Pages

28 December 2007

Entah

Susah jadi orang susah.

Hee, maksudnya ga nahan liat yg gratis. Postingan ini di tulis jam 2 dini hari. Lagi nginap di PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) trus ada yg bawa laptop wifi, segera ke hot spot yg dekat WC, haha, sekali lagi, dengan huruf besar biar dramatis, DEKAT WC. Dingin banget, maklum aja, kampus saya di daerah perbukitan. Tapi its okey, karena ini internet gratis.

Satu kemajuan dari gedung ini, selain segala kemundurannya. I mean, ini PKM Gitu Loh (haha, gitu lohnya itu loh, lah..)
Pusat Kegiatan Mahasiswa, tapi belakangan, setiap unit kegiatan mahasiswa (yg berkegiatan) jadi susah nyari tempat buat, ya berkegiatan itu tadi. Semua ruangan dijadiin kantor para petinggi rektorat yg katanya konsen ngurusin mahasiswa, tapi mereka malah tega ngeliat anak2 Pandekar latihan karate di panas terik ato liat anak teater latihan di koridor lalu lalang, anak vokal latian di bawah gerimis, ato anak tari latihan di kolam tengah PKM, salah langkah bisa jeduk dan geger otak ringan.

Ah, saya jd speechless. Masalahnya, saya gak punya gigi utk ngegigit, hee, untuk merubah keadaan ini.

Kenapa banyak UKM diam? Harusnya ini gedung mereka, bukan? Ato UKM bukan lagi singkatan dari Unit Kegiatan Mahasiswa.

Saya jg pasrah saja lah. Ketika kekeluargaan teater dan UKS masih lekat dan tak kenal ruang dan waktu (dalam artian konotatif dan denotatif), saya anteng ajah.

Btw, dini hari di kampus abis latian teater dan "berantem" sama rekan sejawat lama yg makin lama makin aneh (ternyata kita perlu kenalan lagi, karena kamu sekarang begitu asing dan aneh).
Gak bisa tidur karena emang insomnia ditambah capek gak ketulungan dan badmood yg disebabkan ketidakjelasan segalanya : tidak jelas masalah hati, tidak jelas masalah kerjaan jangka panjang dan tidak jelas apa yg mbikin ini semua jadi tidak jelas.

Eh ya, idola saya, Benazir Bhutto meninggal. Saya berduka untuk itu. Postingan selanjutnya akan saya bahas tentang beliau.

Memang, dini hari yang entah.

20 December 2007

Tentang Idul Adha dan Pengorbanan

Kampus pada H minus 1 Idul Adha masih rame. Mungkin karena aktivitas perkuliahan tidak diliburkan. Gema Idul Adha memang tidak sehebat Idul Fitri. Bahkan ada anak muda yg tidak tau (dan tidak peduli) bilang bahwa seharusnya kita tidak perlu merayakan Idul Adha, kan itu lebarannya orang naik haji. Haha, ketauan banget waktu kecilnya gak ikut TPA.

Takbir telah bergema sehabis Maghrib.
Adalah aku dan seorang teman bernama Fajri, menghabiskan senja itu sambil menikmati masa2-pengangguran-setelah-wisuda dengan ngobrol ngalor ngidul dan terdampar di sebuah warung bakso di Pasar Baru. Mahasiswa Unand masih lalu lalang.

Sebuah keributan dari ruko di sebelah (yang adalah sebuah warnet) mengusik perhatian. semua orang terlihat tertarik dgn apa yg terjadi. Kami berdua tertawa2, dan membahas bahwa pada kejadian2 seperti ini, semua org kompak, punya satu titik perhatian, peduli. Kalau tidak salah dalam Ilmu Sosiologi interaksi semacam ini disebut kerumunan (crowd).
Aku dan Fajri masih belum menunjukkan minat dgn keributan di sebelah padahal semua orang, bahkan yg di jalanan telah membentuk sebuah kerumunan yg cukup besar sampe membuat kemacetan. Kami berdua baru tertarik ketika terdengar suara kaca pecah dan suara perempuan berteriak. Teriakannya berupa lafadz Al-Quran. "Ada mahasiswa kesurupan", begitu keterangan ibuk di kasir.

