Pages

29 November 2007

Rumah Tumbuh : Kau Tumbuhkan Rinduku


Iseng2 gak ada bacaan, aku -yg selalu butuh buku untuk menghabiskan akhir pekan- minjam sebuah buku di bacakata (hee,promo ni gaek, ntar diskon yak). nanya2 buku apa yg ringan, sang empunya menyodorkan sebuah novel remaja, pemenang pertama sayembara novel remaja tahun 2005. judulnya Rumah Tumbuh.
(Tidak. Kita tidak akan ngebahas tu novel, aku jg ga ingin ngereview)
tapi, benaran, sumpah demi, aku gak berhenti baca sampe abis, yg berarti tidur jam 2 dini hari. bukan karena novelnya yg bikin penasaran, tapi karena settingnya, yg ngingetin aku dengan "petualangan" ku pada pertengahan 2006 lalu.

Banjarmasin, Sungai Martapura, Amuntai, Danau Panggang, Desa Paminggir dan sikecil Baihaqi ( bocah pedalaman Kalimantan yg kupeluk itu, yg bahkan belum mengerti dengan bahasa Indonesia)
Yup, setting di novel Rumah Tumbuh itu yg " So Banjar" karena penulis menghabiskan perempat abad hidupnya di propinsi tempat Ian Kasela berasal ini benar2 menggambarkan bagaimana bepergian dengan kelotok perahu kayu bermesin dan dengan jukung yg hanya didayung dgn pendayung manual.
Farah Hidayati, sang penulis juga dengan gamblang menggambarkan bagaimana keadaan sungai2 di kalimantan ( selatan) yg kotor dengan air keruh, lengkap dengan rumah dan sekolah terapung dan warga yg membuang segalanya ke sungai tapi menjadikan lagi airnya untuk minum,mandi dan mencuci.
Itulah, Banjar, atau lebih tepatnya desa yg kukunjungi, Desa Paminggir, daerah air yang justru kekurangan air bersih. Masalahnya begitu rumit, kebiasaan jelek masyarakat, limbah industri, polusi penambangan, dan bahkan ilegal logging menjadikan sungai tak ubahnya aliran kopi Lampung : hitam pekat dan penuh ampas.
Tapi abaikan dulu soal pemerintah yg entah tidak cepat tanggap atau apa, Banjarmasin dan Kalimantan Selatan umumnya, adalah negeri yg tak akan rugi dikunjungi. Jangan pikirkan wisata keindahan, tapi pikirkan wisata psikis yg akan mengajak kita merenungi hidup. Duduk di atas kelotok yg berjalan membelah sungai, akan membuat kita sadar bahwa hidup tak hanya tentang merek handphone dan fashion terbaru. Tinggal beberapa hari di atas rumah terapung dengan air sepanjang mata memandang akan membuat kita bercermin, bahwa untuk bahagia tak hanya dengan jadi selebritis, atau duduk di mobil dengan plat nama kita, atau siaran di radio paling ngetop di kota ini dan punya banyak fans, atau , atau , atau lainnya.
Coba bayangkan jadi Baihaqi kecil yg hidup di desa Paminggir yg di sana hanya ada SD. jika nanti ia ingin melanjutkan ke SMP, ia harus ke kota kecamatan yg harus ia tempuh dengan kelotok selama 2 jam, itu pun harus berangkat jam 7 pagi, karena lewat dari itu, angkutan sungai satu2nya akan tetap ke dermaga tanpa dia, dan itu berarti ia harus mendayung jukung dengan dua tangannya yg mungil.

Ah, Paminggir, dengan segala kesederhanaanya yg mempesona, tidak terusik MTV music award dan Film Jakarta Undercover, tapi harus juga ikut merasakan Global Warming. ingin hati mengunjungimu sekali lagi, tidak dengan keluguan ade yg dulu yg terlalu kaget membayangkan tinggal di atas air sepanjang hari (hidup).
Seseorang, jika membaca posting ini, mengenal bocah kecil yg kupeluk itu, ia bernama Baihaqi dan tinggal di Desa Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan, tolong sampaikan salamku padanya. Katakan, bahwa ia harus menatap masa depan sejernih binar matanya menerima tamu dari Padang.