Pages

26 November 2007

Rahasia Meede


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:E.S Ito
Pertama liat buku ini sekitar pertengahan september, di toko buku dan disegel. Saya baca bagian belakangnya saja, terhenti pada komen seorang pakar essay : "Pram muda telah lahir"
What? Pram Muda? Pramudia Ananta tur kah maksudnya? Sang jenius itu punya titisan bernama E.S Ito? Tidakkah ini propaganda supaya bukunya laku? Beberapakali saya beli buku hanya karena komentar pakar di belakangnya dan ternyata saya kecewa, bahkan kritikus yang dikenal ampuh pun terkadang punya semacam "deal" dengan penulis. Ketika buku penulis tersebut dibumbui komentar si pakar, maka itu akan ikut membantu mendongkrak penjualan. Tapi saya tidak mau berprasangka soal ini.

Begitu ngebaca sinopsisnya, mau gak mau, kembali berprasangka (sok) kritis: fiksi sejarah toh. Kok belakangan, semua penulis berlomba2 ya, mengangkat fakta2 sejarah yg selama ini terlupakan, jadi sebuah fiksi suspense dan itu dianggap sesuatu yg cool.

Lihat saja, belakangan aliran Dan Brown meraja di blantika fiksi internasional, tak ketinggalan Indonesia. Padahal dulu, tahun 2003 saya pernah baca novel Eliza Vitri handayani yang berjudul AREA X. Bagi saya itu science fiction yang hebat, suspensenya menarik untuk ukuran penulis Indonesia. Muda pula, cewek pula. Tambah Plus.
Tapi sepertinya buku itu luput dari mata pencinta fiksi. Saya berpikir mungkin ini selera pasar dan sayalah yang punya selera aneh.
Maka wajar rasanya, saya tidak respek sama Rahasia Meede pertama kali. Tidak saya beli, padahal ada indikasi dia akan jadi best seller. Toh saya pikir, ini hanya trend fiksi.

Lalu, ada sebuah event diadakan. Padang Book Fair. Selain pameran buku, ada juga acara bedah bukunya. Yang datang ES Ito dam Habiburrahman El Shirazy.
Saya mendengar bahwa Ito datang ke Padang sekalian pulang kampung. Urang Awak ternyata. Saya penasaran. Saya ikuti bedah bukunya. Dan kembali berbagai pujian saya dengar. Saya hanya mengucapkan selamat pada Uda Ito. Di depan forum saya akui bahwa saya belum membaca bukunya, saya sampaikan juga keraguan saya, apakah ini sebuah kelatahan dari trend fiksi baru.
Saya tidak sendiri ternyata. banyak hadirin yang hadir juga meragukan apakah novel ini bisa memberi tawaran bacaan baru dunia fiksi Indonesia.
Sang penulis hanya punya kesempatan bicara satu kali, di akhir sesi. Suaranya bergetar, bukan karena takut saya pikir, lebih karena semangat yang menggebu. Dia bilang dia tak peduli dengan Dan Brown, dia hanya ingin membengkokkan peradaban. Saya terpana, jawaban hebat dari orang cerdas. Itu sudah jaminan bahwa karyanya adalah karya cerdas.
Tanpa menunggu lagi, bukunya segera saya beli dan tanpa berhenti sebelum selesai saya kunyah halaman demi halaman.
Luar biasa. Cerdas. Memukau. Tidak terduga. Akhirnya saya copy paste komentar pakar di bagian belakang novelnya.
Novel kedua Uda Ito ini (wah, saya bahkan belum baca yg pertama) adalah novel cerdas yang diawali riset ilmiah. Fakta yang dia sampaikan dalam jalinan fiksi beberapa di antarnya pernah saya baca. Plot kombinasinya membuat saya tidak berhenti sampai halaman terakhir. begitu juga dengan fakta-fakta baru yang dia suguhkan, membuat saya bertanya : ini data atau fiksi?
Kita akan diajak berburu harta karun VOC secara cerdas. karakter tokohnya pun kuat, dibangun dengan kekhasan masing-masing. Settingnya membuat kita semakin cinta akan negeri ini. Saya iri pada sang penulis yang telah 'berwisata' kemana-mana untuk menulis novelnya. Tidak sia-sia, bukan?
Saya ternyata salah besar. Ini bukanlah trend sastra. Hanya saja, Rahasia Meede terbit pada saat semua orang menulis fiksi sejarah.

Bacalah! Jika anda tidak suka sejarah, anda akan berubah begitu membaca novel ini. ES Ito, berhasil menyulap sejarah, dari kumpulan angka membosankan menjadi intrik kehidupan manusia.

Dan jika sebuah penilaian harus mengevaluasi, maka saya sebagai pembaca hanya terganggu dengan ritual mengeluarkan angka-angka dari sebuah pohon di mentawai. Juga potongan kertas gambar tato Mentawai. Saya berharap ada kode rahasia yang akan diungkap dalam gambar tato itu, tapi ternyata uda Ito hanya menjadikannya aksesoris dalam novelnya.