Kami segera bergabung dan merengsek ke barisan depan. Maka, si pembuat kerumunan terlihat. Seorang cewek
cukup cantik, berjilbab hitam bunga2, sedang berteriak2, mengucapkan banyak hal. Dia memandang sekeliling, matanya tajam. Tak ada yang berani mendekatinya. Semua orang terpaku di tempatnya, saling berbisik, tersenyum bahkan tertawa2. Dia semakin menggila saat ada cowok yang berusaha memegang tangannya. setelah itu dia kembali berceloteh, terduduk, masih dengan tatapan liar dan asing.

Ada yang aneh, benar2 ada yg aneh malam itu. Bukan, keanehan bukan pada cewek yg bisa dipastikan adalah mahasiswa Unand itu. Aku pernah beberapa kali melihat orang kesurupan, bahkan pernah lebih parah. Dan cewek itu (Aduhai, aku tidak mengenalnya apalagi mengetahui namanya) bukanlah termasuk kesurupan yg parah yg bisa mencelakai banyak orang. Dia hanya berdiri, berbicara di depan semua orang selayaknya berorasi.

Yang aneh adalah kerumunan itu. Mereka menikmati pemandangan yg sedang mereka lihat, seolah itu hiburan yg tidak biasa. Mereka, yah mereka hanya bisa berbisik, dan tertawa satu sama lain, seolah2 itu adalah topeng monyet dan si monyet sedang melakukan hal konyol.

Tidak ada yang menolong, bahkan berniat menolong. Tidak ada yg tergerak untuk membawa cewek itu ke tempat yg aman, tidak di jalanan, tidak di tonton banyak orang. Tidak ada yang bertanya dimana rumahnya. Semuanya, tukang ojek, sopir angkot, pemilik warung, mbak2 jilbab lebar, mahasiswa yg menenteng diktat, abang2 berkaca mata, ibuk2 menggendong anak, pasangan yg bergenggaman tangan, semuanya hanya menonton dan menikmati tontonan ini. Apa mereka masih akan menikmati ini jika yg di depan itu adalah adik, kakak, teman atau bahkan pacar mereka?

Akhirnya kami segera berlari ke mesjid yg terdekat, mencari Gharin (yg jaga mesjid) atau mungkin ustadz yg bisa saja ada di mesjid karena memang sdg takbiran. Kami pikir, hanya itu yg bisa kami lakukan untuk membantu.
Tapi kami ternyata sama seperti kerumunan itu, tidak bisa melakukan apa2, saat Gharin mesjid yg bersarung dan memakai kopiah haji itu hanya menanggapi laporan kami dgn dingin, dan bahkan menyuruh seorang tukang yg sedang memperbaiki lantai luar mesjid untuk melihat cewek yg kesurupan itu. Kami mendesaknya, dia menyebutkan sebuah nama yg katanya bisa menangani orang yg kesurupan, seolah2 kami mengenal semua penduduk pasar baru dan dgn mudah bisa mencari org yg dia maksud.
Benar2 tak ada yg bisa dilakukan. Aku dan Fajri pulang dgn berprasangka baik, bahwa pasti ada yg akan segera menolongnya, pasti bukan kami saja yg  'terusik'  dgn tontonan itu.

Menelusuri jalan pulang, takbir masih bergema di kejauhan. Seekor kucing kurus minum dari lubang di tengah jalan yg masih menyisakan air hujan. Dia minum dgn waspada walaupun jalanan cukup lengang. Sudah jam 21.30. Sebuah motor melaju, hampir saja menabraknya. Untunglah dia segera mengelak. Darahnya pasti tadi berhenti mengalir dan segera berkumpul di jantung. Dia hanya kucing yg ingin minum kemudian dimaki oleh pengendara motor. "Kuciang P****K"

Ah, Malam Idul Adha-ku kacau. Tak ada pengorbanan.
Oh ya, Selamat Idul Adha untuk semua.

16 December 2007

Si Kambing Jantan

http://radityadika.com
Menikmati kegoblokan sebagai sebuah anugrah terindah.
This site is very Goblok that must be browsed !!!

