ‘menangguk di air keruh’ karena banyak ‘pahlawan kesiangan’ yang bermunculan. Satu jurusan yang aman mulai direcoki jurusan lain karena dinilai tidak solider dan kompak sesama FISIP. Panitia jurusan tersebut ‘cuci tangan’ dengan menyalahkan para senior yang hanya memberi saran dan menyatakan ketidakbersediaannya mendukung acara tersebut jika format tidak diganti. Ini jelas bukanlah campur tangan senior, karena pemberian saran bukanlah intervensi. Panitia adalah orang-orang terpilih dengan kemampuan teruji yang punya kewenangan untuk membuat keputusan demi suksesnya acara. Jika panitia mendengarkan sebuah saran lalu membuat keputusan maka sejatinya itu keputusan panitia dan panitia bertanggung jawab untuk itu. saya perlu menekankan bahwa pada kasus kali ini justru mahasiswa FISIP baik yang lama maupun yang baru dari seluruh jurusan harus bersatu padu jika merasa KBM perlu dipertahankan.
Pada saat mahasiswa FISIP menunggu daftar nama-nama yang akan dijatuhkan sanksi akademik berupa skorsing dan pemotongan SKS, mahasiswa menyatakan akan melakukan aksi jika daftar itu dikeluarkan. Tetapi sepertinya pihak dekanat butuh banyak pertimbangan karena tiga minggu pasca KBM belum ada tindakan apapun. Nasib  mahasiswa FISIP diperkirakan akan aman seperti fakultas lain yang dua bulan lalu juga ‘membandel’ tetap mengadakan KBM tapi sampai sekarang tetap aman dari sanksi akademik baik dari jurusan, dekanat maupun rektor ? Apakah ini hanya gertak sambal seperti tahun-tahun sebelumnya ? Ataukah proses investigasi yang dilakukan butuh waktu agak lama ?
Beberapa mahasiswa menilai bahwa ini saatnya kewibawaan sebuah regulasi menyangkut kemahasiswaan dari pihak jurusan, dekanat bahkan rektorat diuji. Dan sekiranyalah panitia dan senior selaku mahasiswa lama kembali memikirkan pembelaan logis kenapa KBM ini perlu dipertahankan. Tidak hanya sebuah defense dengan alasan ini sudah jadi tradisi. Mari, kita pikirkan format terbaik karena dalam pencapaian sebuah tujuan, sah-sah saja jika dilakukan dengan metode yang berbeda. Tunjukkan bahwa kita kaum intelektual yang kritis dan cerdas, mengerti dan paham dengan apa yang kita kerjakan dan kenapa itu harus kita kerjakan. Mahasiswa perlu forum bersama untuk kembali berbagi pikiran tentang format terbaik. Dulu di jurusan Ilmu Politik  keinginan untuk mengubah format pernah dicanangkan tetapi gagal karena representasi mahasiswa yang hadir dalam forum membahas format tidak sebanyak ketika acara jurit di KBM diadakan. Ironi yang menyedihkan bukan ? Kita, mahasiswa yang mengaku sebagai kaum intelektual, justru berbondong-bondong dalam acara ‘push up-rendam-hardik-merayap’ bukan pada forum dimana kita berbicara secara intelek tentang format terbaik sebuah acara yang bernama KBM yang katanya bertujuan untuk ‘memahasiswakan mahasiswa’