Pages

25 September 2006

Menyapamu

Halo kamu
Kamu yang dulu pernah menulis
"kamu itu senyum hangat menyebalkan, greget dan cinta"
apa kabar kamu?
Masih pesimis kah dengan hidupmu yang sebenarnya sempurna?

Halo kamu
Hidupku tak berubah banyak
Hanya kadang ketika beban ini terlalu berat
Aku teringat kamu.
Karena namamu adalah perjuangan bagiku
Dan kita adalah jalinan usaha dan doa yang akhirnya sia-sia

Halo kamu
Aku hanya ingin menyapamu
Tanpa maksud mengganggu
Apalagi mengulang cerita dulu
Aku masih berdoa, untuk segala hal yang Tuhan beri untukmu
Agar itu selalu yang terbaik dan terindah
Karena kamu pantas mendapatkannya.

Halo kamu
Ini harimu, berbahagialah!!!

22 September 2006

Langitnya langit

Kalau bertemu dengan orang keren, prestasi segudang, punya banyak kegiatan, banyak teman, full of social activities, punya network bgus, dan segudang kelebihan lainnya, tentu kesan pertama yang muncul adalah kekaguman. Dan entah kenapa kekaguman itu seketika ambruk saat melihat orang tersebut sombong, congkak, pongah dan arogan.
Kesombongan modern yang telihat saat ini, tidak lagi dilihatkan dengan begitu gamblang. Pamer, merendahkan orang, mengelu-elukan diri sendiri atau yang sejenis. Tidak, tidak lagi seperti itu. Its so old fashion. Kesombongan orang-orang 'hebat' sekarang tersembunyi dalam bahasa yg halus, kelihaian komunikasi, bahkan pencitraan yang bermutu. Tak jarang ia merasa orang lainlah yang sombong karena menurutnya orang lain yang 'tidak seberapa' berkoar lebih daripada dirinya sendiri yang menurutnya jelas 'seberapa'. Inilah kesombongan masa kini :))m
Kalau dilihat lagi lebih dalam, apa yang perlu disombongkan? Mungkin kita sering mendengar pepatah di atas langit masih ada langit, bukan? Masih banyak yang jauh lebih hebat dan lebih keren daripada kita. Terkadang 'big thing' yang kita gembar-gemborkan adalah hal biasa bagi orang lain. Atau ketika kita berkoar tentang sesuatu hal, bisa jadi orang lain telah selesai dengan hal tersebut. Sehebat-hebatnya kita, akan selalu ada langit di atas kita. Bahkan langit sendiri pun punya langit yang mengingatkan ia masih di bawah, belum seberapa, belum apa-apa.
Coba bayangkan, mahasiswa hukum yg berkoar di kantin kampus tentang kasus terbaru. Seorang mahasiswa teknik yang paham kasus yang sama dengan sama baiknya akan menertawakan. Lulusan bahasa inggris yang berniat pamer kebolehannya di angkutan umum dengan teman bicaranya sesama mahasiswa, mahasiswa kedokteran yang juga lancar berbahasa inggris akan tersenyum miris. Seperti itulah konteks langitnya langit. Wajar jika mahasiswa hukum paham kasus-kasus, lumrah mahasiswa bahasa inggris lancar bicara inggris, mereka tak perlu pongah, karena masih banyak langit-langit di atas mereka.