Catatan Perempuan Tentang Perempuan

Seorang perempuan hebat Indonesia (menurut aku nih) dalam artikelnya yg berjudul Erotomania yang pernah dimuat dalam majalah Men's Obsession memuji 2 buah lagu yang kata beliau, sangat mengena di hati. lagu tersebut adalah lagu Maroon 5 yg judulnya She Will Be Loved dan Lagu Madonna yg judulnya What If Feels Like For A Girl. Kata beliau lagi nih, kedua lagu tersebut mengakomodir perasaan perempuan, walaupun Maroon 5 berusaha menerjemahkan kebutuhan perempuan dari kacamata laki2 dan Madonna cenderung lebih garang mempertegas pentingnya pengakuan terhadap ekistensi perempuan.

Mengingat artikel tersebut, aku jadi membandingkan dgn lagu2 ciptaan musisi dalam negeri. Pilihan jatuh pada sebuah lagu Ada Band yg dijadiin OST iklan pembalut: Karena Wanita Ingin Dimengerti.

Judulnya sangat luar biasa, membuat aku dan kaum perempuan terenyuh.
Memang, perempuan ingin dimengerti bahwa kami memang berbeda dgn kaum laki2 tapi tidak untuk dibedakan, dimengerti bahwa jika kami diberi kesempatan yang sama, diizinkan terlibat dalam ranah publik tanpa beban budaya patriarki, maka perempuan mampu berbuat lebih untuk msa depan yg lebih baik.
Perempuan memang ingin dimengerti, bahwa tanpa mengabaikan fitrah, kami ingin mempertegas eksistensi kami sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran.
Kembali ke lagu Ada Band yg judulnya luar biasa tadi, hm.. kekecewaan terjadi begitu mendengar liriknya. Ternyata mereka sebagai musisi Indonesia masih belum cerdas menyikapi apa yang ingin dimengerti oleh kaum hawa. Perhatikan bagian2 lirik :

hadirkan pesona, kemuliaan bagi yg memandang
akulah pengagum ragamu
lindungi dari sengat dunia
yg menodai sucinya lahirmu
Kembali, perempuan dinilai dan diukur dari segi fisik, hanya sekedar seonggok daging yang berbentuk. Perempuan adalah keindahan, perhiasan, "limpapeh", makhluk lemah dan bla bla bla lainnya. Pada akhirnya pembahasan perempuan di tingkat intelektual pun tetap harus memperhatikan tubuhnya, sebuah materi yang membungkus esensi dan eksistensi perempuan. Misalnya defenisi biologis dimana permpuan mempunyai kemampuan untuk hamil karena itu perempuan keibuan, sensitif dan emosional, yang tidak mengizinkan perempuan berkiprah lebih karena sifat2 tadi menunjukkan bahwa perempuan itu : lemah, tidak tegas dan mengandalkan perasaan ketimbang logika.
Bukan salah Ada Band jika mereka ikut mempopulerkan stigma seperti itu. Budaya entertainment kita memang telah menciptakan iklim yang menjadikan perempuan sebagai objek. Aku teringat film2 Dono Kasino Indro ketika aku masih SD. Film itu benar2 ditunggu oleh penonton. Kelucuan yg dibuat oleh film yg berlabel untuk 13 tahun ke atas itu dengan berbagai judul bersumber dari bahasan yg sama : perempuan seksi dan masalah yg ditimbulkannya.
Kemudian lihat dunia pertelevisian kita saat ini. Eksplorasi atas tubuh perempuan terus dilakukan. Perempuan dianggap sebagai objek bahkan untuk hal2 yg tidak penting. Pernah liat sebuah iklan pompa air? Apa hubungannya perempuan seksi dgn baju kuyup dgn mesin pompa air yg lancar? Atau iklan handphone di media cetak. Photo seorang perempuan dgn ukuran bra 36 dan baju sedikit terbuka di bagian dada, dan sebuah handphone mungil tergantung disana. Berani taruhan, yg dilihat pertama pasti bukan handphonenya. Iklan balsem gosok dibintangi perempuan seksi yg mendesah2, iklan mie instant super pedas yg menganalogikan cabe dgn tubuh perempuan seksi. Mention it!!! Ada puluhan bahkan ratusan. belum lagi sinetron dan opera sabun.
Lalu salah siapa ini semua? Tidakkah perempuan ikut membangun budaya itu? Perempuan juga lah yg mengizinkan orang lain untuk menilainya hanya sebagai seonggok daging yg berbentuk. Perempuanlah yg berlomba untuk memperbaiki fisik dari hari ke hari tanpa pernah mendandani jiwa.
Ini menggelisahkan karena semua orang terkontaminasi bahkan seorang gadis lucu berumur 10 tahun yg minta tolong sama mamanya untuk mencukur alis karena alisnya tidak sebagus sang kakak (yg punya alis semut beriring dgn bulu mata keriting seperti dessi bebek hasil metamorfosanya di salon)
Ini mengkhawatirkan. Jelas benar2 mengkhawatirkan. Karena aku pun takut terkontaminasi !!!
Dan catatan ini takkan pernah selesai.

Kemah Bakti Mahasiswa : Antara Tradisi & Regulasi

Kemah Bakti Mahasiswa (selanjutnya disingkat KBM) merupakan salah satu dinamika kehidupan kampus yang terdiri dari rangkaian kegiatan outdoor yang dikoordinir oleh mahasiswa untuk mahasiswa. Tak jelas asal muasalnya kapan kegiatan ini pertama kali jadi bagian kehidupan kampus. UGM sebagai perguruan tinggi tertua di Indonesia telah akrab dengan acara ini pada pada tahun 1960-an. Awalnya acara ini dikemas sebagai acara ‘fun’ pelepas stress sesudah ujian akhir semester. Kemudian dalam perkembangannya ditambah dengan agenda turun ke masyarakat dalam rangka aplikasi ilmu, gotong royong bersama, pemberian sumbangan dan lain-lain. Karena itu namanya menjadi Kemah Bakti Mahasiswa.
Kemudian acara ini mengalami perkembangan. Tidak lagi di akhir semester tapi dilakukan di awal tahun ajaran baru. Kesibukan mahasiswa bertambah pada masa ini, tak hanya bayar SPP, mengurus Kartu Rencana Studi dan Kartu Hasil Studi serta mencari pembimbing akademik tapi juga mempersiapkan KBM bagi mahasiswa lama dan mempersiapkan diri untuk mengikuti KBM bagi mahasiswa baru. Tujuan acara ini pun mengalami perubahan yaitu sebagai pintu gerbang mahasiswa baru masuk kedalam pergaulan lingkungan jurusan dan menjadi anggota lembaga mahasiswa tingkat jurusan. Agenda acara diformat sedemikian rupa agar mahasiswa baru peserta KBM mengenal kehidupan kampus yang berbeda dengan lingkungan mereka sebelumnya yaitu lingkungan SMA. Panitia pelaksana mensosialisasikan kepada mahasiswa baru tentang pentingnya acara ini. Hal ini dilengkapai dengan janji-janji bahwa acara ini membawa dampak yang cukup signifikan dalam gerak, langkah, kreativitas, daya kritis, kepekaan sosial, dan sudut pandang mereka sebagai generasi intelektual. Panitia pun menambahkan apa akibatnya bagi anak baru jika tidak mengikuti acara ini yaitu tidak bisa bergabung dalam lembaga mahasiswa tingkat jurusan. Akibat lainnya adalah, adanya semacam sanksi sosial dalam pergaulan yang akan mereka terima jika mereka tidak mengikutinya (hal ini tentu saja disampaikan dengan ‘cara cerdas’) karena salah satu tujuan utama acara ini adalah keakraban dengan senior. Jika diperhatikan lagi sanksi sosial yang diberikan berupa pengucilan dari pergaulan tidak akan sama dampaknya pada setiap mahasiswa baru yang tidak ikut KBM. Ada individu yang tidak mengikuti KBM, pada awalnya memang mendapat perlakuan pengucilan dari mahasiswa jurusannya. Tetapi karena ia tipe pribadi yang ramah, supel dan pintar membawakan diri, akhirnya eksistensinya pun diakui di kalangan mahasiswa lain, apalagi jika ia mahasiswa pintar yang senang membagi ilmu pada orang lain dengan sering berdiskusi. Tetapi ada juga mahasiswa yang mengikuti KBM, tetapi dalam kesehariannya hanya mengenal ruang kuliah dan tempat kos, bahkan sampai ia diwisuda yang mengenalnya hanyalah teman seangkatannya. Jadi KBM jelas bukanlah satu-satunya cara untuk membina hubungan akrab dan harmonis antara mahasiswa lama dengan mahasiswa baru.
Dalam pelaksanaan KBM, ada satu program yang tak pernah luput diadakan tiap tahunnya. Perekrutan mahasiswa baru masuk ke dalam lembaga mahasiswa tingkat jurusan punya ritual khusus yang sudah dikemas sedemikian rupa. Bagian ini identik dengan jurit malam walaupun ada sebagian kecil jurusan yang tidak memasukkan acara jurit dalam ritualnya. Tetapi dengan beraneka ragam nama dan metode, acara jurit menjadi agenda utama. Pada bagian ini kekerasan dilegalkan, walaupun tidak dalam bentuk penyiksaan. Kekerasan yang berupa hardikan dan gertakan atau akting panitia dalam setiap penyelenggaraan KBM sebenarnya bertujuan mengingatkan dan menanamkan tanggung jawab terhadap tugas yang mereka emban sebagai anggota masyarakat nantinya. Dengan perumpamaan bahwa hidup di luar sana jauh lebih berat dari pada KBM, membuat push-up dan scot jump berkali-kali, merangkak di tanah, direndam di sungai dan dibentak-bentak menjadi kecil dan tak ada artinya. . Mahasiswa lama  berpendapat, tanpa mengikuti jurit, kualitas mahasiswa baru akan melempem. Tentu saja, kualitas yang dimaksud bukan kualitas berdasar pencapaian akademik, melainkan kualitas mental, nyali, dan kepekaan mahasiswa baru terhadap fenomena-fenomena sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang terjadi di sekitar mereka.
            Banyak yang bisa dibawa pulang begitu KBM selesai dilaksanakan. Bagi mahasiswa baru biasanya pulang dengan perasaan senang karena sudah dilantik sebagai bagian mahasiswa jurusannya, sebagian juga merasa mendapat ilmu yang tidak mereka dapatkan di bangku kuliah. Bagi mahasiswa lama ada kepuasan tersendiri jika berhasil melaksanakan KBM karena lembaga mahasiswa tingkat jurusan punya generasi baru untuk melanjutkan perjuangan mahasiswa tingkat jurusan, dan yang paling utama, mahasiswa lama punya kebanggan tersendiri karena telah berhasil melanjutkan tradisi. Tradisi. Ini yang menjadi alasan utama kenapa KBM dari tahun ke tahun tak pernah dihilangkan. Ini juga jadi alasan ampuh untuk mempertahankan konsep acara yang terkadang tidak sesuai lagi dengan konteks kekinian mahasiswa. Dan kata-kata tradisi juga yang menjadi tameng mahasiswa lama untuk menjurit mahasiswa baru. Benarkah karena kita mempertahankan tradisi ? Apakah  itu bukan pelampiasan dendam karena sebelumnya kita juga diperlakukan seperti itu oleh senior kita ? Ini yang perlu kita bahas kembali.
Dan untuk mempertahankan tradisi inilah, mahasiswa Unand tetap mengadakan KBM walaupun surat edaran Rektor No. 1099/XIV/UNAND-06 dikeluarkan tahun lalu. dan dipertegas oleh surat edaran dari Dekan dan Ketua Jurusan masing-masing. Dalam edaran tersebut disebutkan bahwa sesudah BAKTI Universitas dan BAKTI Fakultas (lebih dikenal dengan nama Student Day) tak ada lagi acara-acara yang diadakan ditingkat fakultas/jurusan yang dimaksudkan sebagai ajang penyambutan dan perekrutan mahasiswa baru. Larangan menggonggong KBM berlalu. Hampir semua jurusan tetap mengadakan kegiatan ini walaupun diakali sebisa mungkin. Seperti penggantian nama kegiatan. Misalnya menjadi latihan dasar alam yang lebih terdengar ramah dan ilmiah yang dalam agendanya dikaitkan dengan mata kuliah, seperti latihan dasar kepenulisan dan teater pada jurusan Sastra Indonesia. Penghilangan kata-kata kemah, kemping dan sebagainya dalam publikasi juga dilakukan serta penggantian format dalam proposal dimana dihilangkan agenda perekrutan dan penyambutan mahasiswa baru (walaupun mungkin di lapangan tetap dilaksanakan) serta mengagendakannya agak lama sesudah BAKTI agar tidak ada kesan penyambutan mahasiswa baru.
FISIP UNAND adalah salah satu fakultas yang mahasiswanya tetap mempertahankan tradisi KBM. Edaran rektor diperkuat oleh edaran Dekan FISIP juga peringatan langsung dari ketua jurusan dan kunjungan PD III ke kelas-kelas bahwa KBM adalah kegiatan ilegal dan mahasiswa lama maupun baru akan mendapat sanksi jika tetap bersikeras mengadakannya. Dari tahun lalu, pada saat-saat tersebut, keadaan langsung berubah ricuh. Beberapa orang panitia pelaksana mundur dari kepengurusan. Mahasiswa baru pun berpikir ulang untuk ikut, karena takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan tak ada yang akan bertanggung jawab walaupun panitia telah berusaha menjelaskan bahwa pada masa sebelumnya acara ini pernah juga tidak diperbolehkan tapi karena mahasiswa bersikeras ternyata tidak terjadi apa-apa dan ancaman sanksi yang akan dikeluarkan hanyalah gertak sambal. Beragam opini muncul antar mahasiswa FISIP. Tawaran penggantian format dari pihak dekanat bahwa acara ini diganti menjadi kemah keakraban seluruh civitas akademika FISIP ditepis oleh panitia karena mempertahankan sebuah tradisi yang dipercayai selama bertahun-tahun sebagai acara paling sakral.
Tahun lalu, ketiga jurusan di FISIP tetap mengadakan KBM pada waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda pada tanggal 1-3 Desember 2006. Sociology on Camp diadakan oleh Jurusan Sosiologi, Inisiasi diadakan oleh Jurusan Antropologi dan Pengkaderan oleh Jurusan Ilmu Politik. Walaupun satu jurusan segera ganti format sehari sebelum acara karena para senior mereka yang dulu juga pernah jadi panitia menyatakan tidak bisa mengikuti KBM kali ini dan tidak bisa mendukung panitia karena sepertinya kali ini dekanat tidak main-main dengan ancamannya, ketiga KBM ini terselenggara dengan sukses. Tetapi pasca KBM, suasana ‘gerah’ kembali terjadi di FISIP. Dekanat dan pihak jurusan akan mengumumkan sanksi akademik yang akan disahkan oleh rektor. Ada diantara panitia yang awalnya ‘lantang’ mulai ciut. Satu jurusan yang ganti format dan tidak menyertakan anak baru dalam acara mereka mungkin agak aman. Oknum mahasiswa mulai ‘menangguk di air keruh’ karena banyak ‘pahlawan kesiangan’ yang bermunculan. Satu jurusan yang aman mulai direcoki jurusan lain karena dinilai tidak solider dan kompak sesama FISIP. Panitia jurusan tersebut ‘cuci tangan’ dengan menyalahkan para senior yang hanya memberi saran dan menyatakan ketidakbersediaannya mendukung acara tersebut jika format tidak diganti. Ini jelas bukanlah campur tangan senior, karena pemberian saran bukanlah intervensi. Panitia adalah orang-orang terpilih dengan kemampuan teruji yang punya kewenangan untuk membuat keputusan demi suksesnya acara. Jika panitia mendengarkan sebuah saran lalu membuat keputusan maka sejatinya itu keputusan panitia dan panitia bertanggung jawab untuk itu. saya perlu menekankan bahwa pada kasus kali ini justru mahasiswa FISIP baik yang lama maupun yang baru dari seluruh jurusan harus bersatu padu jika merasa KBM perlu dipertahankan.
Pada saat mahasiswa FISIP menunggu daftar nama-nama yang akan dijatuhkan sanksi akademik berupa skorsing dan pemotongan SKS, mahasiswa menyatakan akan melakukan aksi jika daftar itu dikeluarkan. Tetapi sepertinya pihak dekanat butuh banyak pertimbangan karena tiga minggu pasca KBM belum ada tindakan apapun. Nasib  mahasiswa FISIP diperkirakan akan aman seperti fakultas lain yang dua bulan lalu juga ‘membandel’ tetap mengadakan KBM tapi sampai sekarang tetap aman dari sanksi akademik baik dari jurusan, dekanat maupun rektor ? Apakah ini hanya gertak sambal seperti tahun-tahun sebelumnya ? Ataukah proses investigasi yang dilakukan butuh waktu agak lama ?
Beberapa mahasiswa menilai bahwa ini saatnya kewibawaan sebuah regulasi menyangkut kemahasiswaan dari pihak jurusan, dekanat bahkan rektorat diuji. Dan sekiranyalah panitia dan senior selaku mahasiswa lama kembali memikirkan pembelaan logis kenapa KBM ini perlu dipertahankan. Tidak hanya sebuah defense dengan alasan ini sudah jadi tradisi. Mari, kita pikirkan format terbaik karena dalam pencapaian sebuah tujuan, sah-sah saja jika dilakukan dengan metode yang berbeda. Tunjukkan bahwa kita kaum intelektual yang kritis dan cerdas, mengerti dan paham dengan apa yang kita kerjakan dan kenapa itu harus kita kerjakan. Mahasiswa perlu forum bersama untuk kembali berbagi pikiran tentang format terbaik. Dulu di jurusan Ilmu Politik  keinginan untuk mengubah format pernah dicanangkan tetapi gagal karena representasi mahasiswa yang hadir dalam forum membahas format tidak sebanyak ketika acara jurit di KBM diadakan. Ironi yang menyedihkan bukan ? Kita, mahasiswa yang mengaku sebagai kaum intelektual, justru berbondong-bondong dalam acara ‘push up-rendam-hardik-merayap’ bukan pada forum dimana kita berbicara secara intelek tentang format terbaik sebuah acara yang bernama KBM yang katanya bertujuan untuk ‘memahasiswakan mahasiswa’


13 December 2007

Looking for job or for future gate?

Dear, Habibi!
Kemaren berdesakkan di sebuah papan pengumuman sebuah lembaga negara, nyari namaku, ada gak ya di barisan nama yg lulus seleksi adminstrasi. Alhamdulillah, ada.
Antrian untuk jadi kuli republik emang gak ada sepinya. So do I.
So, hari sabtu besok ujian. My first Job test. doain aja!!
Aku iri sama kamu yg cepat dapat kerja, udah tanda tangan kontrak, di lembaga internasional pula, plus pekerjaan yg kuinginkan : terjun ke masyarakat.
Tapi aku juga bahagia, apalagi melihat kamu dengan pakaian kerjamu, look so glam!!
Selamat!!!
Aku jadi semangat untuk segera menghadapi dunia.



06 December 2007

Si Jenius Supernova

http://dee-idea.blogspot.com/
Masih berharap, suatu hari kami akan makan malam dan berbincang sebagai partner. Hm... Sounds cool, isn't it?

04 December 2007

Catatan Perempuan Tentang Perempuan

Seorang perempuan hebat Indonesia (menurut aku nih) dalam artikelnya yg berjudul Erotomania yang pernah dimuat dalam majalah Men's Obsession memuji 2 buah lagu yang kata beliau, sangat mengena di hati. lagu tersebut adalah lagu Maroon 5 yg judulnya She Will Be  Loved  dan Lagu Madonna  yg judulnya What If Feels Like For A  Girl. Kata beliau lagi nih, kedua lagu tersebut mengakomodir perasaan perempuan, walaupun Maroon 5 berusaha menerjemahkan kebutuhan perempuan dari kacamata laki2 dan Madonna cenderung lebih garang mempertegas pentingnya pengakuan terhadap ekistensi perempuan.

Mengingat artikel tersebut, aku jadi membandingkan dgn lagu2 ciptaan musisi dalam negeri. Pilihan jatuh pada sebuah  lagu  Ada Band yg dijadiin OST iklan pembalut : Karena Wanita Ingin Dimengerti.
Judulnya sangat luar biasa, membuat aku dan kaum perempuan terenyuh.
Memang, perempuan ingin dimengerti bahwa kami memang berbeda dgn kaum laki2 tapi tidak untuk dibedakan, dimengerti bahwa jika kami diberi kesempatan yang sama, diizinkan terlibat dalam ranah publik tanpa beban budaya patriarki, maka perempuan mampu berbuat lebih untuk msa depan yg lebih baik.
Perempuan memang ingin dimengerti, bahwa tanpa mengabaikan fitrah, kami ingin mempertegas eksistensi kami sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran.
Kembali ke lagu Ada Band yg judulnya luar biasa tadi, hm.. kekecewaan terjadi begitu mendengar liriknya. Ternyata mereka sebagai musisi Indonesia masih belum cerdas menyikapi apa yang ingin dimengerti oleh kaum hawa. Perhatikan bagian2 lirik :
hadirkan pesona, kemuliaan bagi yg memandang
akulah pengagum ragamu
lindungi dari sengat yg menodai sucinya lahirmu
Kembali, perempuan dinilai dan diukur dari segi fisik, hanya sekedar seonggok daging yang berbentuk. Perempuan adalah keindahan, perhiasan, "limpapeh", makhluk lemah dan bla bla bla lainnya. Pada akhirnya pembahasan perempuan di tingkat intelektual pun tetap harus memperhatikan tubuhnya, sebuah materi yang membungkus esensi dan eksistensi perempuan. Misalnya defenisi biologis dimana permpuan mempunyai kemampuan untuk hamil karena itu perempuan keibuan, sensitif dan emosional, yang tidak mengizinkan perempuan berkiprah lebih karena sifat2 tadi menunjukkan bahwa perempuan itu : lemah, tidak tegas dan mengandalkan perasaan ketimbang logika.
Bukan salah Ada Band jika mereka ikut mempopulerkan stigma seperti itu. Budaya entertainment kita memang telah menciptakan iklim yang menjadikan perempuan sebagai objek. Aku teringat film2 Dono Kasino Indro ketika aku masih SD. Film itu benar2 ditunggu oleh penonton. Kelucuan yg dibuat oleh film yg berlabel untuk 13 tahun ke atas itu dengan berbagai judul bersumber dari bahasan yg sama : perempuan seksi dan masalah yg ditimbulkannya.
Kemudian lihat dunia pertelevisian kita saat ini. Eksplorasi atas tubuh perempuan terus dilakukan. Perempuan dianggap sebagai objek bahkan untuk hal2 yg tidak penting. Pernah liat sebuah iklan pompa air? Apa hubungannya perempuan seksi dgn baju kuyup dgn mesin pompa air yg lancar? Atau iklan handphone di media cetak. Photo seorang perempuan dgn ukuran bra 36 dan baju sedikit terbuka di bagian dada, dan sebuah handphone mungil tergantung disana. Berani taruhan, yg dilihat pertama pasti bukan handphonenya. Iklan balsem gosok dibintangi perempuan seksi yg mendesah2, iklan mie instant super pedas yg menganalogikan cabe dgn tubuh perempuan seksi. Mention it!!! Ada puluhan bahkan ratusan. belum lagi sinetron dan opera sabun.
Lalu salah siapa ini semua? Tidakkah perempuan ikut membangun budaya itu? Perempuan juga lah yg mengizinkan orang lain untuk menilainya hanya sebagai seonggok daging yg berbentuk. Perempuanlah yg berlomba untuk memperbaiki fisik dari hari ke hari tanpa pernah mendandani jiwa.
Ini menggelisahkan karena semua orang terkontaminasi bahkan seorang gadis lucu berumur 10 tahun yg minta tolong sama mamanya untuk mencukur alis karena alisnya tidak sebagus sang kakak (yg punya alis semut beriring dgn bulu mata keriting seperti dessi bebek hasil metamorfosanya di salon)
Ini mengkhawatirkan. Jelas benar2 mengkhawatirkan. Karena aku pun takut terkontaminasi !!!
Dan catatan ini takkan pernah selesai.